Jakarta, Channelsatu.com – Iklim panas menjadi salah satu tantangan dalam pembangunan pusat data, terutama ketika kebutuhan komputasi berbasis Artificial Intelligence (AI) terus meningkat. MagPro kini menghadirkan AeroLev 1850, platform chiller berkapasitas 1,85 MW yang dirancang mampu beroperasi pada suhu lingkungan hingga 45 derajat Celsius.
Kemampuan tersebut menjadi salah satu fitur yang ditawarkan MagPro untuk menjawab kebutuhan pusat data di negara dengan temperatur tinggi, termasuk Indonesia. Platform ini menggabungkan pendinginan udara dengan teknologi bantalan magnetik atau magnetic bearing.
MagPro sendiri merupakan perusahaan patungan antara CIGU Technology Corp. Ltd. dan EPG Data Technology (Shanghai) Co., Ltd. Kehadiran AeroLev 1850 ditujukan untuk mendukung pusat data AI generasi berikutnya yang membutuhkan sistem pendinginan berkapasitas tinggi.
William Wu, General Manager Nanjing CIPU Technology Co., Ltd., mengatakan desain AeroLev 1850 mempertimbangkan tantangan operasional pusat data di lingkungan yang memiliki keterbatasan air.
“Teknologi ini memungkinkan pertumbuhan komputasi AI secara efisien dan andal di lingkungan dengan kondisi yang menantang,” ujar William Wu.
Platform tersebut menggunakan bangunan tanpa menara pendingin serta kompresor levitasi magnetik bebas oli. Dengan sistem tersebut, AeroLev 1850 tidak membutuhkan air untuk proses pendinginan evaporatif.
Selain itu, teknologi free cooling memungkinkan sistem memanfaatkan udara sekitar ketika temperatur lebih rendah. Kondisi tersebut dapat mengurangi waktu operasi kompresor sehingga penggunaan energi dan biaya operasional dapat ditekan.
MagPro menyebut kompresor levitasi magnetik berpendingin udara yang digunakan AeroLev 1850 memiliki efisiensi isentropik hingga 87 persen. Kondensor yang telah dipatenkan juga mampu menghasilkan subcooling lebih dari 3 derajat Celsius.
Sementara itu, penggunaan kipas EC turut membantu meningkatkan efisiensi kinerja energi. Secara keseluruhan, teknologi tersebut diklaim mampu menghasilkan efisiensi energi hingga 40 persen lebih tinggi dibandingkan kompresor konvensional yang menggunakan pelumas berbasis oli.
Dari sisi pemeliharaan, perusahaan menyebut tingkat kegagalan AeroLev 1850 hingga 8 persen lebih rendah dan biaya pemeliharaan hingga 10 persen lebih rendah dibandingkan chiller konvensional.
Kemampuan beroperasi di lingkungan panas juga dipadukan dengan fleksibilitas untuk mendukung perkembangan teknologi pendinginan generasi baru. AeroLev 1850 dirancang mendukung direct-to-chip cooling dan immersion liquid cooling.
Platform tersebut dapat menyediakan air dingin dengan suhu hingga 45 derajat Celsius untuk mendukung teknologi pendinginan bersuhu tinggi. Pendekatan ini memungkinkan infrastruktur yang sudah tersedia tetap dikembangkan tanpa harus melakukan pembangunan ulang secara besar-besaran.
Desain modular terstandarisasi juga memungkinkan pemasangan secara cepat dan penambahan kapasitas sesuai pertumbuhan kebutuhan komputasi AI.
Alick Wan, Pendiri dan Chairman EPG Data Technology (Shanghai) Co., Ltd., mengatakan pengembangan AeroLev 1850 merupakan bagian dari strategi teknologi pendinginan global MagPro.
“Dengan menggabungkan keahlian EPG dalam bidang teknik dan implementasi dengan teknologi inti levitasi magnetik milik CIGU, kami membangun infrastruktur digital yang lebih tangguh dan hemat sumber daya,” ujar Alick.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan infrastruktur digital terhadap ketersediaan air.
“AeroLev 1850 mencerminkan komitmen kami untuk memajukan infrastruktur pusat data yang ramah lingkungan dan membangun ekosistem digital yang lebih berkelanjutan di seluruh dunia,” tambah Alick.
Dengan kombinasi kemampuan beroperasi pada suhu hingga 45 derajat Celsius, teknologi magnetic bearing, free cooling, serta desain modular, AeroLev 1850 diposisikan sebagai solusi pendinginan untuk pusat data yang menghadapi peningkatan kebutuhan komputasi AI sekaligus tantangan efisiensi sumber daya. ich
