Jakarta, channelsatu.com: Seperti halnya Sushi, Ramen pun mengikuti jejak menjadi duta kuliner Jepang. Jika Sushi langsung menjarah New York, Amerika Serikat, maka Ramen dengan strategi yang tertata merambah ke pelosok dunia. Memang terdapat perbedaan tipis, mengenai asal muasal Sushi dengan Ramen.
Sushi, jelas sekali makanan khas Jepang, sedang Ramen yang tidak lain makanan Mi, berasal dari negeri China. Tidak dipungkiri budaya kuliner Mi memang berasal dari negeri China, tepatnya adalah Tiongkok. Dalam sejarah tercatat, konon, bahwa pada zaman dahulu pembuatan Mi di China menggunakan air asin dari Danau Kandi, di pedalaman Mongolia. Air asin itu mengandung garam mineral alami.
Makanan Mi akhirnya menyebar ke kawasan Barat benua Asia, yakni Taiwan, Jepang dan wilayah Hong Kong. Dalam penyebaran tersebut, terjadilah persinggungan, bahwa beberapa negara menjadikan Mi sebagai kuliner khasnya. Termasuk di Jepang yang kemudian disebutlah Ramen.
Menurut catatat sejarah, pertama kali orang Jepang menikmati Mi adalah Tokugawa Mitsukuni. Pembuatnya adalah seorang ilmuwan Konghucu yang diasingkan oleh Dinasti Ming, Ilmuwan Konghucu ini diundang datang ke Domain Mito. Maka dari situlah makanan Mi bergulir menyebar ke penjuru negeri Matahari Terbit, dan masyarakat Jepang lantas menyebut Ramen.
Begitu Ramen mengakar pada masyarakat Jepang, menjadi sajian utama di rumah, dari hidangan sarapan sampai makan malam, mulailah Ramen menyebar ke luar Jepang. Hong Kong, kota yang paling banyak disinggahi. Sekarang ini, sebenarnya juga di Indonesia, di Hong Kong banyak ditemui restoran yang menjual Ramen.
Menilik penyebaran Ramen yang luar biasa itu, pihak pemangku kepentingan pun mulai berbenah diri. Itu jerjadi pada era 1980-an. Setiap daerah atau kota di Jepang sudah mulai memiliki cita rasa khas Ramen tersendiri, untuk mendongkrak pesona pariwisata. Juga, semua itupun untuk membangkitkan perekonomian daerah.
Promosi tiap daerah, di Jepang, dilakukan melalui media, yang sejatinya Ramen menjadi salah satu kekayaan kuliner khas Jepang. Di New York, mulai terdapat beberapa penjual Ramen yang menyesuaikan rasa Ramen dengan selera orang Amerika Serikat. Setidaknya mengikuti langkah Sushi yang sudah lebih dulu dikenal sebagai makanan kelas tinggi di New York.
Kini, di Jepang, mempunyai dua aliran Ramen. Pertama Ramen kuah untuk menu rumah makan. Umumnya para imigran yang mengelola rumah makan itu. Ramen kuah ini diberi tambahan tauge, atau tanpa lauk (tanmen) atau Ramen pangsit kuah, atau Ramen ala Kanton. Bisa pula Ramen rasa miso atau rasa shio.
Kedua ialah Ramen kuah yang dijajakan pedagang kaki lima di waktu malam. Pedagang Ramen ini menjual dengan gerobak dorong, sambil meniup terompet charamela (itu dululu), yang sekarang ini diganti dengan suara rekaman. Dalam perkembangannya penjual Ramen gerobak ini menarik untuk dicermati, malah ada yang menggunakan mobil dan membawa kursi untuk berjual di tempat ramai. Malah ada yang membuat restoran khusus, setengah permanen.
Yang menarik lagi dari perkembangan Ramen, khususnya di Jepang, bahwa setiap daerah mempunyai ciri khas sendiri. Misalnya, Kushiro Ramen, Kitami Ramen, Asahikama Ramen dan Sapporo Ramen dari Hokkaido. Ada ciri Tsugaro Ramen, Sakata Ramen dan Shirakawa Ramen dari Tohoku Raman, serta masih banyak lagi dari berbagai daerah di Jepang. Keunikan Ramen khas daerah ini jelas memiliki nilai komersial.
Jika Anda berkunjung ke Jepang, entah itu ke Tokyo, Osaka atau Kobe, banyak biro perjalanan yang menawarkan paket wisata berkeliling ke kedai Ramen terkenal. Tentu suatu tawaran yang memikat bagi para turis asing, tidak terkecuali turis lokal, warga Jepang sendiri.
Tidak diingkari Ramen bukan sekadar makanan. Terdapat legenda, dulu ada pemuda yang ingin mempelajari bagaimana membuat Ramen. Pemuda ini datang ke ahlinya, dan mulailah belajar. Setelah lama belajar, pemuda ini diuji. Hasilnya tidak memuaskan. Racikannya dinilai hambar. Karenanya harus ujian ulang.
Perihal nilai ujian ulang itu, hasilnya tetap saja tidak memuaskan. Racikannya tidak memiliki rasa khas. Sampai terus mengulang dan mengulang. Tapi pemuda itu tidak menyerah. Lama-lama pemuda itu kesal, lantaran Ramen buatannya selalu dianggap tidak enak. Bertanyalah pemuda ini pada pakar Ramen itu, dan apa jawabannya ?
Pemuda itu diminta untuk mencermati tamu menyantap Ramen di restoran milik pakar Ramen tersebut. Apa yang terjadi, di sinilah ahli Ramen menjelaskan, betapa untuk membuat Ramen yang enak harus dengan hati yang gembira. Lihatlah tamu restoran, ujar pakar Ramen. dengan gembira mereka menyantap Ramen dan demikian lahap.
Intisari dalam membuat Ramen adalah dengan hati yang gembira, supaya Ramen bercita rasa enak serta lezat. Saat membuat Ramen jangan bersedih dan bersuasana hati yang rapuh. Bagaimanapun membuat Ramen harus dengan suasana hati. Bukan dengan emosi.
Konsumen Ramen alias penyuka atau penikmat Ramen ialah ukurannya. Apabila penikmat merasakan suasana hati si pembuat Ramen, maka hidangannya bisa dinilai sukses. Kiranya legenda itu menarik untuk direnungkan. Ringkas kata, dalam masalah pekerjaan, tidak terkecuali profesi koki atau pemasak, situasi hati yang mesti dikedepankan alias yang diutamakan. Sekali lagi bukan karena bekerja dengan emosi, tapi dengan hati. (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis dan pemerhati masalah kuliner)
