Jakarta, Channelsatu.com – Diskusi publik dalam Festival Film Horor Januari menegaskan satu pesan utama: film horor Indonesia tak bisa lagi hanya mengandalkan kejutan visual, melainkan harus berkembang secara tematik dan emosional agar tetap relevan di tengah perubahan selera penonton.
Forum yang menghadirkan Syaifullah Agam, Nini L Karim, Arya Pramasaputra, Ivan Bandhito, dan Bayu Pamungkas tersebut menjadi ruang tukar gagasan lintas generasi tentang bagaimana horor nasional seharusnya bergerak menuju 2026.

Para pembicara sepakat bahwa stagnasi adalah ancaman nyata, terutama jika film horor terus mengulang pola cerita, karakter, dan konflik yang sama tanpa keberanian bereksperimen.
Syaifullah Agam memaparkan data penonton sebagai bukti bahwa pasar film horor sangat potensial, namun sekaligus rapuh jika pelaku industri gagal membaca perubahan ekspektasi audiens.

Ia menekankan bahwa penonton masa kini tidak hanya mencari rasa takut instan, tetapi juga pengalaman menonton yang memberi kesan mendalam dan layak dikenang.
Nini L Karim menambahkan perspektif psikologis, dengan menekankan bahwa ketakutan yang efektif harus bekerja pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang.

Menurutnya, penonton yang membayar tiket bioskop berhak mendapatkan horor yang masuk akal secara emosi dan logika, bukan sekadar sensasi tanpa makna.
Diskusi ini memperlihatkan bahwa masa depan film horor Indonesia bergantung pada keberanian sineas untuk berinovasi tanpa kehilangan akar budaya dan sensitivitas terhadap penonton. ich
