Kabupaten Bogor, Channelsatu.com – Setelah sukses menarik perhatian lewat lagu bernuansa jenaka *“Pecel Stasiun Madiun,”* musisi sekaligus tabib asal Langsa, **Panglima Langit**, kembali mengejutkan dunia musik dengan sisi lain dirinya. Kali ini, ia melangkah ke ranah **pop melow romantis** lewat single bertajuk *“Cinta Tak Salah.”*
Karya terbarunya ini memperlihatkan bahwa Panglima Langit bukan sekadar pencipta lagu dengan tema ringan dan menghibur, tetapi juga sosok yang mampu menyentuh sisi emosional dan puitis. “Saya ingin menulis sesuatu yang lembut, jujur, dan penuh rasa. Lagu ini lahir begitu saja,” katanya saat ditemui di lokasi syuting video klip di **Bogor**.
Berbeda dengan nuansa ceria dari karyanya sebelumnya, *Cinta Tak Salah* lebih menonjolkan harmoni lembut, lirik sendu, dan aransemen sederhana yang justru memunculkan kekuatan emosional. Lagu ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada penyanyi senior **Ratna Listy**, yang disebutnya sebagai sosok inspiratif di dunia musik dan spiritualitas.
“Saya bikin lagu ini sambil membayangkan karakter suara Mbak Ratna yang lembut tapi kuat. Saya ingin lagu ini seperti doa cinta yang jujur,” ujarnya dengan nada rendah.
Pembuatan video klip lagu ini turut memperlihatkan kreativitas Panglima Langit. Konsep awal yang sederhana diubah menjadi pengambilan gambar di alam terbuka. “Romantisme itu paling indah kalau disandingkan dengan alam. Di gunung, kita bisa merasakan ketulusan cinta yang sebenarnya,” ucapnya.
Tak hanya romantis, pesan dalam lagu ini juga sarat refleksi spiritual. Ia ingin menyampaikan bahwa cinta sejati tak pernah salah, selama dijalani dengan hati yang bersih. Filosofi itu selaras dengan kepribadiannya sebagai **tabib sekaligus seniman spiritual.**
Panglima Langit percaya musik adalah energi penyembuhan, dan lewat lagu melow seperti *Cinta Tak Salah*, ia ingin menyalurkan vibrasi positif bagi pendengarnya. “Saya percaya, nada dan kata bisa jadi obat bagi jiwa,” tuturnya.
Dengan semangat tersebut, ia berharap karyanya mampu membangkitkan kembali apresiasi terhadap lagu-lagu pop melow klasik yang pernah berjaya di era 80-an dan 90-an. “Zaman boleh berubah, tapi rasa tetap abadi,” pungkasnya. ich
