SEJARAH ISLAM DI BALI: WALI PITU DAN MENGIBUNG

Share

Bali, channelsatu.com:Jika di Tanah Jawa terdapat Wali Songo atau Sembilan Wali, maka di Bali, pulau yang penduduk mayoritasnya memeluk agama Hindu ada Wali Pitu atau Tujuh Wali yang merupakan penyebar agama Islam di Pulau Dewata. 

Wali Pitu itu adalah: Pangeran Mas Sepuh alias Raden Amangkuningrat,  Habib Umar Maulana Yusuf, Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Khamid, Habid Ali bin Zaenal, Abidin Al Idrus, Habib Ali bin Umar Bafaqih dan Syeh Abdul Qodir Muhammad.

Sesungguhnya Wali Pitu  atau Tujuh Wali merupakan hasil penelitian Habib Toyib Zein Assegaf. Semula sang Habib itu  mendapat isyarat kesufian  mengenai tujuh orang penyiar agama Islam di Bali. Lantas berdasarkan isyarat kesufian tersebut sang Habib melakukan penelitian  untuk membuktikan benar adanya.

- Advertisement -

Keberadaan Wali Pitu  tidak banyak dipermasalahkan. Setidaknya Wali Pitu itu memiliki peranan masing-masing kepada masyarakat di zamannya dalam melakukan syiar Islam. Dan bagaimanapun  penelitian Habib Toyib Zein Assegaf  tidak lain suatu apresiasi yang berkaitan dengan sejarah perkembangan umat Islam di Bali, termasuk figur yang memberikan kontribusi terhadap sejarah Islam di Bali.

Penelitian dan kajian lebih lanjut sangat diharapkan serta penting.  Hal ini hendaknya untuk menggugah umat Islam Bali dapat meningkatkan semangat berdakwah dengan pendekatan modern, toleran  serta damai. Tidak dingkari wajah perkembangan Islam di Bali  sangat khas. Banyak warna dan makna untuk direnungi maupun diselami.

Saat ini ada istilah ziarah Wali Pitu atau mengunjungi makam  tokoh yang menyebarkan agama Islam di Bali. Makam tokoh  penyiar Islam itu tersebar serta dikeramatkan,  termasuk yang berada di Pura Langgar di Desa Bunutib, Kabupaten Bangli. Pura itu  sering dikunjung kaum muslim dari luar Bali, juga kaum muslim yang di Bali sendiri.

Di dalam Pura Langgar ada bangunan berbentuk langgar atau surau. Kendati diberi nama langgar, bangunan di tengah pura yang dibangun di areal seluas satu hektar tidak digunakan salat . Sedang untuk salat  disediakan di tempat lain di dalam pura. Di dalam pura  pun juga disediakan tempat wudhu.

- Advertisement -

Pura Langgar itu  termasuk menjadi salah satu tujuan wisata religi umat Islam,selain umat Hindu. Betapa melihat gambaran seperti itu, masalah keterkaitan  dan kerukunan kedua agama sangat erat, bahkan bersahabat sekali. Masyarakat muslim yang datang ke Pura Langgar berkisah bahwa  mereka mendapat cerita dari leluhurnya. Ada seorang pengunjung dari Madura, menuturkan bila ke Bali, harus  mengunjungi Pura Langga.

Perlu dikisahkan pula tentang Pura Langgar bahwa umat Hindu di kawasan itu tidak diperbolehkan membawa makanan yang diharamkan dalam agama Islam, jika mengadakan upacara. Sertamerta aturan itu benar-benar dipatuhi dan tidak dilanggar. Mengenai maraknya ziarah religi ke Wali Pitu, pihak Majelis Ulama Indonesia kota Denpasar mengingatkan agar ziarah tersebut tidak menyimpang dari akidah.

Demikianpun perihal Wali Pitu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Denpasar menyakakan, “Tidak salah jika warga muslim menjadikan Wali Pitu sebagai panutan. Ziara ke makam Wali Pitu tetap  tak boleh menyimpang dari sejarah, “ kata Mustofa Al Amin, Ketua MUI kota Denpasar dalam  rilisnya yang dikirim ke ChannelSatu.com.

Terlepas dari ziarah religi ke Wali Pitu, memang tidak dapat disangkal betapa Islam di Bali betul-betul penuh warna. Salah satu yang  khas dilakukan adalah Megibung,  tradisi budaya pada saat Lebaran Haji.  Megibung ini sudah menjadi bagian tradisi yang mengakar bersama warga Bali.

Mengibung ialah cara makan bersama yang terdiri dari beberapa kelompok. Dalam kelompok terdiri  6-8 orang dengan posisi duduk melingkar atau berhadapan dan mengelilingi nampan atau tempat sajian makanan. Sementara makanan yang tersaji berisi nasi, lauk, lawar kelapa, daun belimbing, daging ayam, kambing, sapi dan bumbu Bali, sate plecing, soup atau komoh, urap dan lainnya.

Untuk menyantap, mereka menggunakan tangan dan dilakukan secara bersama. Pada saat makan tidak diperkenakan ada makanan yang terjatuh di wadah atau tempat nasi, tetapi musti di luar wadah. Apabila ada salah seorang peserta Megibung sudah kenyang, maka orang tersebut tidak diperkenankan bangun dari duduknya terlebih dulu bahkan meninggalkan. Sebaliknya harus menunggu peserta lain supaya selesai makan dan bangun secara bersama-sama.

Megibung ini dilakukan masyarakat muslim yang tinggal di Kabupaten Karangasem, wilayahnya terletak di ujung timur Pulau Bali. Tradisi Megibung biasa dilakukan saat bersilaturahim atau sekadar berkumpul dengan karabat atau sanak saudara, dan akhirnya sudah menjadikan tradisi budaya lokal sebagai kegiatan sehari-hari.

Sebenarnya Megibung tidak cuma membuat perut kenyang, melainkan pula untuk sarana tukar pikiran maupun sekadar bercanda. Kata lain Megibung dimaksudkan sebagai tanda terima kasih. Mengibung berasal dari kata dasar Gibung yang mendapat awalan megibung. Awalan me berarti melakukan kegiatan atau aktivitas. Jadi Mengibung  memiliki arti kegiatan dilakukan secara bersama-sama. Yaitu saling berbagi antara satu orang dengan orang lainnya.

Pada Idul Kurban ada hal yang unik apabila melakukan Megibung. Hewan kurban berupa sapi, yang mau disembelih tidak boleh berwarna putih. Kenapa ? Untuk menjaga toleransi keagamaan terhadap penduduk Bali yang memeluk agama Hindu. Sapi warna putih, bagi masyarakat Bali beragama Hindu dianggap sebagai binatang yang disucikan.

Islam di Bali memang punuh warna dan makna. Banyak tradisi (kearifan) lokal yang sudah menyatu,  dan kiranya patut dijaga. Sejarah sudah menorehkan serta membuahkan, betapa keterkaitan  kedua agama, Islam dan Hindu, begitu akrab, serta saling memahami dalam menjaga kehormatan. Sungguh toleransi yang indah. (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis, esais, dan Redaktur Channelsatu.com)  Foto-foto: Ilustrasi.    

Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS