Jakarta, Channelsatu.com – Alas Roban kembali hidup bukan sekadar sebagai jalur legendaris di pesisir utara Jawa, melainkan sebagai ruang sinematik yang menguji psikologi penonton lewat film horor berjudul *Alas Roban* yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 15 Januari 2026. Film garapan sutradara Hadrah Daeng Ratu ini memilih jalur horor sunyi, memanfaatkan mitos kolektif yang telah lama tumbuh di benak masyarakat sebagai sumber ketegangan utama.
Sejak lama, Alas Roban dikenal sebagai kawasan yang menyimpan banyak cerita ganjil, terutama di kalangan sopir lintas kota dan penumpang bus malam. Kabut yang turun tiba-tiba, perasaan tidak nyaman tanpa sebab, hingga larangan-larangan tak tertulis menjadi bagian dari narasi yang diwariskan lintas generasi, dan itulah yang menjadi fondasi film ini.
“Alas Roban menyimpan banyak sejarah dan misteri. Jalur ini dikenal sebagai salah satu lintasan paling angker di Jawa,” kata Hadrah Daeng Ratu saat pemutaran perdana film di Epicentrum XXI, Jakarta, Senin, 5 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa film ini tidak menjual horor instan, melainkan membangun rasa takut dari pengalaman batin para karakter.
Menurut Hadrah, kekuatan mitos Alas Roban justru terletak pada keseragaman rasa, bukan kesamaan kejadian. “Tidak semua orang mengalami hal yang sama, tapi banyak yang membawa pulang perasaan yang serupa setelah melintas. Ada yang merasa diikuti, ada yang merasa dipanggil, meski sudah keluar dari kawasan itu,” ujarnya.
Larangan-larangan mistis seperti tidak melintas tepat tengah malam, tidak menoleh ke spion terlalu lama, hingga tidak menanggapi suara dari hutan dihadirkan sebagai tekanan psikologis yang terus menggerogoti karakter. Dalam film ini, mitos tidak tampil sebagai tempelan, melainkan sebagai “aturan hidup” yang pelan-pelan mengikat.
“Rasa takut tidak selalu datang dari jumpscare. Ia tumbuh dari karakter, trauma, dan pengalaman psikologis mereka. Mitos Alas Roban sendiri sudah menjadi legenda milik banyak orang,” kata Hadrah, menegaskan pendekatan horor yang ia pilih.
Produser Oswin B mengungkapkan bahwa pengembangan cerita memakan waktu panjang sejak 2023 dengan riset lapangan langsung ke Alas Roban. “Kami berkali-kali mengubah cerita setelah bertemu warga setempat dan menyusuri lokasi siang dan malam. Banyak detail yang tidak bisa ditemukan di meja diskusi,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, *Alas Roban* hadir sebagai film horor yang tidak hanya mengandalkan visual menyeramkan, tetapi juga mengolah ketakutan kolektif sebagai pengalaman sinematik yang terasa dekat dan relevan bagi penonton Indonesia. ich
