Jakarta, Channelsatu.com – Produktivitas Wawan Woker di penghujung tahun tak hanya berhenti pada perilisan lagu digital, tetapi juga merambah dunia sastra dan film. Salah satu karyanya yang paling menonjol, “Dejavu Cinta”, kini diproyeksikan melangkah lebih jauh dari sekadar lagu menjadi sebuah cerita layar lebar.
“Dejavu Cinta” menjadi hero track dari deretan lagu yang dirilis Wawan Woker. Lagu ini mengisahkan cinta sejati lintas waktu, dengan narasi yang kuat dan emosional, sekaligus mencerminkan gaya bertutur khas seorang jurnalis yang terbiasa mengolah fakta menjadi cerita.
Menariknya, lagu tersebut merupakan bagian dari proyek besar yang sedang ia kembangkan. Wawan saat ini tengah menulis novel sekaligus skenario film dengan judul yang sama, yang kabarnya telah menarik perhatian seorang produser film nasional.
“Mohon doanya agar proses adaptasi film ini lancar. Cinta sejati itu akan dipersatukan, walaupun di surga kelak,” ujar Wawan, menegaskan bahwa proyek ini memiliki makna personal yang mendalam baginya.
Selain “Dejavu Cinta”, karya-karya lain Wawan juga lahir dari pengalaman nyata dan pengamatan sosial panjang. Lagu “Rindu Matahari” menyuarakan harapan rakyat akan hadirnya pemimpin yang mampu menerangi bangsa, sementara “Reuni Untuk Kita” menjadi refleksi kritis tentang makna kebersamaan dalam ajang reuni alumni.
Sebagai jurnalis, Wawan mengaku terbiasa menyerap kisah manusia dari berbagai sudut. Kebiasaan itu kini ia tuangkan ke dalam medium musik dan sastra, menjadikan setiap karyanya terasa dekat dengan realitas sosial masyarakat.
Pemanfaatan teknologi AI dalam vokal juga menjadi bagian dari eksplorasi kreatifnya, bukan untuk menggantikan seniman, tetapi untuk memperluas kemungkinan ekspresi. Baginya, teknologi hanyalah jembatan untuk menyampaikan pesan dengan lebih efektif.
Dengan karya-karya yang kini bisa dinikmati di Spotify dan berbagai platform digital, serta proyek film yang tengah dipersiapkan, Wawan Woker menandai fase baru perjalanan kreatifnya, dari ruang redaksi menuju lintas medium seni yang lebih luas. ich
