Rabu , 4 Agustus 2021
Home / PELUANG / Inspirasi Usaha / Di Desa Adat Sade, Lombok, Hanya Anak Bungsu Lelaki Yang Boleh Jadi Tour Guide

Di Desa Adat Sade, Lombok, Hanya Anak Bungsu Lelaki Yang Boleh Jadi Tour Guide

Peserta workshop yang terdiri tour guide profesional anggota ASITA mendatangi Desa Adat Sade. Foto: Dok ASITA.
Peserta workshop yang terdiri tour guide profesional anggota ASITA mendatangi Desa Adat Sade. Foto: Dok ASITA.

Lombok, channelsatu.com: Karena pemberitaan yang masif dan begitu gencar, sehingga kunjungan wisatawan nusantara meningkat secara drastis ke Desa Adat Sade, Lombok yang dihuni 15 Kepala Keluarga atau sekitar 750 jiwa. Lokasi Desa Adat Sade  memang strategis, terletak tidak jauh dari jalan raya, yang pada akhir pekan selalu padat dikunjungi wisatawan, sehingga jalanan menjadi macet yang pasalnya kendaraan pada  parkir.

ASITA (Association of the Indonesian Tours and Travel) selama tiga hari pada pertengahan Maret 2017 mengadakan Worshop Pengusunan Storyline dan Teknis Story Telling Desa Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Workshop yang didukung Kementerian Pariwisata Asdep Pengembangan Destinasi Wisata Budaya Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata, bertujuan untuk meningkatkan kinerja tour guide.

Peserta workshop yang terdiri tour guide profesional anggota ASITA mendatangi Desa Adat Sade yang dihuni Suku Sasak itu sengaja melakukan pengamatan langsung sekaligus menilai dan membandingkan kurang lebihnya dengan tour guide di Desa Adat Sade. Ternyata tidak sembarang orang bisa menjadi tour guide di Desa Adat Sade.

Yang boleh menjadi tour guide di Desa Sade adalah anak bungsu lelaki yang bisa tinggal di desa. Sementara warga lelaki lainnya tinggal di luar desa. Menjadi tour guide di Desa Adat Sade adalah sebuah tanggungjawab adat yang besar. Karenanya seorang tour guide musti cukup taat menjalankan titah leluhur dalam mempertahankan dan mengenalkan budaya asli Desa Adat Sade kepada wisatawan.

Saat ini, tidaklah dipungkiri pekerjaan tour guide Desa Adat Sade sangatlah repot, kendati pada hari Senin hingga Rabu saja bisa santai. Selebihnya pada hari Kamis sampai Minggu harus bergantian menjadi tour guide dan menata kendaraan penggunjung yang tentunya sering membuat macet.

“Seorang tour guide harus pintar-pintar melakukan improvisasi dan menciptakan kreasi, agar apa yang diceritakan kepada wisatawan benar-benar sesuai dengan yang diinginkan wisatawan itu sendiri,“ ujar Tetty D.S Aryanto praktisi pariwisata  dan nara sumber workshop.

Tetty D.S. Aryanto menambahkan, sebagai seorang tour guide harus juga bisa membaca kebutuhan wisatawan, supaya mendapatkan kesan yang mendalam. Masing-masing wisatawan memiliki ketertarikan yang berbeda-beda. Mungkin ada wisatawan tertarik dengan budayanya, historinya, landscapenya atau sekadar mencari spot-spot selfie.

“Bagaimanapun tour guide musti pula menghadirkan berbagai hal yang menarik bagi wisatawan dari waktu ke waktu, agar turis yang datang tidak bosan walaupun sudah datang ke Desa Adat Sade berulang kali,“ imbuh Tetty D.S Aryanto.

Perihal workshop yang diselenggarakan ASITA ini, Kurdap Salake, Kepala Adat Desa Sade merasakan sekali manfaatnya. Terdapat diskusi yang saling mengisi dan bisa berbagi pengalaman. Kurdap Salake malah berjani akan meningkatkan pelayanan maupun kreativitas para tour guide asuhannya untuk membawa destinasi wisata Desa Adat Sade sebagai destinasi terbaik di Lombok. (Syamsudin Noer Moenadi, email nm.syamsudin@yahoo.com)

About ibra

Check Also

Wong-Hang-Tailor-bersama-generasi-ke-tiga-dan-empat-foto-Ist

Ini Rahasia Kesuksesan Wong Hang Tailor, Ampuh Pakai Resep Kuno

Jakarta, channelsatu.com: 88 tahun sudah Wong Hang Tailor berdiri kokoh. Dari sejak tahun 1933 Wong …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *