KULINER DI YOGYAKARTA TERMURAH SEDUNIA

Share

Yogyakarta,channelsatucom: Selain seni budaya, tempat bersejarah, serta keindahan alam, bisa jadi kuliner menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke Yogyakarta. Bagi saya Yogyakarta tidak sekadar kota yang penuh menorehkan kenangan.  Juga merupakan kota yang selalu membuat saya kangen. 

 

Saya betah dan membikin kerasan. Entah kenapa, mungkin karena kunonya atau lantaran masyarakatnya yang masih menjaga sikap konservatif, walaupun kini generasi mudanya sering kali berpolah menerabas, tak mengikuti aturan atau karena feodalnya. Sekali lagi entahlah, kenapa saya demikian saya mencintai Yogyakarta.

- Advertisement -

Sebenarnya kota Yogyakarta memiliki nafas budaya yang  khas, tentu tidak dipunyai daerah lain. Di luar, Yogyakarta  yang tenang dan tenteram, tetapi di dalam tidaklah  diingkari  menyimpan gejolak. Itulah suatu dinamika. Hanya saja gejolak itu kerap tertutupi, sehingga seperti air mengalir yang akhirnya menjadi tenang kembali.

Banyak yang mengetahui Yogyakarta adalah kota pelajar. Serta merta, salah satu kota yang paling favorit untuk tujuan wisata di negeri ini. Sebagai kota pelajar, pastilah Yogyakarta memberikan sesuatu yang  mampu menciptakan  keteduhan untuk belajar.

- Advertisement -

Kiranya pula bagi wisatawan, Yogyakarta juga menawarkan hal yang sama dalam perihal kenyamanan. Paling tidak wisatawan bisa leluasa menikmati nafas budaya yang sungguh merakyat. Jika Anda berkunjung ke Yogyakarta, untuk kesekian kali, rasakan dan hiruplah situasi merakyat itu. Juga gerak gerik alon alon asal kelakon. Pelan–pelan asal kesampaian.

Situasi itupun  juga bisa Anda rasakan  tatkala menikmati wisata kuliner. Coba Anda bertandang ke Warung Lesehan  atau menyantap Sego alias Nasi Kucing yang banyak dijajakan di kedai kaki lima sepanjang Jalan Malioboro, jalan utama dan populer di Yogyakarta maupun di Indonesia.

Dibilang Sego Kucing, hanyalah istilah, lantaran  porsi nasinya segenggam tangan dan saat makan pada nangkring, kakinya diangkat, ditaruh di bangku panjang, sementara tangan kanan memegang bungkusan berisi lauk dan nasi, sedangkan tangan kiri  digunakan untuk menyantap makanan yang tak ubahnya seekor  kucing.

Karena harganya terjangkau kantong pelajar, maka Sego Kucing  menjadi pilihan. Perkara harga, di Yogyakarta, banyak  penjual makanan murah. Harganya sangat ekonomis. Bahkan bisa disebutkan termurah di dunia. Makanan standar sarapan pagi seperti nasi gudeg, sayur krecek plus telur bulat, menu ini banyak disajikan di pinggiran ruas jalan hanya dipatok lima ribu rupiah.

Memang tidak cuma murah, tapi sajian menu semacam itu lezat dinikmati, serta jelas bergizi. Standar sarapan pagi, setidaknya cukup lima ribu rupiah. Harga bubur ayam ataupun sejenisnya yang cocok untuk pengisi perut pada saat beraktivitas malah  tiga ribu sampai Rp 4.000,- satu porsi.

Untuk menu makan siang pun banyak makanan yang dijajakan di warung-warung dengan harga pelajar atau yang dikenal sebagai paket hemat.  Soto ayam kampung campur nasi  Rp 6.000 perporsi dan ini bisa didapat di tempat restro terkenal, yaitu di rumah makan so Pak Goreng, di kawasan jalan Hayam Wuruk. Bahkan di ruang jalan yang sama, untuk makan siang, ada kedai sate  ayam enak sekali yang dipatok  Ro. 15.000 perporsi.

Lantas  harga nasi gudeg kisaran lima ribu rupiah, dan  nasi pecel yang padat dengan sayuran, banyak dijajakan di emperan Malioboro, Rp. 700 rupiah. Terus makanan lotek, semacam gado-gado, dengan harga lima ribu rupiah. Sementara harga makanan  cepat saji yang mirip restro top asal Amerika Serikat, dibandrol  Rp. 5.000. –

Makanan cepat saji  ini terdiri nasi dan paha ayam goreng tepung crispy dan ditambah teh manis. Jika Anda  makan dengan lauk paham ayam jumbo, plus nasih serta es teh manis Rp 8. 000,-. Restro cepat saji ala restro kondang Amerika Serikat  ini  tempatnya secara umum bersih. Begitupun pelayanannya profesional. Seperti yang diamati ChannelSatu. com saat makan siang di restro Olive yang berlokasi di jalan kecil, bilangan jalan Kaliurang.

Warung cepat saji Olive ramai dikunjungi mahasiswa, benar-benar hiruk pikuk. Maklum Olive identitik tempat nongkrongnya remaja kos-kosan. “Tiap hari saya makan di sini. Kalau pas bareng dengan teman sefakultas kumpul di sini, bisa dua kali, “ tutur Kiki Setiawan mahasiswa Teknik Elektro dan Informasi Universitas Gajah Mada.

Singkat kata kota Yogyakarta surga kuliner. Beraneka ragam makanan, serta berbagai jenis menu dijajakan. Tidak dipungkiri kuliner Yogyakarta juga memiliki citarasa yang khas, sedikit manis. Dan yang harus digarisbawahi bahwa harga makanan secara umum paling murah di dunia. Buktikan sendiri. Coba  Anda blusukan berwisata kuliner di kota istiwewa itu, ditanggung  kantong saku tidak jebol. (Syamsuddin SNM) Foto: Ilustrasi.

 

Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS