Magelang, Channelsatu.com – Tak sekadar festival budaya, TRIDAYA Mandala Borobudur 2025 menjelma jadi panggung selebrasi kreativitas lokal. Di tengah aroma kopi tradisional dan denting musik indie, kawasan Taman Lumbini akan bergelora dengan semangat kebersamaan selama tiga hari berturut-turut.
Tanggal 24 Juni akan menjadi hari paling meriah dalam rangkaian festival. Mulai dari peragaan busana batik khas Borobudur, kompetisi kopi tradisional, hingga pertunjukan musik indie, semuanya dirancang untuk mengangkat potensi lokal sebagai kekuatan budaya yang otentik.
Sarasehan nasional yang digelar di hari yang sama mengusung tema “Pariwisata Berbasis Identitas dan Budaya Lokal”. Di tengah gempuran pariwisata massal, gagasan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan harus berpijak pada akar budaya yang kuat.
Festival ini menjadi titik temu antara pelaku budaya, komunitas kreatif, dan publik yang haus akan pengalaman bermakna. Semua elemen berkumpul, saling menginspirasi dalam atmosfer terbuka yang mendukung inklusivitas.
Tak hanya menghadirkan estetika visual dari batik dan kerajinan tangan, TRIDAYA Mandala juga menekankan keberlanjutan lewat promosi produk ekologis dan hasil bumi dari UMKM Borobudur.
Musik indie yang ditampilkan bukan sekadar hiburan, tapi sebagai bahasa perlawanan kreatif terhadap homogenisasi budaya. Para musisi lokal diberi panggung setara untuk menyuarakan keresahan dan harapan generasi muda.
Kompetisi kopi tradisional pun menjadi cara lain untuk mengenalkan cita rasa lokal ke panggung nasional. Kopi tak lagi sekadar minuman, melainkan simbol perjumpaan budaya dan warisan rasa yang harus dirawat.
Dengan mengintegrasikan aspek kuliner, fesyen, dan musik, TRIDAYA Mandala Borobudur 2025 membuktikan bahwa spiritualitas dan budaya bisa berpadu dalam ritme yang merdeka dan menyenangkan. ich
