Jakarta, Channelsatu.com – Ajang belanja daring seperti 10.10, 11.11, dan 12.12 menjadi momentum penting bagi pelaku bisnis untuk meningkatkan penjualan. Namun, di balik lonjakan transaksi, brand lokal perlu memastikan bahwa pertumbuhan omzet juga menghasilkan keuntungan yang sehat dan pelanggan yang bertahan dalam jangka panjang.
Kementerian Perdagangan mencatat transaksi Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2025 mencapai Rp36,4 triliun dalam sepekan, meningkat 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai tersebut turut berkontribusi terhadap total transaksi Rp122,3 triliun dari berbagai program belanja akhir tahun.
Meski angka tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar, tingginya nilai transaksi belum tentu mencerminkan keuntungan bersih yang diperoleh setiap brand. Gross merchandise value (GMV) hanya menggambarkan nilai transaksi, bukan besarnya laba setelah diskon, biaya platform, iklan, logistik, dan retur diperhitungkan.
Melalui *whitepaper* bertajuk *Megasale Playbook*, Fynd menyoroti pentingnya kesiapan operasional menjelang periode belanja besar. Brand dinilai perlu menghitung keuntungan pada tingkat setiap pesanan, termasuk menetapkan batas minimum kontribusi agar strategi promosi tidak berujung pada penjualan yang merugikan.
Selain pengelolaan margin, kesiapan stok dan pemenuhan pesanan juga menjadi perhatian. Lonjakan permintaan dapat memperbesar risiko stok tidak sinkron, pembatalan pesanan, hingga keterlambatan pengiriman. Karena itu, integrasi persediaan dari berbagai kanal penjualan menjadi salah satu langkah yang disarankan untuk mengurangi masalah operasional.
Chief Business Officer Global Fynd, Ronak Modi, menegaskan bahwa keberhasilan kampanye tidak hanya ditentukan oleh tingginya permintaan konsumen.
“Harbolnas selalu dipandang sebagai persoalan isu permintaan, padahal bagi brand momen ini sebenarnya berkaitan erat dengan operasional mereka. Promo bisa mendatangkan volume, tetapi yang menentukan apakah volume tersebut menjadi nilai jangka panjang adalah bagaimana brand mengelola stok, pengiriman, dan hubungan dengan pelanggan,” ujar Ronak Modi.
Menurut Fynd, brand juga perlu mempersiapkan strategi untuk menjaga hubungan dengan pembeli setelah transaksi selesai. Program garansi, layanan tukar ukuran, dan program loyalitas dapat menjadi cara untuk mendorong konsumen berinteraksi melalui kanal resmi brand, sepanjang penerapannya mengikuti ketentuan platform dan aturan perlindungan data yang berlaku.
Marketplace tetap memiliki peran penting untuk memperluas jangkauan dan memperkenalkan produk kepada konsumen baru. Sementara itu, situs resmi dan kanal milik brand dapat dimanfaatkan untuk membangun hubungan pelanggan serta mengembangkan pembelian berulang.
Fynd juga menekankan pentingnya periode 45 hari setelah kampanye 12.12. Dalam rentang tersebut, brand perlu mengevaluasi pembelian ulang, menangani retur, meningkatkan layanan pelanggan, dan menyusun penawaran lanjutan yang relevan bagi konsumen.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Fynd menghadirkan platform *AI-native omnichannel commerce* yang mengintegrasikan pengelolaan inventaris secara real-time, data pelanggan, dan pemrosesan pesanan dari berbagai kanal dalam satu sistem operasional.
Dengan strategi yang terintegrasi, momentum Harbolnas diharapkan tidak hanya menghasilkan lonjakan penjualan sesaat, tetapi juga membantu brand membangun bisnis yang lebih berkelanjutan melalui pengelolaan margin, stok, dan loyalitas pelanggan. ich
