Riau, Channelsatu.com – Inovasi pemantauan tinggi muka air gambut berbasis Internet of Things (IoT) bernama Peatronics IoT menjadi sorotan terbesar dalam gelaran Siak Innovation Challenge 2025 di Gedung Kesenian Siak. Sistem yang dikembangkan tiga mahasiswa Politeknik Caltex Riau—Aris Saputra Pasaribu, Artika Azzarah Ahmad, dan Amanda Putri Kinanti—dinilai sebagai lompatan baru untuk mitigasi kebakaran gambut yang selama satu dekade terakhir menjadi ancaman ekologis di wilayah tersebut. Keunggulannya terletak pada pemantauan real-time, jangkauan sinyal yang sangat jauh, serta kemampuannya mengirim data secara hemat energi menggunakan jaringan LoRa.
Peatronics IoT bekerja dengan memanfaatkan sensor ketinggian air yang terpasang di lahan gambut, lalu mengirimkan hasil pengukuran secara berkala ke dashboard berbasis web. Dalam dashboard tersebut, status gambut dapat langsung terbaca: aman, waspada, atau kering. Jika permukaan air turun di bawah batas aman, sistem memicu peringatan dini agar masyarakat dan petugas teknis dapat bergerak cepat. Bagi para pemerhati lingkungan, pendekatan ini dianggap sebagai solusi modern yang menghadirkan pemantauan berbasis data dan bukan sekadar observasi manual.
Aris Saputra Pasaribu menyebut ide ini muncul dari pengalaman Kabupaten Siak menghadapi kebakaran besar pada 2014. Kekeringan gambut terjadi secara cepat dan sulit terpantau tanpa teknologi, sehingga perangkat seperti Peatronics diyakini mampu menjadi garda awal pencegahan bencana. Lebih dari 57% wilayah Siak merupakan lahan gambut, dengan 21% berada pada kategori gambut dalam yang menyimpan cadangan karbon besar. Artinya, kebakaran bukan hanya mengancam warga, tetapi juga memperburuk emisi karbon secara signifikan.
Artika Azzarah Ahmad menyampaikan rasa syukurnya karena riset yang mereka bangun dari ruang laboratorium kampus akhirnya mendapat pengakuan dalam kompetisi resmi daerah. Ia berharap teknologi ini dapat diperluas, baik melalui dukungan pemerintah daerah, kolaborasi penelitian, maupun pilot project di desa-desa yang paling dekat dengan kawasan gambut. Menurutnya, potensi dampaknya sangat besar, mulai dari penyelamatan ekosistem gambut hingga pengurangan risiko bencana yang merugikan ekonomi masyarakat.
Festival Inovasi Lestari 2025 yang menjadi payung acara ini mempertemukan inovator, akademisi, komunitas, pemerintah daerah, UMKM, hingga pelaku industri kreatif yang turut membentuk ekosistem pembangunan hijau Siak. Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, dalam sambutannya menegaskan bahwa teknologi seperti Peatronics adalah solusi yang dibutuhkan untuk mewujudkan Siak sebagai kabupaten hijau yang tangguh dan berdaya saing. Pihak Bapperida Siak juga mengapresiasi semangat para inovator muda untuk terus memberi kontribusi nyata bagi bumi.
Dari 94 ide yang masuk tahap kurasi awal, hanya 10 yang berhasil mempresentasikan inovasinya di hadapan lebih dari 30 mitra potensial. Dalam sesi inilah Peatronics memikat panel juri karena kematangan riset, kejelasan model penggunaan, serta peluang implementasi jangka panjang. Sistem ini dinilai sebagai fondasi penting bagi tata kelola gambut yang lebih cerdas, efisien, dan mudah diadopsi.
Komunitas lokal seperti Haha Hihi Media dan Exploresiak turut menyebarkan informasi mengenai inovasi ini melalui kanal digital mereka. Dukungan dari komunitas muda telah menciptakan jembatan penting antara inovator kampus dan masyarakat luas, sehingga wacana pemantauan gambut tak lagi dianggap isu teknis tetapi bagian dari gaya hidup ekologis baru yang tumbuh di Siak. Di sisi lain, SKELAS sebagai pusat kreatif UMKM mendorong integrasi teknologi lingkungan dalam program-program pendampingan bisnis.
Perhatian publik terhadap Peatronics IoT menunjukkan bahwa masa depan lingkungan tak bisa dilepaskan dari revolusi data dan internet. Sistem yang dikembangkan anak-anak muda ini menjadi bukti bahwa teknologi yang murah, efisien, dan dirancang sesuai kebutuhan lokal dapat memberikan dampak besar untuk keberlanjutan. Dengan semakin meluasnya gerakan kolaboratif di Siak, Peatronics berpotensi menjadi contoh implementasi IoT lingkungan yang dapat direplikasi ke berbagai wilayah gambut Indonesia. ich
