BMKG: Curah Hujan Kota Tangerang Meningkat Tajam hingga Awal 2026

Share

Kota Tangerang, Channelsatu.com – Musim penghujan resmi memasuki wilayah Kota Tangerang, memicu peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Informasi tersebut ditegaskan oleh Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Tangerang, Margiono, yang menyebut bahwa curah hujan akan mengalami peningkatan signifikan hingga awal 2026. Kondisi ini menjadi alasan utama Pemerintah Kota Tangerang menggelar apel siaga bencana sebagai bentuk langkah antisipatif menghadapi musim penghujan yang diprediksi berlangsung panjang.

Margiono menjelaskan bahwa tren cuaca menunjukkan seluruh kawasan Kota Tangerang kini berada pada fase aktif hujan dengan potensi meningkat dari bulan ke bulan. Menurutnya, data meteorologi yang dimiliki BMKG menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan mitigasi oleh pemerintah daerah. “Cuacanya sudah masuk musim penghujan ya, hampir sebagian besar sudah masuk musim hujan. Kesiapsiagaan ini penting karena curah hujan diperkirakan meningkat dari akhir Desember sampai awal 2026, bahkan hingga Maret, dengan puncaknya pada Januari dan Februari,” ujar Margiono.

Peringatan tersebut tidak hanya berhenti pada curah hujan tinggi, tetapi juga mencakup risiko bencana lain seperti banjir, angin kencang, hingga potensi genangan di wilayah permukiman padat penduduk. Pemerintah Kota Tangerang diminta untuk terus memperhatikan perkembangan prakiraan cuaca, mengingat periode Desember hingga Februari merupakan fase paling intens yang kerap menimbulkan dampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat.

- Advertisement -

Lebih jauh, Margiono menambahkan bahwa pola cuaca ekstrem sudah mulai terlihat dari fenomena panas terik di siang hari yang disusul hujan pada sore atau malam hari. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan ciri umum menjelang puncak musim penghujan. “Fenomena panas di siang hari lalu hujan di sore hari itu sudah biasa terjadi menjelang musim penghujan. Polanya memang seperti itu, termasuk di wilayah Kota Tangerang,” jelasnya mengenai dinamika atmosfer yang kini semakin aktif di kawasan Jabodetabek.

BMKG menilai fenomena tersebut sebagai tanda meningkatnya konveksi udara yang memperbesar peluang pembentukan awan-awan hujan berintensitas tinggi. Aktivitas atmosfer yang semakin dinamis tersebut perlu dicermati karena dapat berubah cepat dan memicu kondisi cuaca ekstrem yang sulit diprediksi oleh masyarakat umum. Situasi ini membuat pembaruan informasi cuaca menjadi salah satu elemen penting dalam mitigasi bencana.

Pemerintah daerah juga diminta untuk mengoptimalkan jalur komunikasi publik seperti aplikasi layanan kebencanaan, media sosial, serta forum RT/RW agar informasi cuaca dapat diterima cepat dan tepat. Menurut BMKG, semakin cepat masyarakat mendapatkan informasi, semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak kerugian baik secara material maupun keselamatan jiwa. Kesiapsiagaan dini dinilai dapat mengurangi gangguan terhadap transportasi, drainase, dan aktivitas harian.

Dalam konteks yang lebih luas, musim penghujan tahun ini diprediksi akan memiliki durasi lebih panjang dibanding tahun sebelumnya, seiring adanya potensi anomali iklim regional. Kota Tangerang sebagai kawasan urban dengan mobilitas tinggi perlu memastikan bahwa infrastruktur pengendali banjir, sarana drainase, hingga titik-titik rawan genangan berada dalam kondisi optimal sebelum memasuki puncak musim hujan pada Januari–Februari 2026.

- Advertisement -

Sebagai penutup, BMKG menegaskan bahwa masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan sekaligus memahami pola cuaca yang terus berkembang. Dengan koordinasi antara pemerintah daerah, instansi kebencanaan, serta peran publik yang aktif, risiko bencana hidrometeorologi selama musim penghujan di Kota Tangerang diharapkan dapat ditekan. “Informasi cuaca harus terus diperbarui, dan kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem,” tegas Margiono. ich

Read more

NEWS