Channelsatu.com, Jakarta – Ksatria Fest 3.0 dinilai menjadi salah satu cara generasi muda Indonesia untuk melawan sejumlah tantangan zaman terutama di sektor budaya dan tari. Pandangan ini diungkapkan oleh Perwakilan Dewan Juri Ksatria Fest 3.0, Siko Setyanto.
Menurut Siko, konsistensi dan kreativitas serta keterlibatan generasi muda dalam menciptakan inovasi dalam berbudaya dan tarian daerah, merupakan cara jitu untuk bisa bersaing dengan banyaknya budaya luar.
“Tentu terus merangkul anak-anak muda terutama, untuk terus berkarya dan melihat tradisi itu tidak menjadi sesuatu yang mati, saling merangkul. Kita harus bersama-sama, Indonesia milik siapa pun semua berhak untuk melakukannya termasuk yang muda,” kata Siko dalam jumpa pers Ksatria Fest 3.0 yang digagas Swargaloka, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2026).
“Tanpa perlu mengkhawatirkan arus dari luar negeri ini, kita juga harus menjaga secara langsung, secara nyata bahwa kami pekerja seni di ruang tari, tetap melakukan mekanisme disiplin untuk terus menciptakan sesuatu hal yang kreatif dan membangun,” tambahnya.
Menurut penari dan koreografer kontemporer ini berharap agar 10 tahun ke depan bisa lahir figur muda yang memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan budaya dan tarian Indonesia.
“Jadi tidak hanya sekadar penarian, tapi kreatornya bahkan komposernya, artinya ekosistemnya terbangun. Bagaimana pertumbuhan ekosistem itu jadi penting, saya pikir saya sangat optimis bersama Satria Fest ini ke depannya akan tumbuh banyak personal-personal baru kita ini yang konsen terhadap perkembangan budaya dan tarian Indonesia,” ucap Siko.
Baca juga: Gesrek Festival 2025 Hadirkan Musik, Otomotif, dan Budaya Pop dalam Satu Panggung
Sementara Creative Director sekaligus inisiator Ksatria Fest, Bathara Saverigadi Dewandoro, peraih Gold Medal PON pada cabang Traditional Dance Sport, menjelaskan dari sudut pandang generasi muda khususnya Gen Z. Menurut Bathara, generasi muda harus hadir memunculkan potensinya masing-masing, salah satunya di bidang tari tradisional dan pop modern.
“Sudah banyak nih kita lihat seperti lomba tari, apa yang menjadi urgensi untuk menghadirkan beberapa gerakan. Karena memang kami merasa bahwa banyak ide kreatif yang harus diwadahi,” ucap Bathara.

Diakui Bathara program Indonesia Mencari Bakat pada tahun 2021 dan 2022 menjadi momentum dirinya dan teman lainnya untuk menyebarluaskan tentang kreativitas dalam seni tari.
“Kami berkompetisi di TV nasional, di sana kami semacam bersekolah dan melihat bahwa antara tradisi dan seni-seni populer itu ternyata seru. Jadi kemudian akhirnya kami berpikir bagaimana nilai tradisi itu bisa sampai kepada ranah industri pop itu dan akhirnya dari situlah pusatnya lahir ada satu istilah yang kami sudah kembangkan tahun itu namanya tari tradipop,” jelas Bathara.
“Untuk melihat tradisi sebagai gerbang pembuka bagi orang-orang awam terutama untuk melihat kekayaan seni tradisi dengan cara yang dinamis dan juga dengan atraktif. Juga dengan sesuatu yang fresh setelah di pop ini kita tidak mau mematahkan batasan pop atau batasan tradisinya apa yang menjadi tren, apa yang menjadi highlight pada tahun tersebut dan itu bisa masuk ke dalam tradisi manapun,” sambung Bathara.
Tari Tradipop Indonesia, Sinergi Antara Budaya Daerah dan Modern
Munculnya istilah Tradipop Indonesia menjadi khazanah tersendiri dalam dunia budaya dan tari. Swargaloka yang merupakan organisasi seni yang berfokus pada pengembangan, pelestarian, dan inovasi seni pertunjukan di Indonesia memberi peranan penting terhadap berlangsungnya tradipop tersebut.
Hal ini diperlihatkan Swargaloka yang kembali menyelenggarakan Ksatria Fest 3.0, sebuah ajang kompetisi tari tradipop tingkat nasional yang mengedepankan sinergi antara nilai tradisi dan pendekatan populer dalam seni pertunjukan. Program ini diinisiasi oleh Kelompok Tari Ksatria, yang dikenal sebagai Juara 1 Indonesia Mencari Bakat tahun 2021.
Pada edisi sebelumnya, ajang ini berhasil melahirkan kelompok Silak dari Yogyakarta sebagai pemenang tahun 2022, serta Eyes On Us (EOU) dari Kalimantan Barat (Kalbar) sebagai pemenang tahun 2023.
Baca juga: Tren Stacking Jewelry: Cara Seru Anak Muda Ekspresikan Diri Lewat Tumpukan Perhiasan
Ksatria Fest 3.0 akan berlangsung pada 17 Juni hingga 4 Juli 2026 di sejumlah ruang seni terkemuka di Jakarta, antara lain Galeri Indonesia Kaya, Taman Ismail Marzuki, Teater Usmar Ismail, dan Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Penyelenggaraan tahun ini menjadi lebih istimewa karena bertepatan dengan perayaan 33 tahun Swargaloka, sehingga rangkaian kegiatan diperluas dengan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya kompetisi tetapi juga edukasi dan kolaborasi.
Creative Director sekaligus inisiator Ksatria Fest, Bathara Saverigadi Dewandoro, peraih Gold Medal PON pada cabang Traditional Dance Sport, menyampaikan bahwa Ksatria Fest tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi juga membangun identitas dan tanggung jawab bagi para pemenangnya.
“Para pemenang Ksatria Fest akan mendapatkan gelar kehormatan, yaitu Laskar Ksatria Tari Indonesia untuk kategori kelompok, Garda Ksatria Tari Indonesia untuk duet, dan Wira Ksatria Tari Indonesia untuk solo. Gelar ini bukan sekadar simbol, tetapi bentuk tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam perkembangan industri tari serta menginspirasi generasi berikutnya. Kami berharap para pemenang dapat menjadi figur idola baru dalam dunia tari Indonesia, dengan kualitas teknik sekaligus daya tarik yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujarnya.
Menurut Bathara, konsep tradipop lahir dari kebutuhan industri kreatif saat ini yang menuntut karya tari yang ringkas, kuat secara visual, dan mudah diakses tanpa kehilangan esensi budaya.
“Dalam banyak kebutuhan industri, seperti televisi atau media digital, tari tradisi sering kali dipotong secara tidak utuh karena keterbatasan durasi. Tradipop hadir sebagai jawaban, sebuah format tari yang sejak awal dirancang singkat, eye catching, dan memiliki kekuatan visual. Namun, posisinya bukan untuk menggantikan tradisi, melainkan sebagai pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya yang lebih dalam,” jelasnya.
Untuk diketahui, pendaftaran Laskar Ksatria Tari Indonesia telah dibuka mulai tanggal 10 April hingga 6 Juni 2026. Seluruh peserta telah mengirimkan karya mereka dalam bentuk video dan akan dikurasi oleh Tim Ksatria. Dari 38 Peserta pendaftar, telah terkurasi 15 kelompok tari dari berbagai daerah. Lokasi penyelenggaraan Lomba tersebut akan diadakan di Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 4 Juli 2026.
Ada 15 peserta yang lolos ke semifinal Laskar Ksatria Tari Indonesia, yakni Akusara Art (Surakarta), Soca Niskala Sunda (Bandung), Bejani Art and Dance Studio (Ponorogo), Sanggar Tari Sirih Besa (Batam), Centaurus (Sidoarjo), dan Arunika Dance Crew (Pontianak).
Kemudian Antari’kham (Lampung), Sanggar Seni Dharma Budaya (Pasuruan), Pancakusuma (Rumah Budaya Langen Kusuma) (Blitar), Ayu Langgeng Management (Lumajang), Efek Samping Jaipongan (Sukabumi), Sanggar Patih Gumantar (Mempawah), Sanggar Hulondhalangi Entertainment (Gurontalo), Terrafic (Yogyakarta), serta Pelita Budaya (Belitung). (M Fajardin)
