Jakarta, Channelsatu.com – Pasar keuangan memasuki kuartal IV 2026 dengan dinamika yang semakin kompleks. Harga energi yang masih tinggi, kenaikan imbal hasil obligasi, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian kebijakan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati investor.
Meski demikian, aset berisiko (risk assets) masih menunjukkan ketahanan. Dalam outlook investasi kuartal IV 2026, DBS menilai kinerja laba perusahaan yang solid dan berlanjutnya siklus belanja modal (capital expenditure/capex) untuk kecerdasan buatan (AI) masih menjadi penopang momentum ekonomi.
DBS juga melihat penguatan pasar saham mulai meluas ke sejumlah sektor. Energi, kesehatan, dan keuangan mulai menunjukkan momentum positif, sementara sektor teknologi memasuki fase konsolidasi.
Perubahan tersebut tidak serta-merta menunjukkan berakhirnya tema AI. Sebaliknya, perhatian investor mulai bergeser dari perusahaan penyedia infrastruktur AI menuju perusahaan yang mampu mengubah adopsi teknologi tersebut menjadi peningkatan produktivitas, margin, dan pertumbuhan pendapatan berkelanjutan.
Dalam pandangannya, DBS tetap melihat potensi jangka panjang dari AI, tetapi menekankan pentingnya selektivitas. Perusahaan yang dapat memperoleh manfaat dari AI dengan kebutuhan capex lebih rendah dinilai menjadi salah satu area yang patut dicermati, termasuk sektor yang mendapatkan manfaat dari aktivitas pasar modal, ketahanan energi, dan efisiensi operasional.
Di pasar obligasi, tingginya kebutuhan pendanaan menjadi perhatian. Penerbitan utang pemerintah yang besar serta kebutuhan pembiayaan perusahaan teknologi berskala besar atau *hyperscaler* berpotensi mempertahankan imbal hasil obligasi pada level tinggi.
DBS dalam outlook tersebut lebih memilih obligasi dengan durasi 5–7 tahun serta penerbit berperingkat BBB/BB yang memiliki arus kas tangguh, tingkat utang terkendali, dan kapasitas untuk melakukan pengurangan utang. Instrumen seperti TIPS, *agency mortgage-backed securities* (MBS), serta saham sektor keuangan tertentu juga dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi.
Untuk aset alternatif, emas tetap menjadi salah satu instrumen yang diperhatikan. Pembelian bank sentral, permintaan dari Asia, kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal, serta tren investasi yang berkaitan dengan pelemahan nilai mata uang menjadi sejumlah faktor yang mendukung prospek emas menurut DBS.
Sementara itu, aset privat dan hedge funds dinilai dapat memberikan sumber diversifikasi tambahan ketika hubungan tradisional antara saham dan obligasi tidak selalu berjalan seperti sebelumnya. DBS melihat peluang pada transaksi pasar sekunder (secondaries), co-investments, pembiayaan senior beragunan, pembiayaan berbasis aset, infrastruktur dengan pendapatan berbasis kontrak, serta strategi relative value dan equity long-short dengan eksposur bersih rendah.
Dari sisi kawasan, perekonomian Amerika Serikat masih mendapatkan dukungan dari investasi AI dan konsumsi yang relatif tangguh. Eropa dan Jepang juga dinilai mampu mencatatkan kinerja lebih baik dari perkiraan meski menghadapi tekanan biaya energi.
Di Asia, ekspor teknologi dan investasi manufaktur menjadi salah satu penopang ekonomi ketika permintaan domestik Tiongkok masih menghadapi tekanan. DBS menilai kondisi tersebut membuat investor perlu menjaga keseimbangan portofolio dan tidak hanya mengandalkan pergerakan pasar secara luas.
Untuk alokasi aset, outlook DBS menunjukkan posisi netral terhadap ekuitas dan pendapatan tetap dalam horizon tiga maupun 12 bulan. Namun, aset alternatif ditempatkan dalam posisi tambah bobot, begitu pula emas serta aset privat dan hedge funds. Kas justru berada dalam posisi kurangi bobot.
Dalam ekuitas, DBS mempertahankan pandangan tambah bobot terhadap saham Amerika Serikat dan Asia di luar Jepang untuk horizon 12 bulan. Untuk Eropa, terdapat pandangan kurangi bobot, sedangkan Jepang berada pada posisi netral.
Outlook tersebut menunjukkan bahwa memasuki kuartal IV 2026, fokus investasi tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan pasar secara keseluruhan. Seleksi perusahaan, kualitas arus kas, kebutuhan capex, struktur utang, serta diversifikasi lintas kelas aset menjadi sejumlah faktor yang dinilai semakin penting dalam menghadapi kondisi pasar yang dinamis. ich
