Jakarta, Channelsatu.com – Kongres VIII Pewarta Foto Indonesia (PFI) di Jakarta menjadi panggung penting bagi regenerasi kepemimpinan organisasi fotojurnalistik terbesar di Indonesia, ketika Dwi Pambudo dan Galih Pradipta terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal PFI Pusat periode 2025–2028 melalui musyawarah mufakat. Keputusan kolektif ini menjadi penanda bahwa PFI memasuki fase konsolidasi baru, sekaligus mengukuhkan komitmen untuk memperkuat peran pewarta foto dalam ekosistem media nasional.
Pemilihan yang berlangsung di Hotel Sofyan, Jakarta, itu dihadiri perwakilan dari 20 PFI Kota. Mereka menyepakati pasangan Dwi–Galih sebagai sosok yang dianggap mampu membawa PFI memasuki era tata kelola organisasi yang lebih adaptif, terutama di tengah tantangan industri media dan percepatan teknologi visual. Kepercayaan tersebut disambut dengan penuh syukur oleh Dwi Pambudo yang menegaskan bahwa amanah ini akan dijalankan dengan kolaborasi yang solid bersama seluruh anggota dan senior fotojurnalistik.
Dalam sambutannya, Dwi menegaskan pentingnya menjaga profesionalisme pewarta foto di tengah perubahan lanskap pemberitaan yang kini semakin mengandalkan visual sebagai kekuatan utama. Ia berharap PFI di periode baru dapat menjadi ruang kolaborasi yang lebih baik, baik dalam pengembangan kompetensi teknis maupun dalam penguatan nilai etis fotojurnalistik. Menurutnya, sinergi antara pengurus pusat, pengurus kota, dan Majelis Etik akan menjadi fondasi utama perjalanan organisasi tiga tahun ke depan.
“Saya bersyukur dan berterima kasih atas amanah yang diberikan melalui musyawarah mufakat di Kongres VIII PFI. Kepercayaan ini bukan hanya tanggung jawab pribadi, tetapi komitmen kolektif untuk membawa Pewarta Foto Indonesia melangkah lebih adaptif menghadapi tantangan industri media dan perkembangan teknologi visual”, kata Dwi Pambudo.
Kongres VIII tak hanya menghasilkan pemimpin baru, tetapi juga menetapkan susunan Majelis Etik yang memiliki posisi strategis dalam menjaga integritas profesi. Sederet nama berpengalaman seperti Hendra Eka, Akbar Nugroho, Reno Esnir, Mast Irham, Hermanus Prihatna, Gino F. Hadi, Oscar Motuloh, hingga Danu Kusworo kini dipercaya sebagai penjaga standar etik PFI. Kehadiran figur-figur tersebut dinilai akan memperkuat legitimasi etik organisasi di tengah arus konten visual yang semakin kompleks.
Selain itu, kongres juga menerima laporan pertanggungjawaban pengurus PFI Pusat periode 2022–2025, termasuk laporan keuangan yang dikaji secara transparan di hadapan seluruh peserta. Penyelarasan ulang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) pun disahkan sebagai bagian dari pembaruan tata kelola organisasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan ekosistem fotojurnalistik masa kini.
“Kami akan bekerja dengan kolaborasi yang kuat antara pengurus pusat, pengurus kota, serta Majelis Etik untuk menjaga profesionalisme dan integritas fotojurnalistik. Saya berharap periode baru ini menjadi ruang yang lebih solid bagi pewarta foto Indonesia untuk berkembang, berkarya, dan menjaga marwah profesi di tengah perubahan ekosistem media yang semakin dinamis”. tambah Dwi.
Kongres yang berakhir pada pukul lima sore itu berlangsung dalam suasana kondusif dengan apresiasi khusus bagi para peserta, Majelis Etik, panitia, dan mitra seperti Blue Bird serta Telkomsel yang mendukung kelancaran agenda organisasi. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan proses regenerasi berjalan jernih dan akuntabel.
Dengan berakhirnya Kongres VIII ini, PFI memasuki babak baru dengan harapan terciptanya ruang kolaborasi yang lebih kuat di antara pewarta foto Indonesia. Pemilihan Dwi Pambudo dan Galih Pradipta menegaskan bahwa PFI tetap solid menjaga marwah fotojurnalistik sekaligus adaptif menghadapi dinamika masa depan. ich
