Jakarta, Channelsatu.com – Diskusi Bincang Penulis bertajuk Melawan Jebakan Kapitalisme di Jakarta International Literary Festival (JILF) 2025 menghadirkan sudut pandang yang menggugah tentang bagaimana nilai tradisi dapat menjadi jalan keluar dari tekanan kapitalisme modern. Dalam forum yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki pada Sabtu (15/11/2025), penulis asal Lombok, AS Rosyid, menegaskan bahwa masyarakat adat justru menawarkan ritme hidup alternatif di tengah tuntutan perputaran modal yang kian cepat. Perspektif ini muncul ketika ruang budaya semakin terdesak oleh arus globalisasi dan industri hiburan yang bergerak masif.
Rosyid menilai bahwa sistem kapitalisme telah menggeser relasi manusia dengan lingkungan lewat produksi pakaian, makanan, hingga standar kemakmuran. Ia menyebut bahwa gagasan-gagasan tersebut seharusnya ditinjau ulang agar tidak terus menumpuk ketimpangan. Pandangan itu menunjukkan bahwa dinamika budaya dan seni, termasuk film dan musik, sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi yang membentuk pola konsumsi masyarakat hari ini.
Dalam ceritanya, Rosyid mengisahkan pengalaman bertemu seorang tetua adat yang hendak mencari madu hutan di Lombok. Sang tetua membawa alat sederhana, duduk di depan pohon, dan berkomunikasi dengan lebah menggunakan bahasa Sasak. Cerita yang terasa sinematis itu mengilustrasikan sebuah hubungan spiritual yang jauh berbeda dari pendekatan eksploitasi modern. Dalam dunia perfilman, momen seperti ini sering menjadi metafora kuat tentang harmoni manusia dan alam.
Tetua itu mengetuk pohon tiga kali sebagai tanda permintaan izin, dan bila tidak mendapat respons, ia memilih pohon lain. Bagi Rosyid, tindakan itu mencerminkan keyakinan bahwa manusia dan makhluk lain memiliki posisi setara. Narasi kesetaraan inilah yang menciptakan ruang dialog antara manusia, alam, dan tradisi—sebuah narasi yang makin jarang hadir dalam masyarakat industri. Nilai tersebut menjaga ekosistem tetap utuh sekaligus menegaskan bahwa produksi tidak selalu harus mengorbankan keberlanjutan.
Rosyid pun menekankan bahwa cara pandang masyarakat adat bertolak belakang dengan kapitalisme modern yang mengejar laba tanpa memedulikan biodiversitas. Perspektif ini mengundang refleksi mendalam ketika kerusakan lingkungan semakin berdampak pada kehidupan sosial, seni, dan budaya. Dalam dunia hiburan, isu lingkungan bahkan menjadi tema yang terus menguat dalam film dokumenter hingga karya fiksi.
Jurnalis dan editor asal Papua, Mikael Kudiai, menambahkan bahwa kerusakan hutan Papua bukan hanya soal hilangnya biodiversitas, tetapi juga hilangnya budaya yang lahir dari relasi masyarakat adat dengan alam. Ia menggambarkan bagaimana nyanyian pegunungan tercipta dari suara burung, dan ketika alam rusak, tidak ada lagi sumber inspirasi bagi masyarakat lokal. Perspektif ini memperlihatkan bahwa budaya dan ekologi berjalan beriringan, sebagaimana karya seni yang tumbuh dari konteks sosial.
Mikael menegaskan bahwa hilangnya hutan berarti hilangnya identitas masyarakat Papua. Dalam ekosistem budaya, kehancuran alam bukan hanya menghapus sumber makanan, tetapi juga menghilangkan landasan penciptaan seni. Gagasan ini menyentuh dunia perfilman dan musik yang kerap mencari akar tradisi sebagai sumber kreativitas, dan kehilangan akar berarti kehilangan cerita.
Sebagai penutup, penyelenggaraan JILF 2025 yang berlangsung pada 13–16 November menjadi ruang penting bagi para penulis dan pengamat budaya untuk melihat kembali hubungan antara kapitalisme, tradisi, dan keberlanjutan. Festival ini tidak hanya merayakan literasi, tetapi juga memberi panggung bagi kritik sosial yang relevan dengan perkembangan industri hiburan hari ini. Informasi lengkap tersaji melalui Buku Program di situs resmi JILF bagi pengunjung yang ingin menyelami lebih jauh gagasan para pemikir yang hadir. ich
