Jumat , 22 Oktober 2021
Home / Showbiz / Sinopsis / KEMBALI SUCI DENGAN FESTIVAL ERAU ADAT TEMPONG

KEMBALI SUCI DENGAN FESTIVAL ERAU ADAT TEMPONG

Kutai Kartanegara, channelsatu.com:Banyak orang menyebut-nyebut tentang Kabupaten Kutai Kartanegara yang terletak di wilayah Kalimantan Timur dan satu-satunya provinsi di Kalimantan yang memiliki sekaligus dilintasi Sungai Mahakam, sertamerta  kaya dengan sektor pertambangan. Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, disingkat Kabupaten Kukar, menyadari hal tersebut, namun justru lantaran hal tersebut itulah Kabupaten Kukar menjadi terlena, sehingga akhirnya perlu dikembangkankan potensi lain, mengingat sektor pertambangan suatu saat akan habis.

Potensi lain adalah sektor pariwisata yang bukan tidak mungkin akan menjadi andalan masa depan. Sejarah berdirinya Kutai Kartanegara sudah sejak abad kedua. Bahkan sebagai cikal bakal  Nusantara. Jadi, Kutai Kartanegara memang mempunyai sejarah panjang.

Pada abab ke tiga belas, di Muara Kaman, di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara tentunya, ada Lesung Batu. Di tempat tersebut Raja Mulawarman menyerahkan lima belas ribu sapi pada kaum Brahmana.  Suatu kejadiaan yang besar pada waktu itu, dan kiranya  banyak pula peristiwa besar yang bisa diketengahkan dalam memacu sektor pariwisata.

Jelas semuanya itu musti disadari, betapa adat istiadat dan tradisi tumbuh  serta berkembang pesat di kalangan masyarakat Kutai Kartanegara. Salah satunya yaitu Festival Erau Adat Tempong yang mulai tahun 2009 dilaksanakan setiap Juli.  Festival Erau, disebut demikian, punyai arti proses silaturahim antara sultan dan rakyat.

Erau bisa pula  berarti memuja Sultan yang secara filosofis tidak sekadar keramaian, melainkan mengingatkan bahwa kekuasaan seorang Sultan yang diembannya berasal dari restu rakyat. Tidak usah kaget setelah usai  Erau, maka Sultan tambah sakti dan diharapkan menjadi raja yang baik untuk rakyat.

Pada zaman dulu, tatkala Erau digelar, setiap kecamatan mengirimkan wakilnya untuk menghadap penguasa. Begitu menghadap penguasa, yakni Sultan, masyarakat berdialog intensif. Para camat menyampaikan berbagai kemajuan yang sudah dicapai daerahnya, juga mengemukakan macam-macam masalah yang muncul. Kata lain semacam pelaporan dan rapat koordinasi.

Setiap daerah yang dulunya berada di bawah kekuasan Kerajaan Kutai Kartanegara sewaktu menghadap Sultan selalu membawa hasil bumi. Sedangkan kelompok yang datang ke Sultan terdiri kelompok olahraga dan kesenian. Sementara hasil bumi yang dibawa sesungguhnya merupakan bekal, sebab perjalanan untuk ketemu Sultan memperlukan waktu berhari-hari-hari.

Hasil bumi selain untuk bekal perjalanan dan diberikan kepada Sultan, apabila lebih,  maka akan dijual kepada masyarakat. Untusan daerah mau tidak mau menggelar pasar. Berdasarkan perjalanan sejarah yang bergulir.  Festival Erau, cukup disebut Erau, tidak dipisahkan dengan pasar rakyat, pertandinngan olahraga dan seni budaya,

Setiap Erau digelar, masyarakat pasti berkumpul. Temasuk masyarakat Suku Dayak yang berdiam di pedalaman turut terlibat dalam kemeriahan itu. Selama Erau olahraga tradisional diketengahkan seperti : Sumpit, gasi dan berperahu. Olahraga tradisional itu sengaja dilombakan.

Sejak pukul 08.00 waktu setempat,  masyarakat sudah berbondong-bondong melihat dan menanti prosesi Erau di tepi Sungai Mahakam.  Festival Erau yang semula  menjadi agenda kabupaten, kini sudah menjadi agenda nasional, Setiap Erau diadakan  paling tidak sebelas ribu orang berkumpul.

Masyarakat ingin menonton iring-iringan perahu yang salah satu perahu pembawa patung naga, panjangnya sekitar 35 meter. Badan patung naga berwarna merah, hitam, hijau, biru, kuning yang pokoknya berwarna warni.  Kepala patung naga itu dari ukiran kayu dengan mulut menganga.

Patung naga itupun  diarak dari Keraton Kutai Kartanegara menuju Kutai Lama, tentunya dengan naik perahu menyusuri Sungai Mahakam. Prosesi arak-arakan ini dinamai Mengulur Naga.  Dan sang naga mengiringi pengambilan air suci yang dipakai untuk membasuh sultan

Setelah itu barulah masyarakat menyucikan kota dan diri dengan saling menyiram dengan air atau dalam bahasa setempat disebut berlimbur. Melalui prosesi belibur, masyarakat dan kota telah kembali suci. Prosesi itu simbul membuka lembaran baru. Rangkaian Erau ditutup dengan mendirikan Tiang Ayu. Lantas apakah Tiang Ayu itu?

Tiang ayu atau sangkah Piatu adalah Aji Betara Agung Dewa Sakti. Raja pertama Kutai Kartanegara di Jahitan Layar, Kutai Lama. Tiang Ayu bentuknya seperti tombak yang diikat dengan  Tali Juwita dan Kain Cinde serta janur kuning, daun siri, buah pinang berbalut kain kuning. Mendirikan Tiang Ayu yaitu pelambang bahwa kekuasaan tertinggi sebuah daerah ada di tangan masyarakat. Sultan menerima mandat suci untuk menjadikan seluruh wilayah jadi sejahtera serta senantiasa aman dan makmur.

Dalam catatan sejarah, kerajaan Hindu tertua di Indonesia berada di daerah Kalimantan Timur. Menurut prasasti yang ditemukan di Lembah Wahau, di utara Tenggaraong, berasal dari abad ke-5. Kerajaan Hindu tua ini disebutkan sudah melakukan kontak dengan India dan Kerajaan Sriwijaya.

Penganti Kerajaan Hindu ialah Kesultana Kutai yang muncul aba ke-13 dengan ibukota Tenggarong.  Kuatai kemudian menjadi pusat perdagangan penting di wilayah Kalimantan Timur. Sementara Tenggaraong menjadi kota terbesar dan tersibuk di Kalimantan Timur sebelum akhirnya digeser Samarinda dan Balipapan pada abad ke-20.

Di sisi lain Provionsi Kalimantan Timur merupakan provinsi terluas di Indonesia dengan luas wilayah kurang lebih 245.237.80 kilometer persegi atau sekitar satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura. Kalimantan Timur  berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah dan Serawak, Malaysia Timur.

Di sisi lain pula Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari, juga Ketua Pemuda Pelopor, secara gigih memacu pertumbuhan pariwisata di daerahnya. Paling tidak Tenggarong siap menerima wisatawan. Pemerintah Kabupaten Kukar memacu pariwisata mulai dari pengembangan inferastruktur. Teristimewa sarana trasportasi sampai ke pelosok.

Tidak dipungkiri pariwisata memiliki dampak ganda yang sangat besar bagi pertumbuhan perekonomian rakyat, tidak terkecuali di Kabupaten Kukar. Transportasi kota seperti taksi bakal berkembang, kerajinan maju, pedagang kali lima tumbuh, ditambah penginapan dan kuliner akan bermunculan.

 

“Semua terangkat. Pengaruh terhadap ekonomi kerakyatan akan terasa langsung,“  kata Bupati Kutai Kartanegara  Rita Widyasari yang begitu tegas, dan  bersemangat sekali  menggenjot sektor pariwisata di daerah yang dipimpin. (Syamsudin Noer Moenadi, Jurnalis, Pengamat Pariwisata dan Redaktur channelsatu.com). Foto: Ilustrasi.

About ibra

Check Also

Ketum Pafindo dan Asisten Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Kebudayaan, Prof Agus Suradika

Ketum Pafindo Gion Prabowo, “Ini Bukan Pepesan Kosong”

Jakarta, channelsatu.com:”Kantor kita di Jakarta. Cari makan di Jakarta. Rumah kita di Jakarta. Tentu sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *