Jakarta, Channelsatu.Com — Proyek adaptasi film Iran Children of Heaven memasuki tahap pengembangan dengan pendekatan produksi yang berbeda dari kebiasaan industri film arus utama. Sutradara Hanung Bramantyo menyatakan, kali ini ia menempatkan sistem kerja yang menyesuaikan ritme anak sebagai prioritas utama selama proses syuting.
Film ini diproduksi oleh MD Pictures dan merupakan adaptasi dari film berjudul sama karya sineas Iran Majid Majidi yang dirilis pada 1997. Versi aslinya dikenal luas di berbagai festival internasional dan pernah masuk nominasi Academy Awards untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik.
Hanung menjelaskan bahwa keputusannya terlibat dalam proyek ini tidak semata-mata karena reputasi judul tersebut, melainkan karena adanya kesepakatan mengenai sistem kerja yang dinilai lebih aman dan sesuai untuk pemeran anak.
Ia mengakui sempat cukup lama tidak menggarap film yang berfokus pada karakter anak. Pengalaman produksi pada awal 2000-an membuatnya menilai lingkungan syuting belum sepenuhnya memberi ruang yang sehat bagi anak-anak untuk berkembang.
“Lokasi syuting pada masa itu belum dirancang sebagai ruang yang mempertimbangkan kebutuhan anak. Itu yang membuat saya memilih berhenti,” ujarnya.
Dalam pertemuan awal dengan produser Manoj Punjabi, Hanung menyampaikan sejumlah syarat sebelum menyatakan persetujuan. Ia meminta agar jadwal syuting fleksibel dan tidak memaksakan anak mengikuti ritme kerja kru dewasa.
Menurutnya, karakter anak memiliki dinamika psikologis yang berbeda dengan aktor dewasa. Konsentrasi, stamina, dan kesiapan mereka tidak dapat disamaratakan dengan standar produksi reguler yang ketat waktu.
“Anak tidak bisa diperlakukan seperti pekerja profesional dewasa. Ketika mereka lelah, proses harus berhenti. Itu bagian dari komitmen,” katanya.
Di sisi lain, adaptasi Children of Heaven juga membawa tantangan tersendiri karena reputasi film aslinya yang kuat di mata publik internasional. Hanung menilai tekanan terbesar bukan pada aspek teknis, melainkan pada bagaimana menemukan sudut pandang personal agar kisah tersebut relevan dengan konteks Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pendekatan yang dipilih bukan orientasi komersial semata, melainkan penekanan pada perspektif yang lebih intim terhadap hubungan keluarga dan pengalaman masa kanak-kanak.
“Kalau saya mengerjakannya, harus dengan pendekatan personal. Saya ingin ceritanya dekat dengan realitas sosial kita,” tuturnya.
Film asli Children of Heaven mengisahkan tentang kakak-beradik dari keluarga sederhana yang berbagi sepasang sepatu. Cerita sederhana itu berkembang menjadi potret kehidupan keluarga kelas pekerja di Teheran. Adaptasi Indonesia direncanakan tetap mempertahankan esensi tersebut, dengan penyesuaian latar sosial dan budaya.
Bagi Hanung, proyek ini menjadi momentum untuk menata ulang cara kerja produksi film yang melibatkan anak. Ia menilai industri perlu memiliki standar yang lebih jelas mengenai jam kerja, pendampingan psikologis, serta ruang istirahat yang memadai.
Ia menambahkan, produksi film anak seharusnya tidak hanya mempertimbangkan hasil akhir di layar, tetapi juga proses pembuatannya.
“Anak-anak itu masih dalam fase bertumbuh. Mereka membutuhkan ruang untuk belajar dan bermain. Itu tidak boleh diabaikan hanya karena tuntutan produksi,” ucapnya.
