Jakarta, Channelsatu.com – Peralihan peran Anca Leksmana dari komposer ke solois menjadi salah satu momen menarik di kancah musik Indonesia menjelang akhir 2025. Melalui single debut “(Nantikan Ku Kan) Pulang”, Anca memperlihatkan sisi personal yang selama ini jarang terekspos di balik karya-karyanya.
Lagu ini menjadi refleksi mendalam atas kehilangan sosok kakak yang berpengaruh besar dalam hidupnya. Tidak sekadar karya musik, single ini menjadi ruang kontemplasi Anca untuk merawat kenangan dan merangkum perjalanan emosional yang ia alami.
Hubungan keduanya terjalin erat sejak kecil. Sang kakak bukan hanya memperkenalkan Anca pada musik, tetapi juga mengajaknya menyelami dunia band, panggung, dan pengalaman bermusik yang membentuk karakter musikalnya hari ini.
Kerinduan tersebut dihadirkan melalui lirik yang lugas namun puitis. Anca memilih pendekatan sederhana, membiarkan kata-kata berbicara jujur tentang rasa sepi, kehilangan, dan upaya menerima kenyataan yang tak mudah.
Kenangan paling personal hadir lewat kisah drum peninggalan sang kakak yang kini menjadi bagian dari studio Anca. Instrumen tersebut menjadi simbol ikatan emosional yang akhirnya mendorong Anca kembali berkarya setelah sempat terhenti oleh duka.
Secara musikal, pilihan pop ballad modern terasa tepat untuk membungkus cerita personal ini. Piano menjadi elemen utama, sementara aransemen yang minimalis memberi ruang luas bagi vokal dan emosi Anca untuk bernapas.
Sentuhan produksi Fifan Christa atau Atlesta serta permainan gitar Ezra Mandira memperkaya nuansa lagu tanpa menghilangkan kesederhanaan emosionalnya. Hasilnya adalah karya yang terasa intim dan jujur.
Melalui “(Nantikan Ku Kan) Pulang”, Anca Leksmana tidak hanya memperkenalkan diri sebagai solois, tetapi juga mengajak pendengar menyelami proses penyembuhan lewat musik, menjadikan lagu ini relevan bagi banyak orang yang pernah kehilangan. ich
