Kamis , 20 Januari 2022
Home / Showbiz / Film, Musik, TV / SEPULUH FILM HOROR ASIA YANG DIANGGAP MENYERAMKAN

SEPULUH FILM HOROR ASIA YANG DIANGGAP MENYERAMKAN

Jakarta, channelsatu.com:Di jagad raya ini, termasuk  Indonesia, film yang banyak dibuat  adalah film bergenre horor. Entah dengan alasan apa film bergenre tersebut diproduksi, teristimewa di negeri tercinta ini yang pada suatu era jumlah produksi film horor meningkat tajam, sepertinya sampai sekarang ini (2013), 

Bisa jadi produser (Asia, teristimewa Indonesia) membuat film hantu, demikian penonton menyebut,lantaran film bergenre horor banyak ditonton, sehingga sudah diramalkan akan memetik untung. Sementara kenapa masyarakat suka menyaksikan film horor, kiranya naluriah semata.

 

Sejatinya seseorang itu paling senang ditakut-takuti, maka wajarlah apabila seseorang itupun begitu rela mengeluarkan uang hanya untuk menonton film horor.  “Sudah merogoh kantong celana, ditakuti pula.“  Demikian celoteh yang kerap terdengar di antara pewarta film.

Kapan film horor yang pertama kali dibuat di Indonesia?  Beberapa sumber menyebutkan film yang diproduksi (tahun 1941) perusahaan Action Film bertajuk Tengkorak Hidoep, disutradarai  Tan Tjoei Hock,  dengan pemeran utama Tan Tjeng Bok dan Moch. Mochtar. 

Kabarnya film Tengkorak Hidoep sangat laris. Kisahnya tentang petualangan  Raden Darmaji  dan beberapa kawannya di Pulau Mustika. Dituturkan juga di dekat pulau itu, sepuluh tahun lalu (1930) ada kapal karam. Kebetulan saudara Raden Darmaji  menumpang di kapal yang  mengalami musibah itu.  Begitupun dua ribu tahu lalu, di Pulau Mustika terkubur seorang tokoh Maha Daru, yang tewas setelah bertempur dengan Dewi Gumba. Diduga kuburan Maha Daru  berada di suatu goa.

Masuklah Raden Darmaji ke goa untuk menyelidiki kuburan Maha Daru. Lalu, saat keluar dari goa, tidaklah disangka Raden Darmaji dikejar orang-orang liar. Sedang Rumiati, anak perempuan Raden Darmaji,  ditolong Maha Daru karena dianggap reinkarnasi Dewi Gumba. Padahal Maha Daru punya maksud jahat terhadap Rumiati.

Jika kita menyaksikan film Tengkorak Hidoep saat ini yang tentu saja masih hitam putih, pasti hambar.  Mengingat teknik pembuatannya belum canggih.  Berbeda dengan menonton film horor yang diproduksi tahun sekarang yang bisa-bisa membuat penonton merinding. Atau malah membikin penonton menjerit-jerit ketakutan. Seperti yang terjadi ketika pemutaran (untuk undangan khusus dan pewarta film) Mengejar Setan, sutradara Nayato Fio Nuala, pertengahan Desember 2013 di Jakarta.

Sebagaimana film horor, Mengejar Setan ialah film yang memang sengaja dikemas untuk menakuti penonton dengan kecanggihan sinematografi maupun musik atau efek yang menggedor-gedor. Sedangkan ceritanya dibungkus sedemikian rupa, serta musti ditampilkan secara misteri.

Diceritakan tentang pasangan suami istri, Andika – Tarina, setelah mengalami kecelakaan yang nyaris menewaskan  mereka, membeli rumah tua di Bandung milik Lukman.  Mereka membeli rumah itu demi untuk menenangkan pikiran, selain harganya murah.

 

Dari sinilah cerita mulai bergulir serta ketegangan demi ketengangan dibingkai, sampai akhirnya dua puluh menit sebelum Mengejar Setan berakhir tayang, seorang penonton  betul-betul menjerit ketakutan dan tidaklah direkayasa. Menilik kejadian itu, sesungguhnya film horor memiliki pengaruh kuat terhadap penonton. Alih-alih film horor yang dibuat oleh sineas Asia, mungkin pula sineas Indonesia, dibanding sineas Hollywood yang dalam berproduksi pastinya memiliki segala kecanggihan dan modal besar.

Film horor Asia  punya nuansa yang benar-benar mencekam. Dan membuat penonton tidak bisa tidur sampai berhari-hari setelah menonton. Film horor buatan sineas Hollywood kiranya tidak akan bisa seperti film horor karya sineas Asia. Kenapa? Karena cerita horor (di)  Asia mempunyai unsur mistis, dan nuansa tersebut masih begitu kental.

Berbeda dengan cerita horor produk Hollywood yang tidak memiliki greget, sebab horor Hollywood sudah skeptis dengan hal-hal yang berbau supranatural.  Berikut ini terdapat daftar sepuluh film horor Asia yang dinilai maupun diamati kritikus film dari berbagai media film yang terbit di Asia ( Jepang, Korea Selatan, Thailand dan Indonesia) sebagai film horor yang paling menyeramkan.

Dari sepuluh film horor Asia itu, tidak ada film horor karya sineas Indonersia  yang  dianggap seram. Film horor karya (mutakhir) sineas Indonesia justru lebih mengacu  pada komedi dan vulgar.  Malah sebenarnya film erotis yang ditutup-tutupi dengan label horor.

Beberapa tahun lalu (1981), sineas Indonesia pernah membuat film horor yang termasuk berkualitas sineas Indonesia praktis tidak berinovasi.  Padahal banyak hal-hal  mistis dan legenda urban di negeri ini yang bisa diangkat  menjadi film bagus, andaikata digarap serius.

Pastilah Anda terpukau  begitu menyaksikan film horor karya sineas Thailand berjudul Nang Nak (produksi tahun 1999 dan termasuk satu film horor Asia paling seram).  Film Nang Nak, selain seram tapi dinilai artistik,  diangkat dari legenda urban di Thailand berkisah tentang Mak yang kembali setelah terluka parah dari perang Chang Toong. Mak kemudian tinggal bersama istrinya, Nak, dan anaknya yang masih bayi, tanpa menyadari bahwa  mereka sebenarnya sudah meninggal.

Selain Nang Nak, berikut ini daftar sembilan film horor Asia yang dinilai menyeramkan, ialah : Ringu (Jepang, 1998), Shutter (Thailand, 2004), The Eye ( Hong Kong,2002), Ju-On (Jepang, 2002), Alone ( Thailand, 2007),  4Bia (Thailand , 2008), A Tale of Two Sister (Korea, 2003), One Missed Call (Jepang, 2003) dan Pulse/Kairo (Jepang, 2001).

Ternyata dari sepuluh film horor Asia yang menyeramkan, film horor karya sineas Thailand dan Jepang  yang paling mendapat soroton. Ringu adalah film horor Asia yang paling sukses. Hollywood pun membuat remake-nya (ulang) dengan judul The Ring, dan hasilnya sukses.

Film horor Jepang menempatkan empat judul,  juga Thailand, dalam penilaian 10 film horor Asia terseram, diikuti Hong Kong dan Korea Selatan.  Di samping Ringu, satu lagi film karya sineas Jepang yang dibuat remake oleh Hollywood, yaitu Ju-On dengan judul The Grudge yang dibintangi Sarah Michalle Gellar.

Dalam peredaran The Grudge lumayan sukses. Beda dengan  Shutter (Thailand, 2004) yang sudah dibuat remake oleh Hollywood dengan bintang Joshua Jackson yang malah hasilnya jeblok. Di Thailand, Shutter termasuk film hit. Sukses luar biasa. Namun ketika dibuat ulang oleh sineas Hollywood, sebaliknya  justru tidak sukses.  Kenapa?  Tidak ada unsur mistis. Nah lho. (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis, pemerhati film dan Redaktur Channelsatu. com)

About ibra

Check Also

Kelompok Shivaband 20. Foto: Ist.

Shivaband 20 Sudah Punya 40 Stock Lagu dan Siap Diluncurkan

Jakarta, channelsatu.com:Pendatang baru grup musik, Shivaband 20 siap meramaikan industri musik Indonesia diawal 2021 ini. …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *