Jakarta, Channelsatu.com – Membaca bukan lagi sekadar aktivitas individu yang sunyi. Melalui metode Membaca Nyaring, buku kini menjadi jembatan kebersamaan antara guru, murid, dan keluarga. Metode sederhana ini terbukti membawa dampak nyata, mulai dari meningkatnya semangat belajar siswa hingga tumbuhnya budaya literasi di rumah tangga.
Kisah keberhasilan itu diungkapkan oleh Luh Silvia Juniari, seorang guru sekolah dasar yang pernah mengikuti Tantangan 21 Hari Membaca Nyaring pada tahun 2024. Awalnya, ia hanya ingin menyelesaikan tantangan, namun kebiasaan tersebut ternyata berlanjut menjadi kegiatan rutin di sekolahnya.
“Dari sekedar usaha memenuhi tantangan pada masa itu malah menjadi rutinitas yang menyenangkan antara guru dan murid bahkan juga wali murid yang juga dikenalkan dengan membaca nyaring,” ujar Luh Silvia.
Hal senada disampaikan Rita Fatimah, seorang ibu yang berhasil menjadi pemenang tantangan tahun lalu untuk kategori orang tua. Ia menilai membaca nyaring bukan hanya soal menemani anak, tetapi juga tentang membentuk cara pandang baru terhadap buku.

“Ada efek domino lain yang ditimbulkan, misalnya anak jauh lebih siap secara akademis dan memberikan pengaruh kualitas pembelajaran di kelas,” kata Rita.
Melihat dampak positif dari pengalaman tersebut, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) kembali menghadirkan program serupa dalam bentuk Tantangan Nasional 7 Hari Membaca Nyaring. Tantangan ini dibuka untuk masyarakat luas, dengan periode pendaftaran pada 19–30 Agustus 2025. Adapun pelaksanaannya akan dilakukan secara serentak pada 1–7 September 2025.
Peserta diminta mendokumentasikan kegiatan mereka di Instagram, lalu mendaftarkan unggahan tersebut melalui tautan resmi yang telah disediakan. “Pendokumentasian aktivitas tantangan Membaca Nyaring kemudian diunggah ke media sosial Instagram. Ketentuan tersebut dapat dilihat melalui akun resmi @gemarmembaca.id,” jelas Yudhi Firmansyah, fasilitator Membaca Nyaring dari Perpusnas.
Bagi Perpusnas, membaca nyaring adalah pintu masuk untuk menumbuhkan kecintaan pada literasi sejak dini. Julia Budihardja dari komunitas Reading Bugs menegaskan bahwa membiasakan anak mendengarkan cerita dengan ekspresi penuh akan menanamkan pengalaman positif yang kelak berpengaruh besar.
“Pembiasaan baik ini akan berujung pada anak Indonesia yang hebat,” ucap Julia dalam Sosialisasi Nasional Membaca Nyaring yang digelar secara virtual pada Selasa, 19 Agustus 2025.
Sosialisasi tersebut diikuti ratusan guru, pustakawan, relawan literasi, dan masyarakat umum yang hadir secara daring. Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca, Nurhadisaputra, menekankan bahwa program ini merupakan bagian dari Gerakan Indonesia Membaca.
Selain kampanye membaca, Perpusnas juga terus memperkuat akses bahan bacaan bermutu. Hingga kini, lembaga tersebut menyalurkan 1.000 eksemplar buku ke 10.000 perpustakaan desa, taman bacaan, dan komunitas literasi di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan gerakan ini, Perpusnas berharap Membaca Nyaring tidak hanya menjadi tantangan singkat, tetapi berkembang sebagai kebiasaan harian. Dari ruang kelas hingga ruang keluarga, membaca bersama dapat menjadi fondasi kuat bagi lahirnya generasi literat yang cerdas dan berdaya saing.
