Bukan Lagu Ceria, The Chasmala Justru Lepas Balada Penuh Luka

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Nuansa klasik menjadi ciri kuat dalam *Cinta Tapi Terluka*, single terbaru The Chasmala yang kerap mengingatkan pendengar pada karya-karya era awal Chrisye. Bagi band ini, kesan tersebut bukan sesuatu yang dihindari, melainkan bagian dari identitas musikal yang sejak awal mereka peluk.

Denny Chasmala mengakui bahwa The Chasmala tumbuh di era musik 80–90-an, ketika aransemen penuh harmoni dan intro yang manis menjadi kekuatan utama sebuah lagu. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan ulang ke dalam konteks musikal mereka saat ini.

Pendekatan klasik ini terasa berbeda di tengah lanskap musik modern yang cenderung instan dan serba cepat. The Chasmala justru memilih memberi ruang pada intro panjang, dinamika emosional, dan permainan instrumen yang detail.

- Advertisement -

Upaya membawa nuansa klasik tidak berhenti pada aransemen. Dalam proses rekaman, band ini secara sadar menggunakan berbagai instrumen vintage untuk mendapatkan karakter suara yang hangat dan organik.

Drum Ludwig, yang identik dengan era The Beatles, dipilih untuk memperkuat nuansa retro. Selain itu, terdengar pula penggunaan mellotron, Rhodes, sitar, hingga teknik rekaman gitar dengan ampli yang “ditodong”, alih-alih direkam secara direct seperti praktik modern.

Menurut Denny, konsistensi nuansa menjadi kunci utama. Dari aransemen hingga tekstur suara, semuanya diarahkan agar selaras dengan emosi lagu dan cerita yang ingin disampaikan.

Pendekatan ini membuat *Cinta Tapi Terluka* terasa seperti jembatan antara masa lalu dan masa kini. Lagu ini menghadirkan nostalgia tanpa terjebak romantisasi, sekaligus tetap relevan bagi pendengar generasi baru.

- Advertisement -

Di tengah arus musik digital yang cepat berubah, The Chasmala memilih berdiri di jalur yang lebih sunyi, tetapi jujur terhadap akar musikal mereka.

Read more

NEWS