Jakarta, Channelsatu.com – Di tengah derasnya arus globalisasi, Pemuda Adat menghadapi dilema besar: menjaga identitas atau mengikuti arus modernisasi. Tantangan ini semakin kompleks ketika tanah ulayat terus terancam penggusuran, eksploitasi, hingga tekanan korporasi besar.
Funa-ay Claver dari Asia Young Indigenous Peoples Network (AYIPN) menyoroti maraknya pelanggaran hak atas tanah yang membuat Pemuda Adat kerap tersisih. Hal serupa juga terjadi di Kongo, di mana penebangan liar dan pertambangan merenggut hak hidup masyarakat adat tanpa persetujuan.
Meski begitu, globalisasi juga membuka peluang baru. Teknologi digital, jaringan lintas negara, hingga akses pendidikan memungkinkan Pemuda Adat memperkenalkan budaya, menjaga identitas, sekaligus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Hero Aprila dari Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) menyebut salah satu strategi untuk menghadapi tantangan itu adalah dengan membangun sekolah adat. Inisiatif ini menjadi ruang belajar alternatif di mana pengetahuan leluhur ditransfer langsung dari tetua adat kepada generasi muda melalui praktik langsung di hutan, sungai, atau kebun.
Di Afrika, CEPF merancang program serupa untuk memberdayakan perempuan dan anak perempuan adat. Dari pelatihan pengelolaan hutan hingga pembentukan koperasi briket ekologis, hasilnya berhasil menekan deforestasi hingga 40 persen sekaligus memberi kemandirian ekonomi bagi komunitas.
AYIPN juga meluncurkan kampanye global Indigenous Lands in Indigenous Hands (ILIH) sebagai seruan agar seluruh pemuda adat bersatu mempertahankan tanah dan sumber daya yang tersisa. Kampanye ini telah membangun jaringan lintas negara yang memperkuat kapasitas kepemimpinan muda adat.
Cindy Yohana menegaskan bahwa kolaborasi lintas negara adalah kunci. Pertukaran pengalaman, kampanye bersama, hingga advokasi global diyakini akan memperkuat posisi Pemuda Adat dalam menghadapi krisis global seperti perubahan iklim dan perampasan tanah.
Dengan strategi ini, Pemuda Adat tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu menjadi motor perubahan. Di era globalisasi, mereka hadir sebagai jembatan antara tradisi leluhur dan dunia modern, memastikan identitas tetap lestari sekaligus membawa harapan baru untuk bumi. ich
