Mewzig Dorong Musisi Tak Sekadar Andalkan AI, Sentuhan Manusia Jadi Penentu Karakter Musik

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Perkembangan artificial intelligence (AI) di industri musik membuat proses menciptakan lagu semakin mudah dan cepat. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan baru, terutama bagaimana membuat karya berbasis AI tetap memiliki karakter dan sentuhan artistik manusia.

Melihat perubahan tersebut, Mewzig hadir dengan pendekatan yang menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam proses produksi musik. Berbasis di Bintaro, Indonesia, Mewzig mengusung slogan “The Humanizer of AI Music” dengan fokus mengolah ide musik yang dihasilkan AI menjadi karya yang lebih matang dan siap dirilis.

Mewzig didirikan oleh Rucky Markiano yang melihat AI bukan sebagai pengganti musisi maupun produser, melainkan sebagai teknologi yang dapat membantu mempercepat proses penciptaan ide. Setelah sebuah draft lagu terbentuk melalui platform seperti Suno maupun generator musik AI lainnya, proses kreatif kemudian dilanjutkan dengan sentuhan manusia.

- Advertisement -

Menurut Rucky, perkembangan teknologi seharusnya tidak membuat identitas manusia dalam musik menghilang. “AI bisa memulai sebuah lagu. Hanya manusia yang memberinya jiwa,” ujar Rucky.

Konsep tersebut diterapkan Mewzig melalui sejumlah tahapan produksi, mulai dari penyempurnaan aransemen, penggunaan instrumen nyata, pengisian vokal profesional maupun session vocalist, hingga proses mixing dan mastering.

Dengan proses tersebut, materi yang sebelumnya masih berupa draft AI dapat dikembangkan menjadi musik yang lebih siap didengarkan dan didistribusikan ke berbagai platform digital seperti Spotify, Apple Music dan layanan musik lainnya.

Mewzig juga tidak hanya menangani produksi lagu. Layanannya mencakup pembuatan jingle dan sonic identity untuk brand, custom music, sound effects (SFX), scoring untuk film dan video, hingga pembuatan lagu sesuai kebutuhan klien.

- Advertisement -

Di tengah perubahan pola produksi musik, Mewzig melihat perpaduan teknologi dan kreativitas manusia sebagai ruang baru yang masih sangat terbuka. AI memberikan kecepatan dalam mengeksplorasi gagasan, sementara manusia berperan dalam menentukan arah artistik, emosi, karakter serta kualitas akhir sebuah karya.

“Teknologi akan terus berubah, tetapi identitas dan karakter artistik manusia harus tetap ada,” kata Rucky.

Melalui pendekatan tersebut, Mewzig ingin menunjukkan bahwa musik berbasis AI tidak harus berhenti sebagai produk yang dibuat secara instan. Dengan proses produksi yang tepat, teknologi dapat menjadi titik awal untuk melahirkan karya yang tetap memiliki karakter, emosi dan identitas manusia.

Bagi Mewzig, perpaduan tersebut menjadi bagian dari cara baru melihat masa depan industri musik: AI mempercepat lahirnya ide, sementara manusia menyempurnakannya hingga menjadi musik yang bukan sekadar terdengar, tetapi memiliki jiwa. ich

Read more

NEWS