Jakarta, Channelsatu.com – Festival Toleransi Budaya 2025 kembali membuka ruang perjumpaan lintas budaya dan agama dalam atmosfer yang hangat dan optimistis, menghadirkan narasi kebangsaan yang menegaskan bahwa kerukunan dan toleransi adalah DNA bangsa Indonesia. Acara yang digagas Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) ini dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti M.Ed, Minggu (16/11/2025), di gedung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menghadirkan semangat kebersamaan yang mengalir kuat seperti alur cerita festival seni yang merayakan keberagaman sebagai identitas nasional.
Dalam pidato pembukaannya, Prof. Mu’ti menegaskan bahwa keberagaman Indonesia bukan sekadar atribut sosial, melainkan modal utama untuk menuju bangsa yang lebih maju. Ia menggarisbawahi bahwa kerukunan dan toleransi telah lama menjadi fondasi yang menyatukan masyarakat dari berbagai latar budaya, keyakinan, dan tradisi. Festival ini, menurutnya, menjadi ruang simbolik di mana perbedaan dirayakan, bukan ditakuti, seperti karya kolaboratif besar yang mengikat berbagai elemen menjadi satu harmoni.
Ia mengingatkan kembali bahwa Festival Toleransi dan Budaya tahun ini merupakan lanjutan dari penyelenggaraan pertama pada 2024, yang ketika itu digelar dalam rangka menyambut kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia. Mu’ti menilai kesinambungan kegiatan ini menegaskan pentingnya ruang dialog yang konsisten, terutama dalam menghadapi dunia yang semakin cepat berubah dan kerap memunculkan gesekan identitas. Baginya, festival semacam ini adalah panggung sosial yang menunjukkan bagaimana bangsa ini mampu tumbuh tanpa kehilangan karakter utamanya: inklusif, ramah, dan penuh welas asih.
Lebih jauh, Mu’ti menyebut bahwa kemajemukan bangsa Indonesia hanya dapat terjaga ketika masyarakat memiliki keikhlasan dan ketulusan dalam menerima mereka yang berbeda. Relasi yang sehat, kemampuan menerima dengan lapang dada, dan kerja sama untuk kebaikan menjadi tiga pilar penting yang ia tekankan. Ia menyebutnya sebagai proses “head to head, heart to heart, dan hand to hand,” sebuah konsep yang menggambarkan kedewasaan sosial bangsa dalam mengelola perbedaan dengan empati dan kolaborasi.
Menurutnya, toleransi yang autentik tidak cukup hanya dengan memahami bahwa perbedaan itu ada, tetapi juga harus diwujudkan melalui dialog terbuka, penerimaan tanpa syarat, dan kerja nyata dalam memperjuangkan kesejahteraan bersama. Festival ini, kata Mu’ti, kembali menandai bagaimana masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang bisa duduk dalam satu ruang, saling menyapa dan merayakan perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman. Seperti pertunjukan besar yang berhasil karena semua elemen di dalamnya saling menopang.
Ia juga menegaskan bahwa membangun Indonesia masa depan tidak akan terlepas dari semangat kebersamaan dan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika. Pesan ini sejalan dengan seruan Presiden Prabowo yang terus mendorong penguatan ideologi Pancasila, kedaulatan bangsa, dan penghargaan terhadap keberagaman agama serta budaya. Dalam konteks itu, festival ini ibarat cermin yang memantulkan kembali karakter dasar bangsa yang menghormati perbedaan.
ICRP, sebagai penyelenggara, berkomitmen untuk meneruskan tradisi perayaan toleransi ini dalam ruang yang semakin luas dan inklusif. Mereka menegaskan bahwa Indonesia adalah rumah bersama, tempat setiap warga—tanpa memandang suku, agama, atau latar sosial—memiliki tempat yang setara. Visi itu tercermin dalam penyelenggaraan festival yang dirancang sebagai laboratorium kebudayaan, tempat nilai-nilai toleransi terus ditanam, dirawat, dan diwariskan.
Dengan pesan kuat yang bergema dari panggung Festival Toleransi Budaya 2025, semangat kerukunan kembali ditegaskan sebagai karakter paling hakiki bangsa Indonesia. Dalam suasana yang hangat dan penuh harapan, festival ini bukan hanya pertunjukan budaya, melainkan peneguhan identitas: bahwa Indonesia maju hanya dapat dicapai jika keragaman dirawat sebagai kekayaan, bukan dipertentangkan sebagai perbedaan. ich
