Kota Tangerang, Channelsatu.com – Perayaan Hari Trisuci Waisak 2569 BE di Vihara Dhammaphala, Karawaci, Kota Tangerang, menghadirkan suasana yang tidak hanya khidmat, tetapi juga hangat dan penuh sukacita. Ratusan umat dari berbagai kalangan usia berkumpul dalam satu semangat untuk memperingati kelahiran, pencerahan, dan Parinibbāna Sang Buddha Gotama.
Sejak pagi, halaman dan ruang utama vihara dipenuhi umat yang mengikuti puja bakti dengan tertib. Suara lonceng, lantunan doa, dan aroma dupa menciptakan suasana religius yang begitu terasa di setiap sudut vihara.
Kebersamaan tampak begitu kuat ketika anak-anak, remaja, hingga lansia duduk berdampingan mengikuti rangkaian ibadah. Banyak anak terlihat menirukan gerakan añjali yang dilakukan orang tua mereka sebagai bagian dari penghormatan kepada Tiratana.
“Sejak kecil mereka kami ajak, agar sejak dini mengenal Tiratana dan nilai-nilai Dhamma,” ujar salah seorang orang tua yang hadir bersama keluarganya.
Prosesi penghormatan berlangsung penuh kekhusyukan. Saat doa-doa dipanjatkan, umat tampak menundukkan kepala dengan tenang sambil memusatkan perhatian pada altar utama. Momen tersebut menjadi ruang refleksi spiritual yang mendalam bagi seluruh peserta.
Kemeriahan yang sakral hadir ketika kelompok paduan suara vihara membawakan puji-pujian Tiratana. Lantunan syair suci dalam bahasa Pāḷi menggema memenuhi ruangan dan disambut penuh penghayatan oleh umat yang hadir.
Ketua Vihara Dhammaphala, Leo Gunawan, menilai perpaduan antara kekhidmatan ibadah dan antusiasme umat menjadi kekuatan utama perayaan Waisak tahun ini.
“Umat melakukan añjali, berlutut, dan bersujud sebagai bentuk penghormatan kita kepada Buddha, Dhamma, dan Saṅgha,” kata Leo Gunawan.
Usai puja bakti, suasana berubah menjadi lebih hangat. Umat saling bersalaman, bertukar senyum mettā, serta menyampaikan doa dan harapan baik kepada sesama. Kebahagiaan sederhana itu memperlihatkan bagaimana ajaran cinta kasih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semua berjalan lancar. Umat tertib, khidmat, tetapi tetap meriah. Ini wujud kebersamaan kita memperingati kelahiran, pencerahan, dan Parinibbāna Sang Buddha Gotama,” tutur Leo Gunawan. Perayaan kemudian ditutup dengan pelimpahan jasa dan doa untuk kedamaian seluruh makhluk di dunia. ich
