Dari Naskah Kuno ke Komik, Perpusnas Dekatkan Warisan Nusantara dengan Anak

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Naskah kuno Nusantara kini mendapat bentuk baru yang lebih akrab bagi pembaca muda. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan berbagai cerita dan pengetahuan dari naskah lama menjadi buku anak dan komik.

Sebanyak 50 karya dihasilkan dari sembilan kelompok naskah, mulai dari Desawarnana, Hikayat Aceh, I La Galigo, Sutasoma, hingga Panji Kuda Semirang. Karya yang diterbitkan terdiri atas 38 buku anak bergambar, dua chapter book, dan 10 komik.

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan, langkah tersebut dilakukan agar warisan pengetahuan Nusantara dapat menjangkau pembaca yang lebih luas, terutama anak-anak.

- Advertisement -

“Tujuan penerbitan ini sangatlah jelas, bahwa kami ingin anak-anak di tanah air lebih mengenal jati diri dan sejarah bangsanya sendiri, sekaligus menjadikan karya ini sebagai jembatan untuk memperkenalkan mahakarya intelektual dan warisan Nusantara kita kepada dunia internasional,” ujar Aminudin, Rabu (23/9/2026).

Menurut dia, pelestarian naskah tidak berhenti pada penyimpanan maupun digitalisasi. Isi naskah juga perlu dimanfaatkan sehingga dapat terus dibaca dan dipelajari.

“Bukan hanya sampai kepada mengidentifikasi, mendaftarkan, kemudian melakukan pelestarian dalam bentuk digitalisasi, tapi kita buatkan dalam langkah lanjutan yaitu memanfaatkan naskah itu untuk dibaca oleh lebih banyak orang,” katanya.

Cerita Panji menjadi salah satu contoh yang diangkat. Naskah tersebut telah masuk dalam Memory of the World UNESCO dan memiliki berbagai nilai yang dapat dikenalkan kepada anak melalui bacaan yang lebih sederhana.

- Advertisement -

Dosen ITB sekaligus Ketua Tim Produksi Buku Bacaan Anak dan Komik Naskah IKON dan MoW, Riama Maslan Sihombing, mengatakan naskah kuno sebenarnya menyimpan banyak cerita mengenai kehidupan masyarakat masa lalu.

Mulai dari keluarga, agama dan spiritualitas, alam, pengetahuan, etika hingga kehidupan bersama terekam dalam berbagai naskah tersebut. Tantangannya, bahasa, aksara, dan konteks yang digunakan tidak selalu mudah dipahami anak-anak sekarang.

Karena itu, alih wahana menjadi cara untuk mempertemukan isi naskah dengan karakter pembaca masa kini. Nilai yang terdapat dalam sumber aslinya tetap menjadi pijakan dalam pengembangan buku dan komik.

Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayakawa, mengapresiasi upaya tersebut. Ia mengatakan transformasi ke format yang lebih mudah diakses dapat membantu warisan dokumenter tetap menjadi sumber pembelajaran bagi generasi mendatang.

Selain 50 buku anak dan komik, program ini juga mencakup 25 adaptasi Babad Diponegoro dalam Bahasa Inggris. Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Perpusnas dan ITB dengan dukungan JIKJI Prize UNESCO 2024. (Kul)

 

Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS