Cirebon, channelsatu.com:Ketika saya sekeluarga mengutarakan keinginan untuk berlibur ke Cirebon, kota yang terletak di dekat perbatasan Provinsi Jawa Tengah , seorang rekan jurnalis langsung menyahut keras meminta oleh-oleh Kerupuk Mlarat. Sahutan yang keras itu membikin saya terpana, kenapa tidak meminta oleh –oleh batik, yang dikenal Batik Trusmi, misalnya, tapi justru malah mengharap oleh-oleh makanan kerupuk (lagi). Apa karena nama kerupuk yang membuat saya tersipu, sebab kata melarat mempunyai arti miskin.
Rekan saya yang berprofesi jurnalis itu, punya jam terbang tinggi, sudah malang melintang bekerja di berbagai media, lantas menjelaskan bahwa kerupuk mlarat (mlarat merupakan ucapan Cirebon, jika ditulis : Melarat) tidak seperti kerupuk pada lazimnya yang cara memasaknya tidak digoreng dengan minyak sayur melainkan menggunakan media pasir yang telah disterilkan dan dipanaskan dalam wajan tanah liat sehingga kandungan kolestorelnya rendah. Bahan Kerupuk Mlarat itu terbuat dari tepung sagu yang kaya akan kandungan karbohidrat.
Penjelasan rekan saya itu jelas semakin ngeh, sertamerta paham kenapa minta dioleh-olehi Kerupuk Mlarat. Rekan saya sengaja menghindari kolesterol, maka saya pun jadi mengerti mengapa rekan itu tidak menyukai makanan goreng-gorengan, seperti singkong goreng yang dijual di pinggir jalan dan digorengnya dengan minyak sayur bekas.
Namun kenapa dinamakan mlarat, nah dalam hal ini perlu penelusuran sendiri dan data yang bisa dipertanggungjawaban. Menurut orang-orang Cirebon, termasuk menghubungi mereka yang berada di Jakarta, bahwa dulu entah kapan alias konon, kerupuk tersebut dikonsumsi oleh kalangan yang tidak mampu. Orang-orang papa yang menyukai. Kalangan papa ini tidak punya uang untuk membeli makanan dengan lauk pauk yang bergizi, dan bisanya cuma beli kerupuk saja. Sehingga sehari-hari makanan utamanya adalah kerupuk. Jadi tidaklah heran kerupuk itu akhirnya disebut Kerupuk Mlarat.
Oleh oleh kuliner Cirebon yang paling banyak diborong wisatawan lokal untuk dibawa pulang tidak lain Kerupuk Mlarat, selain Kerupuk Rambak, Ikan Asin, Terasi, Emping Melinjo, dan Sirop Tjampolay. Dari sekian oleh –oleh Cirebon yang dikategorikan makanan ringan itu , memang Kerupuk Mlarat yang susah dicari. Sirop Tjampolay , produk asli Cirebon yang terkenal memiliki kekhasan dan kesegaran pada setiap pilihan rasa, sepuluh tahun lalu susah dicari.
Kini Sirup Tjampolay (tjampolay adalah nama buah yang banyak dijumpai di Cirebon sekitarnya, terutama di Kabupaten Kuningan yang jaraknya sekitar 20 kilometer sebelah selatan Cirebon) mudah sekali dicari di toko-toko di Jakarta. Saya sudah mencicipi Sirup Tjampolay sejak 20-25 tahun lalu yang waktu itu harga perbotolnya tiga ribu rupiah perbotol, dengan rasa yang paling terkenal pisang susu dan mangga gedong.
Sekarang ini harga Sirup Tjampolay sekitar duapuluh lima dan itulah keunggulannya. Tidak diingkari keunggulan Sirup Tjampolay adalah selain memiliki rasa yang khas, dan tidak menggunakan bahan pengawet.
Cirebon sebagai kota yang mempunyai potensi kekayaan bahari yang melimpah, tentu dikenal pula memiliki produk hasil laut yang komplet. Ikan Asin merupakan contoh produk rumahan yang paling digemari masyarakat Cirebon, serta banyak wisatawan lokal memilih ikan asin Jambal Roti untuk oleh –oleh.
Demikianpun Terasi, produk khas yang dihasilkan dari teknik pengolangan udang, banyak dicari wisatawan (asing dari Belanda) sebagai oleh-oleh. Terasi adalah bumbu rahasia yang kelezatannya hanya dipunyai masakan khas Cirebon. Sedang Kerupuk Rambak tergolong oleh-oleh yang kerap dibawa pulang adalah cemilin yang berbahan baku kulit sapi atau kerbau. Sebagai salah satu cemilan khas Cirebon, Kerupuk Rambak bercitarasa gurih dan kering.
Begitu pula Emping Melinjo yang terbuat dari biji melinjo dengan berbagi rasa : Ada manis, asin dan pedas. Makanan emping ini gurih dan sangat nikmat disantap dengan teh hangat. Tetapi bagi yang punya penyakit asam urat perlu waspada dalam mengonsumsi, mengingat melinjo dapat meningkatkan kadar asam urat.
Sebagaimana dikemukakan bahwa Kerupuk Mlarat, Kerupuk Rambak, Sirup Tjampolay, Ikan Asin, Terasi dan Eping Melinjo merupakan makanan ringan. Sedang makanan berat ialah Empal Gentong, Empal Asem, Docang, Sego Lengko dan Sega Jamblang. Sementara itu ada makanan yang berkatogeri setengah berat, yaitu Tahu Genjrot dan Bubur Sup Ayam.
Tahu Genjrot dan Bubur Sup Ayam sudah dikenal dan populer. Di Jakarta banyak kedai, restoran (di hotel mewah sekalipun) maupun warung yang menyajikan kedua menu makanan itu. Kita tahu Tahu Genjrot disajikan dengan kuah manis, gula merah yang dicampur dengan tumbuhan bawang merah mentah dan cabe rawit, sehingga rasanya betul-betul khas. Semakin khas serta unik lantaran dihidangkan di atas piring tembikar. Nuansa tradisional kian menambah citarasa Cirebon.
Tentang Bubur Sup Ayam yang banyak dijual, di Jakarta, di pasar, pusat pertokoan atau di kaki lima, bahannya terdiri dari bubur sebagai bahan utamanya, kuah sup kaldu ayam, soun, mi putih, irisan, tauco, kacang kedelai, kentang dan remukan kerupuk.
Satu lagi makanan setengah yang dikategorikan setengah berat yakni Mi Koclok. Resep dan penyajian Mi Koclok berbeda dengan makan mi dari daerah lain. Perbedaan yang paling mencolok adalah kuahnya yang kental. Mie Koclok Cirebon bahannya terdiri tauge, kol sebagai pelengkap yang direbus hampir matang, irisan telur rebus serta ditaburi bawang goreng dan suwiran alias irisan ayam.
Jika Anda bersama keluarga berlibur ke Cirebon, sekali lagi janganlah lupa bawa oleh-oleh, tidak kecuali Kerupuk Mlarat. Untuk membeli oleh –oleh itu, jika sempat pergilah ke pusat oleh –oleh makanan khas Bu Sepuh, yang letaknya memang jauh, yakni di Kuningan, duapuluh lima kilometer sebelah selatan Cirebon.
Mengapa musti jauh –jauh ke Bu Sepuh , Kuningan, bukannya di tengah kota Cirebon pasti ada toko oleh –oleh terlengkap ? Karena berbelanja serta membeli produk di Bu Sepuh berarti telah membantu para Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam mengembangkan usahanya.
Itulah jawabannya kenapa Anda sekeluarga jauh-jauh musti bertandang ke Bu Sepuh, Kuningan, hanya untuk membeli oleh-oleh. Iya, jika sudah berlibur ke Cirebon kenapa tidak sekalian dilanjutkan ke Kuningan dan akhirnya mampir ke tempat oleh-oleh Bu Sepuh? Iya, luangkanlah dan tinggal mencari waktu saja Anda berlibur ke Cirebon dan Kuningan. Ayo, (Syamsudin Noer Moenadi, pemberhati kuliner dan Redaktur Channelsatu.com). Foto: Ilustrasi.
