Kabupaten Sigi, Channelsatu.com – Tradisi kecantikan perempuan Kaili kini menemukan bentuk baru melalui pengembangan badabida menjadi produk perawatan tubuh. Lulur berbahan ketan hitam yang dahulu digunakan calon pengantin dalam tradisi nombungu tersebut dikembangkan Nelam Ayu Kusuma melalui Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Bagi Nelam, pengembangan badabida bukan sekadar membuat produk tradisional lebih mudah digunakan. Ia juga berupaya menjaga hubungan antara budaya, bahan alam, petani lokal, dan masyarakat yang terlibat dalam rantai produksinya.
“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam.
Ketan hitam yang digunakan untuk membuat badabida diperoleh dari petani di Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Dalam satu kali pembelian, Nelam dapat menyerap hingga 25 kilogram ketan hitam.
Bahan tersebut kemudian diolah menjadi produk perawatan tubuh. Dalam proses produksinya, Nelam juga berupaya mengurangi bahan yang terbuang.
Dedak dari proses penggilingan beras dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau disalurkan kembali kepada petani. Sementara abu dari proses sangrai digunakan sebagai abu gosok rumah tangga.
Praktik tersebut menjadi bagian dari pendekatan ekonomi sirkular berbasis rumah tangga. Bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah justru dimanfaatkan kembali sesuai kegunaannya.
Perwakilan Gampiri Interaksi Lestari, Nedya Sinintha Maulaning, mengatakan pengembangan usaha berbasis bahan alam perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga nilai budaya dan lingkungan.
“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungannya,” ujar Nedya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat lokal dan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dapat menjadi bagian dari model ekonomi restoratif.
“Ketika lingkungan dijaga, sumber daya alam dimanfaatkan secara bijak, dan masyarakat lokal terlibat langsung, maka pemulihan ekonomi terjadi secara alami. Pendapatan meningkat, budaya tetap hidup, dan alam tidak dieksploitasi,” katanya.
Konsep tersebut sejalan dengan visi Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) untuk mendorong kemandirian kabupaten melalui model ekonomi restoratif. Dukungan terhadap proses yang dijalankan Gampiri menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi lokal, membangun resiliensi, dan mendorong terwujudnya kabupaten lestari.
Di sisi lain, perjalanan badabida menuju pasar modern tetap berangkat dari akar budaya. Produk tersebut awalnya digunakan dalam tradisi perawatan calon pengantin perempuan Kaili, sebelum dikembangkan dalam bentuk body scrub agar lebih praktis bagi konsumen masa kini.
Nelam menegaskan bahwa nilai utama produknya bukan hanya terletak pada bahan alami yang digunakan.
“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tetapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” kata Nelam.
Cerita yang sama juga terlihat dalam pengembangan bada kumba, bedak dingin berbahan beras dan rempah yang resepnya diwariskan sang nenek kepada Nelam. Pengetahuan tersebut menjadi bagian dari upayanya menjaga warisan keluarga agar dapat diteruskan kepada generasi baru.
Dari ketan hitam petani Sigi hingga resep keluarga yang diwariskan lintas generasi, Nelamayu Tradisional mencoba menunjukkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan. *Badabida* tidak hanya dibawa ke pasar yang lebih luas, tetapi juga tetap mempertahankan cerita perempuan Kaili, alam, dan masyarakat yang berada di baliknya. ich
