Rabu , 4 Agustus 2021
Home / Showbiz / Sinopsis / OPAK DAN KERUPUK UDANG PAK MADRAKIN

OPAK DAN KERUPUK UDANG PAK MADRAKIN

Bogor, channelsatu.com: Opak, demikian banyak orang menyebut, alias juga keripik, adalah makanan khas bangsa Indonesia yang asalnya jajanan Sunda, daerah Jawa Barat. Di negeri lain, Malaysia misalnya yang tidak lain negeri serumpun, tidak ada makanan yang seperti opak. Paling-paling makanan kerupuk, yang termasuk pula kudapan khas asli Indonesia.
Opak ini yang berbahan dari tepung beras, garam, gula dan bumbu penyedap, saat ini menjadi cemilan biasa. Memang mecicipi cemilan ini akan terasa nikmat, bila diolesi sambal bawang terasi yang sudah disiapkan di setiap bungkusnya. Dulu, kebanyakan orang di Tanah Sunda, opak sebagai makanan yang selalu disajikan bersama makanan lainnya, pada makan pagi, sarapan, siang dan malam. Seperti halnya kerupuk.

Kini makanan opak termasuk susah dicari. Tidak setiap warung menjajakan. Berbeda dengan kerupuk. Malah kerupuk dengan berbagai jenis serta variasi, dan dikemas secara modern, karena dibuat oleh pabrik besar, dijual di supermarket. Sebaliknya opak , seringkali terlihat dijual di lampu merah perempatan jalan, ketika terjadi kemacetan.

Setidaknya mulai sulit untuk mencari makanan opak. Praktis tidak gampang dicari, sebagaimana kerupuk, termasuk kerupuk Palembang. Rasa opak maupun kerupuk sama-sama gurih dan renyah. Untuk menggoreng opak dan kerupuk supaya garing serta renyah, diperlukan cara khusus. Yakni dijemur terlebih dulu.

Tujuannya dijemur agar tidak ada sisa air atau bahan pembuat lainnya yang masih menempek di opak maupun kerupuk. Dengan dijemur di bawah sinar matahari hingga kering, maka opak dan kerupuk akan mekar dan terasa renyah. Ada teknik menggoreng opak dan kerupuk yang benar.

Untuk kerupuk maupun opak yang berukuran tipis juga ukuran besar seperti kerupuk udang atau legender, hendaknya digoreng satu persatu ke dalam minyak dengan panas sedang, sembari ditekan agar tak melengkung. Untuk kerupuk kecil, kerupuk bawang atau kerupuk keju , bisa digoreng sekaligus, asalkan semua kerupuk temggelam ke dalam minyak.

Untuk kerupuk tebal, kerupuk ikan Palembang, digoreng dalam dua tahap. Caranya goreng di dalam minyak di atas api kecil hingga setengah mekar, aduk sebentar, lantas angkat dan tiriskan. Setelah itu, lanjutkan dengan mengoreng kerupuk dalam minyak banyak yang panas sambil diaduk–aduk sampai mekarnya sempurna.

Begitu matang, tentu ada sisa minyak yang menempel pada kerupuk. Cara mengurangi minyak itu, bisa meniriskan kerupuk dengan tisu makan atau kertas. Sekiranya sudah tak ada minyak yang menempel, langsung bisa disimpan ke dalam toples agar kerupuk tetap renyah saat dimakan.

Sebetulnya menggoreng opak tidak seribet goreng kerupuk. Cukup dimasukkan ke dalam minyak. Begitu matang, segera diangkat dan ditaruh ke dalam wadah supaya garing serta renyah. Tapi ingat ,sebelum digoreng mesti dijemur lebih dulu. Terus terang saya sendiri penggemar opak maupun kerupuk, tapi bukan sebagai makanan camilan.

Terus terang saya akui untuk mencari opak, sangat susah. Kebetulan suatu waktu, sebulan sebelum bulan Ramadan, saya menyusuri komplek Villa Cinera,  dan berpapasan dengan Pak Madrakin, berusia 86 tahun yang berjualan opak. Saya membeli beberapa bungkus opak, yang harga perbungkusnya enam ribu rupiah.

Satu bungkus opak berisi lima lempengan  bulat, yang dihitung-hitung terlalu murah. Selempeng harganya seribu dua ratus rupiah. Dan Pak Madrakin tidak cuma menjual opak, dijajakan juga tahu sumedang, kerupuk udang, serta makanan kering dari cirebon.

Apa yang dilakukan Pak Madrakin jelas merupakan gerakan nyata dalam mempertahankan warisan kuliner yang sekarang ini nyaris punah. Selain bahwa opak telah memberikan roda perekonomian keluarganya. Pak Madrakin berjuang sendiri, sebab anak dan istrinya berada di kampung halamannya, Cirebon.

Sepuluh tahun, malah lebih, berjualan keripik panggang di Cinere, sebuah kawasan yang tidak jauh dari destinasi wisata Kebon Binatang, Ragunan, Jakarta dan Masjid Kubah Mas, Depok, Bogor. Setiap hari Pak Madrakin memikul dagangannya dengan jalan kaki, dan setiap harinya bisa menjual delapan sampai sepuluh bungkus opak.

Pak Madrakin dalam usia yang sudah senja sekali tidak mengenal lelah dan justru sangat gigih menyusuri satu kelurahan , berada di kota Depok, Bogor, Jawa Barat, yang daerahnya asri dan hijau. Maka dengan kegigihan itu Pak Madrakin sanggup membayar sewa kontrakan rumahnya, ditambah bisa membawa hasil untuk keluarga di Cirebon.

Begitu Pemurah Allah. Begitu Maha Besar Allah. Apakah kita tidak merasa iri dengan Pak Madrakin yang di usia hampir 90 tahun, masih gigih memandang kehidupan, bekerja keras dan enggan dikasihani. Sementara kita yang masih kuat dan muda umurnya lebih memilih bermanja-manja,kerap melakukan jalan pintas dalam usaha. Sungguh betapa malu kita sebagai orang muda. (Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis dan memerhati kuliner).

About ibra

Check Also

Ketum Pafindo dan Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Kebudayaan, Prof Agus Suradika

Ketum Pafindo Gion Prabowo, “Ini Bukan Pepesan Kosong”

Jakarta, channelsatu.com:”Kantor kita di Jakarta. Cari makan di Jakarta. Rumah kita di Jakarta. Tentu sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *