Pangeran Diponegoro dan Harga Diri Bangsa: Dua Abad Jejak Perlawanan yang Tak Terhapus Waktu

Share

Channelsatu.com, Jakarta – Dua abad sejak dimulainya Perang Jawa, sosok Pangeran Diponegoro masih membayang kuat dalam memori kolektif bangsa. Ia bukan sekadar simbol perlawanan, melainkan perwujudan semangat kebangsaan yang tak gentar menghadapi penindasan. Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, nilai-nilai perjuangan yang ia wariskan kembali digaungkan dalam peringatan 200 tahun Perang Jawa yang digelar oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta, Jumat (25/7/2025).

Momentum ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana sejarah bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi sumber inspirasi yang terus memberi arah. Melalui serangkaian pidato, diskusi, dan peluncuran program kebudayaan, para tokoh dan cendekiawan memperlihatkan bahwa perjuangan Diponegoro adalah cerminan dari keyakinan dan integritas yang tetap relevan bagi bangsa Indonesia saat ini.

Sri Sultan Hamengku Buwana Ka 10, yang hadir sebagai tokoh utama dalam acara tersebut, menegaskan bahwa Perang Jawa bukan sekadar bentrokan fisik antara pejuang dan kolonial, melainkan juga perang atas martabat dan nilai kemanusiaan. Dalam pidato budayanya, ia menggambarkan bagaimana Diponegoro—seorang pangeran sekaligus pemuka agama—berdiri di tengah rakyat sebagai cahaya di tengah kegelapan.

- Advertisement -

“Pangeran Diponegoro ‘sang pangeran-pandhita’, tampil bagai surya di tengah kegelapan, sebagai jiwa penggerak yang menyatukan rakyat dalam satu tekad: melawan,” ujar Sri Sultan, seraya menekankan konsep Manunggaling Kawula-Gusti sebagai fondasi kepemimpinan yang Diponegoro teladankan—kesatuan pemimpin dan rakyat yang saling menguatkan demi tujuan bersama.

Sementara itu, Kepala Perpusnas RI, E. Aminudin Aziz, dalam sambutannya menekankan bahwa tema “Martabat” menjadi pilihan utama dalam peringatan ini. Ia melihat bahwa perjuangan Diponegoro bukan hanya sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, tapi juga tentang pemuliaan harkat dan harga diri manusia Indonesia.

“Hakikat martabat inilah yang ingin kami wujudkan dalam kiprah Perpusnas yang diberi mandat untuk membangun kecakapan literasi melalui penguatan budaya baca, merawat bahan pustaka warisan bangsa, dan membina perpustakaan se-Indonesia Raya. Itulah hakikat visi baru kami: Perpustakaan Hadir Demi Martabat Bangsa,” jelas Aminudin.

Ia juga mengangkat pentingnya menjaga warisan intelektual bangsa melalui peluncuran program “Pemajuan Naskah Nusantara.” Sebuah langkah yang ditujukan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap kekayaan naskah lama, sekaligus menjadikan naskah sebagai sumber inovasi kreatif dan pengetahuan modern.

- Advertisement -

Program ini, lanjut Aminudin, berdiri di atas tiga pijakan: menyebarluaskan isu-isu pernaskahan ke ruang publik, membuka akses dan peluang penciptaan karya berbasis naskah, serta memperkuat ekosistem pernaskahan melalui kolaborasi lintas sektor.

Gelar wicara bertema Demi Martabat Bangsa: Refleksi Peristiwa Perang Jawa bagi Indonesia Maju turut memperkaya peringatan ini. Sejarawan Inggris, Peter Carey, yang selama puluhan tahun meneliti kisah hidup Diponegoro, memberikan pandangan yang tajam tentang integritas sang pangeran. Ia melihat Diponegoro sebagai bangsawan yang memilih berjalan berdampingan dengan rakyatnya, menolak kompromi, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral di atas kepentingan pribadi.

“On the rise and fall of a country, everyone has a responsibility. Self and family may be sacrificed, but between right and wrong there can be no compromise. Hal tersebut yang dijiwai oleh seorang Diponegoro—integritas yang tinggi dan tidak kenal kompromi,” kata Peter, penulis biografi penting The Power of Prophecy.

Lebih dari sekadar perlawanan militer, perjuangan Diponegoro, menurut generasi ketujuhnya, Roni Sadewo, adalah bentuk pengabdian pada nilai spiritual dan keadilan. Ia menegaskan bahwa babad yang ditulis Diponegoro di pengasingan memperlihatkan keengganan sang pangeran terhadap kekerasan, namun juga tekadnya dalam menjaga martabat dan menjalankan ajaran agama.

“Perang bukanlah hal yang disukai oleh Pangeran Diponegoro. Dalam babad yang ditulis di masa pengasingan, sangat jelas bahwa beliau ingin menjaga martabat dan menjalankan perintah agama dengan benar,” ungkap Roni.

Roni meyakini bahwa warisan utama Diponegoro bukan pada senjata, melainkan pada keteladanan nilai: keberanian, kejujuran, dan kebijaksanaan yang tertulis dalam setiap laku hidup dan ajaran spiritualnya.

Pandangan ini dikuatkan oleh Ahmad Ginanjar Sya’ban, peneliti manuskrip Islam Nusantara, yang menekankan sisi keulamaan Diponegoro sebagai bagian yang tak boleh diabaikan. Ia mengungkap bahwa salah satu karya yang membentuk pandangan hidup Diponegoro adalah kitab al-Tuhfah al-Mursalah karya sufi besar Al-Burhanpuri, yang memuat ajaran tentang Martabat Tujuh—ajaran tasawuf yang membentuk dimensi spiritual dalam perjuangannya.

“Salah satu literatur yang menjadi bacaan favorit Sang Pangeran dan membentuk karakter beliau itu satu buah karya yang berjudul al-Tuhfah al-Mursalah karya sufi agung dari Gujarat, Al-Burhanpuri dan isi ajarannya adalah mengenai Martabat Tujuh,” terang Ahmad.

Di tengah perubahan zaman, sosok Diponegoro tetap hidup dalam pemikiran akademik dan kebudayaan bangsa. Eka Ningtyas, dosen sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, menyatakan bahwa Diponegoro telah berkembang dari simbol lokal menjadi figur nasional yang nilai-nilainya dapat menjadi pedoman kepemimpinan modern.

“Spirit perjuangan Diponegoro bukan sekadar warisan bagi orang Jawa, tapi bekal kepemimpinan bangsa Indonesia hari ini agar menjadi bangsa yang kuat,” ujar Eka.

Sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai sejarah dalam ranah publik, Perpusnas juga menggelar lomba poster digital dan lomba esai bertema 200 Tahun Perang Jawa. Para pemenang diumumkan dalam acara ini, menandai bahwa sejarah bukan hanya untuk dihafal, tetapi juga untuk ditafsirkan dan dikreasikan ulang oleh generasi muda.

Peringatan ini menegaskan bahwa meskipun waktu telah menghapus jejak kaki Diponegoro dari tanah Jawa, semangatnya tak pernah benar-benar hilang. Ia hidup dalam naskah, dalam ingatan, dan dalam tindakan-tindakan kecil yang meneguhkan harga diri bangsa. Karena seperti sejarah telah ajarkan: bangsa yang menjaga martabatnya, adalah bangsa yang tak mudah dijajah lagi—baik oleh kekuatan luar maupun oleh kelemahannya sendiri.

 

Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS