Jakarta, Channelsatu.com – Madani International Film Festival 2025 (Madani Fest 2025) bukan hanya merayakan film, tetapi juga menjadi forum global untuk membangun dialog antarbudaya dunia Muslim. Dengan mengusung tema *Misykat* yang berarti “Ceruk Cahaya”, festival ini menggali bagaimana sinema dapat menuntun manusia keluar dari kegelapan sosial dan politik menuju kesadaran yang lebih terang.
Salah satu sorotan utama Madani Fest 2025 adalah program *Focus Country: Sahel Plateau* yang dikurasi oleh Bunga Siagian dan Yuki Aditya. Lima film dari Burkina Faso, Senegal, Mali, dan Nigeria dihadirkan untuk menyoroti dinamika dekolonisasi dan akar peradaban Islam di kawasan tersebut. Program ini memperlihatkan bahwa sinema bukan sekadar hiburan, melainkan juga dokumentasi perjuangan identitas dan memori sejarah.
Festival yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Epicentrum XXI, Metropole XXI, dan Universitas BINUS ini menampilkan 95 film dari 24 negara. Tak hanya mengedepankan tontonan, Madani Fest juga membuka diskursus melalui forum publik dan kelas pakar yang membahas isu sosial, politik, dan spiritualitas dalam perfilman dunia Muslim.
Ahmad Rifki selaku Direktur Festival menuturkan, kehadiran Madani Fest adalah wujud upaya menghubungkan sinema dengan ruang-ruang perjumpaan manusia. “Film menjadi bahasa universal yang menyatukan perbedaan tanpa kehilangan jati diri,” ujarnya.
Selain film, Madani Fest juga memperkaya festival dengan 15 pertunjukan lintas seni, menghadirkan musisi Panji Sakti, grup Almamosca, komedian Rizal van Geyzel, dan pendakwah Habib Husein Ja’far Al Hadar. Kehadiran mereka menandakan bahwa sinema dan seni memiliki napas yang sama: memberi makna dan kedalaman pada kehidupan.
Ketua Yayasan Madani, Ekky Imanjaya, menyebut festival ini terbagi dalam dua payung besar: pemutaran film dan program *IDEAS*. Yang terakhir dihadirkan sebagai ruang persemaian gagasan, aktivasi publik, dan penguatan nilai kewargaan, kekotaan, serta peradaban.
Madani Fest 2025 menjadi momentum penting bagi Jakarta sebagai kota yang terus bergerak dan berefleksi atas identitas budayanya. Dalam semangat *Jakarta Banget*, festival ini berupaya menjadikan sinema sebagai jendela bagi keberagaman kota metropolitan.
Dengan sorotan lintas negara dan lintas budaya, Madani Fest 2025 menegaskan bahwa film dapat menjadi bahasa kemanusiaan yang melampaui batas agama, politik, dan geografi. ich
