Jakarta, Channelsatu.com – Musik kembali menjadi wadah refleksi bagi **Rhoma Irama** dalam menyalurkan pesan sosial dan spiritual. Melalui lagu terbarunya berjudul *“Senyum”*, sang legenda mengajak masyarakat merenung tentang pentingnya kebaikan sederhana di tengah kerasnya kehidupan digital saat ini. Dirilis pada **10 Oktober 2025** oleh **Proaktif Musik**, karya ini menjadi simbol kepekaan Rhoma terhadap fenomena sosial masa kini.
Lagu *“Senyum”* tercipta dari kegelisahan Rhoma terhadap maraknya ujaran kebencian dan saling hina di dunia maya. Bagi Rhoma, keadaan itu mencerminkan hilangnya empati dan kasih di antara sesama manusia. “Banyak orang ribut, saling maki, wajah garang. Dari situ saya ingin mengingatkan bahwa tersenyum adalah bentuk sedekah,” ucapnya.
Dalam lagu ini, Rhoma tidak hanya bernyanyi, tetapi juga berdakwah dengan lembut. Ia menegaskan bahwa dakwah dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui musik dangdut yang sudah lama menjadi media perjuangannya. Setiap bait lirik *“Senyum”* mengandung pesan bahwa kebahagiaan dan ketenangan bisa dimulai dari hal kecil, yakni senyum tulus kepada sesama.
Secara musikal, *“Senyum”* tetap mempertahankan ciri khas Rhoma dengan perpaduan melodi klasik dan sentuhan modern yang ringan. Aransemen lembut dengan instrumen gitar khas Soneta Group menjadikan lagu ini terasa hangat dan menenangkan bagi pendengar lintas generasi.
Proses kreatifnya juga menunjukkan kedalaman perenungan. Rhoma menulis lirik terlebih dahulu sebelum menciptakan musiknya, agar setiap kata mengandung kekuatan makna dan relevansi dengan pesan dakwah. Ia ingin pendengar tidak sekadar menikmati irama, tapi juga meresapi nilai yang terkandung di dalamnya.
Video klip *“Senyum”* menghadirkan visual yang sederhana namun sarat simbol: anak-anak, pekerja, dan masyarakat berbagai latar tersenyum satu sama lain. Semua menggambarkan makna universal bahwa senyuman adalah bahasa perdamaian yang dimengerti semua orang.
Dengan *“Senyum”*, Rhoma Irama membuktikan bahwa dangdut bisa menjadi medium refleksi sosial yang kuat, bukan sekadar hiburan. Ia menutup pesannya, “Kalau ingin dunia damai, mulai dari diri sendiri. Tersenyumlah. ich
