Laporan IAS: Waktu Tayang Iklan di Indonesia Tertinggi di Asia Pasifik

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Industri periklanan digital Indonesia mencatat kabar baik dan catatan penting sekaligus dalam laporan tahunan terbaru dari Integral Ad Science (IAS). Dalam Media Quality Report (MQR) edisi ke-20, Indonesia menempati posisi teratas dalam hal keamanan digital dari penipuan iklan (ad fraud). Namun, di sisi lain, konten berisiko seperti kekerasan dan ujaran kebencian menunjukkan tren peningkatan yang perlu diwaspadai oleh para pengiklan dan penerbit lokal.

Media Quality Report 2024 yang dirilis IAS merangkum wawasan dari lebih dari 280 miliar interaksi digital harian di seluruh dunia. Laporan ini menjadi salah satu acuan utama dalam menilai efektivitas dan keamanan kampanye iklan digital, terutama di era ketika pemanfaatan AI dan programmatic ads semakin luas. Temuan tahun ini menunjukkan bahwa strategi optimisasi digital berperan krusial dalam menekan tingkat penipuan iklan dan menjaga keberlangsungan brand di ruang publik maya.

Secara global, kampanye iklan yang tidak dioptimalkan mencatat tingkat fraud hingga 10,9%, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Sebaliknya, kampanye dengan teknologi anti-fraud hanya mencatat 0,7%, menandakan efektivitas mitigasi risiko. Indonesia bahkan melampaui rata-rata ini, dengan hanya 0,6% tingkat penipuan untuk desktop display dan 0,1% di mobile web, menjadikannya salah satu negara dengan performa ad safety terbaik di dunia.

- Advertisement -

Tak hanya aman dari fraud, iklan digital di Indonesia juga menunjukkan performa tinggi dari sisi viewability dan engagement. Tingkat viewability untuk mobile app display mencapai 86,4%, termasuk tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Sementara time-in-view di Indonesia memecahkan rekor, dengan 31,13 detik untuk desktop display dan 26,49 detik untuk mobile web, jauh di atas rata-rata global.

Namun, ancaman terhadap brand safety tetap menjadi perhatian serius. Risiko konten kekerasan di Indonesia meningkat drastis, dari sebelumnya 43% menjadi 62,2% pada 2024, terutama di ranah desktop display. Hal ini berpotensi mengganggu reputasi merek jika iklan muncul bersisian dengan konten yang tidak sesuai. IAS menyarankan penggunaan brand suitability tools secara aktif, terutama menjelang momen politik dan peristiwa sosial penting.

Menurut Lisa Utzschneider, CEO IAS, kompleksitas lanskap digital saat ini menuntut pendekatan yang lebih presisi dan terukur. “Media berkualitas tinggi adalah pondasi keberhasilan kampanye digital. Tanpa strategi yang jelas, pengiklan berisiko terjerat konten berbahaya dan penipuan,” ujarnya.

Di tingkat Asia Pasifik, Indonesia menjadi benchmark baru dalam praktik pengukuran media digital yang sehat. Negara ini mengungguli rata-rata kawasan dalam banyak aspek teknis, dari sisi teknologi anti-fraud hingga keterlibatan pengguna. Kondisi ini membuka peluang bagi pengiklan global untuk lebih percaya diri berinvestasi dalam pasar digital Indonesia.

- Advertisement -

Dengan tren iklan yang semakin bergeser ke metrik attention, bukan sekadar impression atau viewability, laporan IAS ini menjadi sinyal penting bagi pengiklan di Tanah Air. Adaptasi terhadap perubahan ini—melalui inovasi teknologi, kecermatan konten, dan pemilihan media yang tepat—akan menjadi kunci memenangkan perhatian konsumen Indonesia yang makin selektif. ich

Read more

NEWS