Jakarta, Channelsatu.com – Galeri Indonesia Kaya menghadirkan kembali program Wayang Jurnalis melalui pementasan lakon “Petruk Mantu” pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Bekerja sama dengan Wayang Orang Bharata, pertunjukan ini melibatkan 12 wartawan yang tampil langsung sebagai pemain di panggung.
Pementasan tersebut menjadi bagian dari perayaan HUT ke-13 Galeri Indonesia Kaya sekaligus menandai kembalinya Wayang Jurnalis setelah vakum sejak 2020. Program yang pertama kali diperkenalkan pada 2014 ini memberikan kesempatan kepada insan pers untuk merasakan proses berkesenian secara langsung.
Lakon “Petruk Mantu” menghadirkan cerita mengenai upaya Petruk mencarikan pasangan untuk putranya, Lengkung Kusumo. Petruk berniat meminang Endang Nilowati, seorang putri yang dikenal cantik. Namun, rencana tersebut menghadapi persoalan ketika ia mengetahui bahwa Endang Nilowati juga menjadi dambaan Prabu Kalapudaksa, sosok yang dikenal garang dan congkak.
Persaingan tersebut memunculkan berbagai kejadian tak terduga yang dibalut humor. Cerita yang ringan membuat pementasan ini menghadirkan hiburan sekaligus memperkenalkan kisah pewayangan kepada penonton dengan pendekatan yang mudah dinikmati.
Sutradara pementasan sekaligus perwakilan Wayang Orang Bharata, Teguh “Kenthus” Ampiranto, menilai ruang pertunjukan seperti Galeri Indonesia Kaya memiliki peran penting bagi keberlanjutan seni tradisional. Menurutnya, ruang tersebut memberikan kesempatan kepada seniman untuk terus berkarya dan mempertemukan pertunjukan tradisional dengan masyarakat yang lebih luas.
Keterlibatan para jurnalis dalam pementasan ini juga menjadi bentuk kolaborasi yang berbeda antara insan media dan seniman. Para wartawan yang biasanya melaporkan kegiatan seni dari sisi pemberitaan kini harus mempelajari karakter dan menjalani proses latihan sebelum tampil.
Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, mengatakan bahwa melalui Wayang Jurnalis, para jurnalis dapat terlibat langsung dalam proses kreatif, bukan hanya meliput pertunjukan.
“Jika biasanya mereka berada di balik layar untuk meliput dan menceritakan sebuah pertunjukan, kali ini mereka berkesempatan untuk naik ke atas panggung dan menjadi bagian langsung dari proses kreatifnya,” ujar Renitasari.
Selain menampilkan para wartawan, pementasan tahun ini turut menghadirkan dalang cilik Kitama Arturo yang berusia 12 tahun. Ia mulai tertarik pada dunia pewayangan sejak berusia enam tahun setelah menerima wayang Gatotkaca dan beskap dalang.
Kitama kemudian mempelajari pewayangan melalui buku cerita, video, serta bertanya kepada orang-orang yang memahami seni tersebut. Ia juga pernah tampil di sejumlah stasiun televisi nasional dan memerankan tokoh seperti Gatotkaca Cilik atau Babang Tetuko, Cakil, dan Antasena.
Kehadiran Kitama bersama para wartawan memperlihatkan keterlibatan lintas generasi dalam pementasan tersebut. Melalui kombinasi humor, kolaborasi, dan kecintaan terhadap tradisi, Wayang Jurnalis menjadi salah satu ruang untuk menjaga agar seni pewayangan tetap dikenal oleh masyarakat masa kini. ich
