Pekalongan, Channelsatu.com – Rilisan album perdana “RESONANSI” menandai sebuah pengakuan artistik dari PARA•DIKSI, band alternative pop asal Pekalongan yang kini naik daun berkat keberanian mereka menjadikan musik sebagai medium pengobatan diri. Album yang dirilis pada 30 September 2025 itu mengajak pendengar masuk ke ruang paling personal para personelnya, menghadirkan cerita-cerita yang dibungkus dengan soundscape bernuansa britpop, j-pop, alternative rock, dan alternative pop.
Sembilan lagu yang disajikan PARA•DIKSI bukan sekadar komposisi, tetapi refleksi kehidupan yang memuat kegelisahan tentang kesehatan mental, keraguan diri, dan upaya untuk tetap percaya pada perjalanan hidup. Dari Run-Away yang mengangkat tema pelarian emosional hingga KAU yang berperan sebagai epilog tenang, album ini penuh narasi yang tidak hanya jujur, tetapi juga relevan bagi generasi muda.
Menariknya, lagu MANUSIA yang sebelumnya hanya hadir sebagai single berdurasi pendek kini diperluas menjadi versi penuh lengkap dengan monolog pembuka karya Upi. Pendekatan ini memberi kedalaman emosional baru yang membuat lagu tersebut terasa lebih kuat sebagai representasi pencarian makna diri.
Kolaborasi dengan musisi muda seperti Aldino Gabriele, M. Fattah, Faza Zidna, dan Upi juga menambahkan lapisan harmoni yang tidak berlebihan namun memperkaya tekstur musik. PARA•DIKSI ingin setiap trek terasa seperti percakapan—baik dengan diri sendiri maupun dengan semesta—dan kolaborasi itu membantu membawa energi hidup dalam proses tersebut.
Side A album berfungsi sebagai perjalanan awal yang lebih gelap dan reflektif, dimulai dari PROLOG hingga MANUSIA. Sementara Side B menghadirkan perspektif yang lebih dewasa dan optimistis lewat STAY dan DON’T, sebelum akhirnya ditutup oleh KAU sebagai epilog yang menenangkan sekaligus penuh pemaknaan.
Penggarapan album yang memakan waktu 3,5 tahun dilakukan dengan kehati-hatian tinggi. PARA•DIKSI dan Jangky Dausath memastikan bahwa setiap dinamika vokal, setiap distorsi gitar, hingga setiap warna harmoni ditempatkan pada posisi terbaiknya untuk mendukung cerita yang ingin disampaikan.
Kekuatan “RESONANSI” tidak hanya terletak pada musiknya, melainkan juga narasi konseptual yang menjadikannya satu kesatuan cerita. PARA•DIKSI berhasil menyatukan lirik, komposisi, dan visi artistik menjadi pengalaman mendengarkan yang utuh, membuat album ini terasa seperti jurnal perjalanan batin.
Lewat album ini, PARA•DIKSI tidak hanya memperkenalkan diri sebagai band alternatif baru, tetapi juga sebagai penutur cerita yang peka terhadap isu mental dan spiritual. Dengan rilis ini, mereka membuka ruang baru dalam skena musik indie Indonesia yang semakin variatif. ich
