AFFD Semarang Memotivasi Pembuat Film Pemula Daerah Untuk Membuat Film Bagus

Share

Semarang, channelsatu.com: Kasi Fasilitasi Kegiatan Perfilman Direktorat Pengembangan Industri Perfilman Kemenparekraf,Wastutik,SE.MM, begitu terharu dan sekaligus senang melihat ratusan mahasiswa menyesaki salah satu ruangan kampus di Universitas Negeri Semarang Unnes),Rabu (23/10/2013) siang.

Pasalnya, mereka begitu antusias dan semangat mengikuti acara Apresiasi Festival Film Daerah (AFFD) yang digelar hasil kerjasama Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya-Direktorat Pengembangan Industri Perfilman Kementerian Parekraf dengan Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes dan SENAKI.

Antusias bagi pemula pembuat film daerah itu terlihat memberondongkan berbagai pertanyaan dari peserta dalam salah satu bagian kegiatan siang itu. Yaitu dalam diskusi membuat film bagi pembuat pemula, yang menghadirkan pembicara Sutradara dan sekaligus Ketua umum SENaKI (Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia) Akhlis Suryapati, Yusro Edu Nugroho (Pemerhati Film Daerah) yang dipandu Eka Yuli Astuti.

- Advertisement -

Risa mahasiswi dari FBS Unnes misalnya, melontarkan pertanyaan,”Adakah tips membuat film bagus dan cara mengunakan camera yang sederhana untuk mendapatkan gambar yang bagus?

“Prinsipnya membuat film itu mudah dan bikin film tidak harus dengan biaya mahal. Jadi buatlah film jangan meniru yang ada. Tapi, buatlah film dari cerita sekitar kita yang sederhana dan jika dituangkan dalam bahasa gambar jadi memikat. Lalu, pilihlah para pemerannya yang sesuai dengan tokoh yang kita butuhkan. Dengan camera sederhana seharga Rp 6 juta saja, jika kita mampu mengambil angle gambar yang baik insya Alloh hasilnya juga akan baik,” tutur Yusro.

Yusro benar, saat diawal acara diputarkan film pendek karyanya yang berjudul Si Mbah, yang menuturkan bagaimana kisah seorang kakek gaul yang ingin dibelikan handphone pada anak-anaknya. Dan setelah dibelikan HP minta dibelikan motor dan setelah dibelikan motor ingin nikah lagi.

Cerita Si Mbah yang bergenre komedy keluarga dan menggunakan bahasa Jawa cukup menarik dan memikat hasilnya. Terbukti kisah sederhana ini mampu membuat penonton tertawa geli menyaksikan ulah si Kakek yang nyaris bunuh diri karena permintaannya untuk membeli motor nyaris ditolak anak-anaknya.

- Advertisement -

“Film pendek ini sengaja saya ambil dari cerita yang sederhana, pemain-pemainnya pun rata-rata baru pertama kali tampil di depan kamera. Yang berperan jadi Si Mbah sendiri contohnya, adalah sehari-harinya seorang penggali sumur. Agar memikat bahasa-bahasa gaul sengaja diselipkan para mahasiswa yang terlibat di film ini. Hasilnya lumayan karena diam-diam sudah ada orang yang memasukan film ini ke Youtobe dan ternyata banyak yang sudah menontonnya,” aku Yusro bangga.

“Intinya lakukan saat membuat film itu dengan persiapan yang matang dari awal, Dan jika kita membuat film dengan bahasa daerah seperti film Si Mbah dengan menggunakan bahasa Jawa, berikankanlah teks terjemahannya. Ini semua bertujuan untuk memudahkan penonton yang tidak mengerti bahasa Jawa jadi paham dan bisa menikmati film ini,” timpal Akhlis.

Dari diskusi tadipun terungkaplah bahwa begitu semangatnya para pemula untuk membuat film meskipun para mahasiswa ini nantinya adalah calon pendidik sebagai guru dan dosen. Maka wajarlah jika kerja sama mereka berharap terus bisa dilanjutkan.

“Saya berharap dari kegiatan ini mampu menciptakan lapangan kerja baru jadi sutaradara yang bagus buat para mahasiswa meskipun mereka nantinya berprofesi sebagai guru atau dosen. Dan saya ingin kerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bukan yang pertama dan terakhir tapi juga terus berlanjut. Hal ini untuk meningkatkan dan memotivasi membuat film bagus di daerah terus tumbuh,” tutur Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, Prof Dr. Agus Nuryatin,M.Hum.

“Kami tentu saja merasa senang melihat begitu antusiasnya para pembuat film daerah hadir diacara ini. Dari kegiatan yang kita gagas ini tentu saja kita harus memberikan apresiasi yang positif buat mereka dan kerjasama ini harus kita lanjutkan untuk meningkatkan pengetahuan soal industri perfilman yang bagus bagi insan film daerah. Karena potensi mereka ternyata tidak kalah kreatifnya dengan mahasiswa-mahasiswa di Jakarta,” Kata Wastutik,SE.MM siang itu.

Di penghujung acara, kegiatan ini ditutup dengan penganugerahkan buat para pemenang yang mengikuti Festival Film Daerah yang diikuti para mahasiswa sebanyak 9 film pendek. Keluar sebagai pemenang diantaranya, Aktor Pria Terbaik direbut Adji Kusuma yang bermain di film Parmin, Sementara Aktris Wanita Terbaik diraih Yulia di film Mawar Mekar Sore, dan film terbaik yang terpilih, adalah film Nirmala yang disutradarai Erwan Jangkung.

Setelah Semarang,sehari berikutnya AFFD dilanjutkan ke Magelang. Lalu ke Tasikmalaya dan Bandung. (ibra) Foto: Ibra.

Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS