HAL YANG LUMRAH JIKA WARTAWAN MENGADAKAN FESTIVAL FILM

Share

Jakarta,channelsatu.com:Perlu dicatat tebal-tebal alias distabilo dengan warna kuning mencolok, sekaligus patut sekali diluruskan, adalah produser Djamaluddin Malik yang memprakarsai festival film pertama di Indonesia, tahun 1955. Festival bersifat kompetitif ini sepenuhnya diongkosi seratus persen secara ikhlas oleh salah satu tokoh perfilman nasional, selain Usmar Ismail.

Bahwa kemudian Usmar Ismail juga terlibat dalam penyelenggaraan festival film pertama, lantaran memang kedua tokoh perfilman itu sudah menjalin persahabatan secara erat. Mereka berdua saling ingin memajukan perfilman Indonesia ke forum internasional. Dan harap dicatat pula,  Usmar Ismail adalah wartawan, yang tulisannya mengenai dunia film begitu berbobot dan menukik

Pada sisi inilah, konstribusi wartawan terhadap festival film pertama di Indonesia (1955) mulai terasa, mengingat hubungan Djamaluddin Malik dengan Usmar Ismail susah untuk dipisahkan, walau mereka berdua mempunyai perbedaan tajam. Sebagaimana seorang produser yang mempunyai intuisi pasar sangat kuat dengan seorang kritikus yang juga sutradara bervisi idealis.

- Advertisement -

Sesungguhnya tidak ada masalah jika wartawan mengadakan festival film, termasuk pada festival film pertama tahun 1955. Justru wartawan saling menopang festival itu. Segala kegiatan festival tahun 1955 diberitakan luas serta diketengahkan lugas. Masyarakat mengetahui ada kegiatan festival serta terapresiasi bahwa film Indonesia tidak kalah baiknya dengan film asing.

Sejarah film dunia mencatat, betapa wartawan memiliki andil dalam festival film. Pemilihan Oscar  yang dimotori para produser, dan tergolong festival film tertua di dunia (1927-1928)  menjalin kerjasama dengan wartawan, yang akhirnya membiarkan wartawan mengadakan pemilihan sendiri. Termasuk Golden Globe yang dibagikan Persatuan Pers Asing di Hollywood mulai 1945. New York Film Critics, komunitas kritik film New York- melakukan hal yang sama, mengadakan pemilihan  sejak tahun 1935.

Bagaimana di Indonesia?  Pada tahun 1970 terjadi perpecahan dalam organisasi wartawan. Ada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Pimpinan B.M Diah dan ada PWI Pusat Pimpinan Rosihan Anwar.  Ternyata pimpinan Rosihan Anwar banyak pendukung. Termasuk PWI Jakarta yang dipimpin Harmoko dan Zulharmans. PWI Jaya ini bikin bermacam kegiatan, antara lain pemilihan Best Actor & Best Actress dari tahun 1970-1971 hingga 1974-1975.

Pemilihan Best Actor & Best Actress oleh wartawan film Jakarta, Seksi Film PWI Jaya yang dimulai 1970-1971 ini mendahului Festival Film Indonesia (FFI) yang baru dimulai pada 1973 yang dikelola Yayasan Nasional Film Indonesia dan mendapat dukungan Departemen Penerangan (Deppen) ketika itu, tidak lain adalah institusi pembina perfilman nasional.

- Advertisement -

Lonjakan produksi yang mendorong orang film bikin festival. Jumlah produksi tahun 1972 sebanyak 50 judul film, tahun 1973 diproduksi 58 judul film dan tahun 1974 naik menjadi 84 judul film. Maka, adalah produser Turino Djunaedi lewat Yayasan Nasional Film Indonesia (YFI) pada tahun 1973 membuat Festival Film Indonesia, disingkat FFI. 

FFI 1973 sudah diselenggarakan di daerah, yakni di Surabaya, tahun 1974 di Surabaya, tahun 1975 di Medan, dan tahun 1976 di Bandung.  Sedangkan  pemilihan Best Actor & Best Actress yang diselenggarakan Seksi Film PWI Jaya selalu diadakankan di Jakarta sampai dihentikan alias intergrasikan pada tahun 1975.

Pemilihan Best Actor & Acress  yang diadakan Seksi Film PWI Jawa  tatkala itu didukung para produser yang bersedia mengikutkan produksi masing-masing. Mulanya sedikit, yakni 12 judul. Namun kemudian meningkat 39 judul (1971-72), lantas pada tahun 1972-1973 sebanyak 31 judul,  tahun 1973-74 berjumlah 41 judul, serta untuk penyelenggaraan yang terakhir  1974-1975 ada 34 judul.

Kerja para wartawan Seksi Film PWI Jaya ini menetapkan urutan pemenang berdasar angka rata-rata yang diperoleh dari sekitar 30-an orang juri. Mereka mewakili koran, mingguan dan majalah terbitan Jakarta. Dan hasil penilaian itu dijumlah plus diperiksa oleh wakil dari organisasi perfilman.

Best actor dan best actrrss pertama (1970-1971 diumumkan bulan April 1971. Majalah berita mingguan Tempo, edisi 17 April 1971 menulis tentang  pemenang aktor-aktris terbaik, Rachmat Hidayat dan Rima Melati berdasarkan pendapat sutradara Wahyu Sihombing (almarhum).

“Rachmat itu berbakat. Dia tidak membaca, tapi dia berusaha untuk selalu bermain baik. Seangkan Rima itu intellegent dan sangat peka. Bakatnya besar dan daya  tanggapnya istimewa, “kata Wahyu Sihombing yang ditulis Majalah Tempo 42 tahun lalu. Rachmat Hidayat mendapat gelar Aktor Terbaik dalam film  The Big Village dan Aktris Terbaik diraih Rima Melati  yang berlakon di film Noda Tak Berampun.

Perihal pemilihan best actor-actress yang dilakukan para wartawan ini, Soemardjono (almarhum), juga salah satu tokoh perfiman nasional, menulis di buku kenang-kenangan  (1974), “Yang diciptakan para wartawan adalah tradisi yang dapat memberikan inspirasi bagi dunia film Indonesia, terutama dalam seni berlakon alias akting.“ 

Sejatinya wartawan menorehkan tradisi. Namun sejauh ini, maksudnya sampai detik ini, tidak mencuat kembali tradisi semacam itu yang terjadi seperti tahun 1971. Kiranya ialah hal yang lumrah, hal yang wajar, maupun sah-sah saja apabila wartawan membikin festival film sendiri, kenapa tidak? (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis dan pemerhati film). Foto: Ilustrasi.

Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS