Sabtu , 24 Oktober 2020
Home / Showbiz / Film, Musik, TV / PENTAS KELILING KOMUNITAS AKTOR LABORATORI KE TUJUH KOTA

PENTAS KELILING KOMUNITAS AKTOR LABORATORI KE TUJUH KOTA

Jakarta, channelsatu.com: Dengan membawa naskah karya almarhumah Fitri Fajar Asih bertajuk Satu Rumah Tiga Tangga, Komunitas Aktor Laboratori (KAL)  pentas keliling ke tujuh kota.

Pentas perdana di Gedung Kesenian Jakarta, selama dua  hari, akhir November 2013, baru kemudian tampil di kota Medan, Sumatera Utara,  selanjutnya singgah di Padang, Surabaya, Yogyakarta, Solo dan pentas terakhir, akhir Desember 2013, di Denpasar, Bali.

Lakon  realis dengan genre komedi situasi, durasi pementasan 45 menit,  bertutur perkara poliandri. Yakni sistem perkawinan yang membolehkan wanita memiliki suami lebih dari satu orang pada waktu yang bersamaan.  Tidak dipungkiri kisah Satu Rumah Tiga Tangga terasa menggugat. Setidaknya dipentaskan naskah ini bukan untuk mencari pembenaran tetapi mencari sebuah pembelajaran untuk pria sebagai sosok pemimpin dalam berumah tangga.

Dimulai dengan adegan panggung yang menyentak tentang Laila Sari, sosok istri yang memiliki tiga orang suami: Faizal, suami pertama, Je, suami kedua dan Rama, suami ketiga, yang pada suatu malam dalam suasana sangat menegangkan sekaligus membahagiakan bagi para suami, karena Laila Sari akan melahirkan. Di ruang tunggu klinik bersalin itulah: Faizal, Je dan Rama, sedang menunggu detik kelahiran anak mereka.

Apa yang terjadi pada adegan berikutnya? Kegelisahan, kecemasan, kegugupan dan juga kekhawatiran.  Perkara tersebut yang bakal digulirkan KAL dalam pementasan keliling dengan menampilkan aktor  Rama Sastra Negara, Putri Diaz, Sebastian dan Faizal Ali Rasyid. 

KAL dikukuhkan pada 21 Agustus 2013 merupakan kelompok para aktor  yang ingin mencoba membuktikan bahwa berhasil atau tidak sebuah pementasan untuk mencapai takaran artistik yang diinginkan tidak selalu tergantung pada sutradara, justru pada aktor.

Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk memainkan sebuah cerita. Kemudian para aktor ini berlatih dan tentu akhirnya memainkan dihadapan penonton. Lantas sejalan dengan kebutuhan, mengingat perkembangan kondisi zaman, figur sutradara yang bisa diartikan guru, pun diperlukan.

Almarhum Arifin. C. Noer menyatakan: Sutradara bisa mati, tapi aktor tidak.  Sedang aktor kawakan Didi Petet dalam kata pengantar pementasan keliling yang dilakukan KAL mengutarakan perihal kreativitas aktor tidak bisa berhenti hanya dengan tidak ada sutradara dan gedung pertunjukan. Aktor bisa memainkan peran dimanapun bumi diinjak. Aktor penyampaikan pesan kepada penontonnya serta harus tersampaikan  dengan sebaik-baiknya.
Kita tunggu saja kedatangan KAL yang mementaskan lakon Satu Rumah Tiga Tangga karya Fitri Fajar Asih di tujuh kota, yang dimulai di Jakarta dan ditutup di Denpasar, Bali.  (Syamsudin Noer Moenadi). Foto: ist.

About ibra

Check Also

Suasana prescon film Roh Mati Paksa "Cinta Berujung Maut" di XXI Epicentrum, jakarta Selatan, Jumat (7/2/2020) kemarin. Foto: Ki2.

Film Roh Mati Paksa “Cinta Berujung Maut” Tayang di 3 Negara Serumpun

Jakarta, channelsatu.com: Film horor aksyen produksi Super Media Pictures, dengan judul Roh Mati Paksa “Cinta …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *