Jumat , 22 Oktober 2021
Home / Showbiz / Film, Musik, TV / SINEMA ASIA YANG BERKIBAR DI DUNIA PERFIMAN INTERNASIONAL

SINEMA ASIA YANG BERKIBAR DI DUNIA PERFIMAN INTERNASIONAL

Jakarta, channelsatu.com: Terdapat delapan film dari sineas Asia yang berkibar di dunia perfilman internasional, demikian yang dicatat ChannelSatu.com. Dan mereka adalah sineas yang berasal dari China, Korea Selatan, Jepang dan HongKong. Dari Indonesia ? Belum tercatat, kendati ada beberapa aktor maupun aktris yang go internasional. 

Satu di antaranya yang patut dicatat adalah Iko Uwais. Aktor asal Indonesia tampil dalm film Man of Tai Chi yang dibesut Keanu Reeves. Film ini berkisah tentang ahli seni bela diri yang mesti bergelut dengan kesempatan maupun pengorbanan. Menjadi sutradara, film ini adalah debut Keanu Reeves yang selama ini dikenal sebagai aktor.

Man of Tai Chi merupakan kolaborasi Universal Studios dan China Film Group. Film ini menggunakan teknologi modern untuk membuat adegan gerakan beladiri, yang biasanya dibuat dengan efek OGI. Dan yang mesti dicatat bahwa Man Of Tai Chi adalah produksi Asia alias sinema Asia yang berkolaborasi dengan negara di luar Asia.

Masih tentang Keanu Reeves yang juga tampil dalam film 3D, kolaborasi AS dan Jepang, berjudul 47 Ronin. Berdasarkan kisah nyata pada abad 18, tentang sekelompok samurai yang berjumlah 47, bersatu untuk membalas dendam atas kematian guru mereka. Keanu Reeves berperan sebagai salah satu dari samurai terssebut.

Keanu Reeves memerankan sosok Kai yang berdarah Jepang-Inggris. Karakter Kai sengaja diciptakan untu 47 Ronin. Jadi sesungguhnya tidak ada dalam peristiwa sebenarnya yang disebut Genruko Aiko. Semulai film ini dirilis November 2012, tapi diundur sampai Desember 2013.

Karya sineas Asia yang berkibar awal 2013 di dunia perfilman internasional adalah bertajuk The Berlin File disutradarai Ryu Seung-Wan, juga penulis skenario. Kisahnya mengenai agen rahasia Korea Selatan yang diperankan Han Jung-Woo, dikhianati. Kemudian melarikan diri bersama istrinya (dimainkan Jean Ji-hyun), penerjemah dari kedutaan Korea Selatan di Berlin. Agen rahasia ini dikejar–kejar oleh pihak Korea Selatan maupun Utara,

Tidak hanya karya Ry Seung-Wan, sineas Korea Selatan, yang berjaya. Juga Bong Joon-oo, sutradara muda, yang mengetengahkan Snowpiercer. Film ini berdasarkan serial komik Prancis, Le Transpenceneige. Sang sutradara menemukan serial komik ini dengan tidak sengaja pada sebuah toko buku di Hongdae, 2004. Dibacanya komik itu sampai habis, dan sembilan tahun kemudian difilmkan.

Syuting dilakukan Maret 2012 dengan bintang Korea-Hollywood. Di antaranya Chris Evans, Jemie Bell, Tilda Swinton dan Song Kang-ho. Selain sineas asal Korea Selatan, tidak ketinggalan sineas asal HongKong yaitu Wong Kar-Wai yang mencuatkan The Grandmaster, dirilis 8 Januari 2013.

Wong Kar-Wai memperlukan 17 tahun untuk mengerjakan film ini, serta dianggap sebagai proyek personal. Sebab Wong Kar-Wai mengangkat perjalanan hidup Yip Man, grandmaster kungfu yang juga guru Bruce Lee. Bagaimanapun Wong Kar-Wai mesti sepenuh hati menggarap The Grandmaster. Apalagi sudah ada tiga film sama-sama mengisahkan riwayat Yip Man, disebut pula Ip Man, yang sama-sama pula dirilis pada tahun ini.

Sineas HongKong selain Wong Kar–Wai yang mampu berkibar tahun ini ialah Steven Chow. Namun Steven Chow dalam film A Chinese Odyssey, dirilis awal Februari, tidak bertindak sebagai sutradara sebagaimana menangani Kung Fu Hustle, melainkan menjadi produser, eksekutif produser dan penulis skenario. Sutradara A Chinese Odyssey yang berongkos 86, 7 milyar rupiah, ditangani Derek Kwok.

Satu lagi sineas HongKong yang bakal berkibar di dunia perfilman internasional, yaitu Tsui Hark yang mencuatkan Detective Dee The Preaquel. Dulu Tsui Hark meluncurkan film berjudul Detective Dee, dibintangi Andy Lau. Sekarang Anddy Lau tidak terlibat. Detektif Dee diperankan Mark Chao. Aktor asal Korea Selatan, Kim Burm juga ikut main di film yang bernre beladiri dan detektif ini.

Dari Jepang ada dua sineas yang diperhitungkan pada tahun 2013 di perfilman dunia. Kedua sineas itu menggarap film animasi. Siapakah mereka yang memang master film animasi Jepang ? Isao Takahata dan Hayao Miyazaki. Iso Takahata meluncurkan Taketori Monogatari atau The Tale the Bamboo Cutter.

Taketori Monogatari berdasarkan legenda Jepang tentang seorang putri yang ditemukan dalam sebatang bambu. Kisah fantasi mengenai keabadian, ketulusan serta cinta. Sedangkan Hayao Miyazaki alias Mister Ghibli mencuatkan Wind is Rising, berdasarkan lakon nyata, tentang sang tokoh bernama Jiro Harikoshi.

Siapakah dia ? Sosok yang membuat Jepang bangga, lantaran telah menciptakan senjata mematikan di Perang Dunia 2. Pada masanya Jiro Harikoshi adalah tokoh yang disegani. Di musim panas 2013, kedua film animasi itu sama-sama dirilis. Bagaimanapun kedua film animasi tersebut diperhitungkan sekali di kancah perfilman dunia.

Sekali lagi bagaimana dengan karya sineas Indonesia, mampukah berkibar di jagad perfilman dunia ? Kita tunggu sajalah, wantu yang bakal menentukan. (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis, pemerhati film, redaktur ChannelSatu.com)

About ibra

Check Also

Suasana prescon launching film DVD Shaun The Sheep The Movie: Farmageddon. Foto: DSP.

Dari Meulaboh Sampai Papua, DVD Film Shaun The Sheep The Move: Farmageddon Sudah Hadir di CFC

Jakarta, channelsatu.com: Sequel terbaru dari film Shaun The Sheep, dengan judul : Shaun The Sheep …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *