Catatan Erupsi Tambora dan Puputan Klungkung Diakui UNESCO

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Catatan tentang letusan Gunung Tambora pada 1815 dan peristiwa Puputan di Klungkung kini mendapat pengakuan internasional. Kedua peristiwa bersejarah tersebut tersimpan dalam naskah kuno Nusantara yang baru saja masuk Register Ingatan Dunia UNESCO untuk kawasan Asia dan Pasifik.

Dua naskah yang dimaksud adalah Bo’ Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima, Saksi Erupsi Tambora 1815 dan Kidung Bhuwana Wināśa (Nyanyian tentang Dunia yang Telah Lenyap). Keduanya resmi tercatat dalam register tersebut melalui Pertemuan Umum Ke-11 Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) di Jakarta, 5 November 2026.

Masuknya kedua naskah ini memberikan pengakuan terhadap nilai sejarah yang tersimpan dalam dokumen peninggalan masyarakat Indonesia. Bo’ Sangaji Kai, misalnya, berisi catatan perjalanan Kesultanan Bima sekaligus kesaksian mengenai salah satu letusan gunung berapi terbesar dalam sejarah, yakni erupsi Gunung Tambora pada 1815.

- Advertisement -

Sementara Kidung Bhuwana Wināśa menyimpan rekaman peristiwa Puputan di Klungkung. Naskah tersebut merupakan tulisan asli Ida Pedanda Ngurah dan memiliki nilai penting dari sisi sejarah maupun sastra.

Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), E. Aminudin Aziz, mengatakan kedua naskah itu dipilih karena mempunyai keunikan tersendiri. Sebelum diajukan ke tingkat Asia Pasifik, keduanya telah lebih dulu masuk dalam daftar Ingatan Kolektif Nasional (IKON).

Proses seleksi dilakukan melalui penilaian tim Memory of the World Indonesia bersama tim IKON. Perpusnas kemudian bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk mengusulkan kedua warisan dokumenter tersebut kepada UNESCO.

Bo’ Sangaji Kai diajukan bersama Yayasan Museum Samparaja Bima dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Adapun Kidung Bhuwana Wināśa diusulkan bersama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung, Gria Agung Mandara Pemaron, serta Gria Gede Belayu.

- Advertisement -

Aminudin menyambut pengakuan tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan sejarah Indonesia. Menurut dia, nilai sebuah naskah tidak hanya terletak pada usia dan kondisi fisiknya, tetapi juga informasi yang bisa dipelajari dari isi tulisan tersebut.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengakuan UNESCO harus diikuti dengan upaya agar isi naskah semakin dikenal masyarakat. Perpusnas bersama para mitra perlu mengembangkan cara untuk mengolah informasi di dalamnya menjadi sumber pengetahuan yang bisa dimanfaatkan secara lebih luas.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menghadirkan isi naskah dalam bentuk bacaan yang lebih mudah dipahami generasi sekarang. Dengan demikian, catatan sejarah yang selama ini tersimpan dapat menjadi bahan pembelajaran, termasuk untuk pendidikan karakter.

“Naskah ini perlu dimanfaatkan dan bisa menjadi sumber rujukan untuk pendidikan. Pendidikan karakter bagi bangsa kita,” kata Aminudin.

Ia juga mendorong agar pengkajian terhadap naskah-naskah Nusantara terus dilakukan. Masih banyak peninggalan tertulis yang menyimpan informasi penting mengenai kehidupan, kebudayaan, dan perjalanan masyarakat Indonesia.

Menurut Aminudin, pekerjaan pelestarian tidak boleh berhenti pada penyimpanan dan perawatan koleksi. Perpusnas dan lembaga terkait perlu lebih kreatif menggali kandungan pengetahuan di dalamnya sekaligus mencari naskah lain yang berpotensi masuk dalam daftar Memory of the World UNESCO. (Kul)

 

Redaksi
Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS