Dari Couture Bridal ke Ready to Wear, Kaingara Buka Babak Baru di Lumine Ashta

Share

Jakarta, Channelsatu.com – Dari dunia couture bridal yang sarat detail menuju fashion ready to wear yang lebih effortless, Kaingara membuka chapter baru di Lumine Ashta Jakarta. Melalui Kaingara Ready to Wear, desainer Sara Syarifah menerjemahkan signature craftsmanship-nya ke dalam koleksi yang lebih versatile, modern, dan tetap eksklusif.

Kehadiran lini tersebut di Lumine Ashta menjadi momentum penting bagi Kaingara. Setelah hampir satu bulan hadir di retail space tersebut, Kaingara Ready to Wear memperkenalkan koleksi terbaru melalui sebuah exclusive launch yang hanya tersedia di Lumine Ashta Jakarta.

Bagi Sara, kehadiran Kaingara di Lumine merupakan realisasi dari sebuah impian yang telah dibangun sejak dua tahun sebelumnya. Kurasi Lumine terhadap brand lokal dan karya desainer menjadi salah satu alasan mengapa ruang tersebut memiliki arti khusus bagi perjalanan Kaingara.

- Advertisement -

“Jadi awal berdirinya Kaingara di Lumine ini adalah cita-cita berdua. Cita-citaku dari dua tahun yang lalu,” ujar Sara.

Kaingara Ready to Wear merupakan second line dari Kaingara Studio yang selama ini bergerak di ranah couture bridal. Jika couture menawarkan pengalaman yang lebih eksklusif, lini ready to wear dibuat agar estetika Kaingara dapat masuk ke dalam keseharian perempuan modern.

“Jadi aku bikin second line, Kaingara Ready to Wear supaya lebih bisa dinikmati oleh masyarakat luas,” tutur Sara.

Namun, kata “ready to wear” tidak berarti produksi massal. Kaingara justru mempertahankan pendekatan produksi terbatas dengan seluruh pengerjaan dilakukan di workshop milik Sara. Tim seamstress menjadi bagian penting dalam proses mewujudkan desain menjadi pakaian siap dikenakan.

- Advertisement -

“Kaingara Ready to Wear itu tidak mass production. Karena kita semua jahit di workshop kami sendiri sehingga memang tidak mass production,” katanya.

Pendekatan tersebut memberikan karakter berbeda pada setiap koleksi. Sara juga turun langsung dalam proses kreatif, mulai dari mendesain, memilih bahan, fabric sourcing, sampling hingga memastikan busana memenuhi standar visual dan kenyamanan yang diinginkan.

Pada koleksi terbaru, perhatian diarahkan pada material dan konstruksi busana. Tencel menjadi salah satu material yang digunakan untuk menciptakan sensasi ringan dan breathable. Eksplorasi draping, statement button, barrel sleeve, asymmetric cut hingga detail rok menghadirkan permainan volume yang sophisticated.

Koleksi tersebut dirancang bukan hanya untuk terlihat menarik di depan kamera, tetapi juga bergerak bersama pemakainya. Filosofi tersebut berangkat dari pandangan Sara terhadap perempuan Indonesia yang memiliki bentuk tubuh dan warna kulit yang beragam.

“Main key-nya adalah she is very confident when she wear Kaingara Ready to Wear. Jadi movement-nya nyaman, dia pede, jadi statement juga,” ujarnya.

Harga koleksi dimulai dari sekitar Rp800 ribu, sementara jangkauan konsumennya dibuat seluas mungkin. Sara melihat Kaingara dapat dikenakan lintas generasi, selama pemakainya mampu menemukan siluet yang sesuai dengan karakter personal.

“Dari Gen Z ada, Boomers juga ada. Jadi hampir di semua kalangan usia masih bisa pakai Kaingara Ready to Wear,” ungkapnya.

Yuri Oktavia, salah satu pengunjung, menjadi bagian dari konsumen yang melihat daya tarik tersebut secara langsung. Ia menilai Kaingara memiliki kemampuan memadukan estetika edgy dan kontemporer dengan kenyamanan.

“Menurut saya Kaingara itu bukan cuma satu fashion design yang edgy dan kontemporer, tapi mereka bisa membuat satu material yang benar-benar comfortable,” kata Yuri.

Pengalaman tersebut semakin menarik bagi Yuri karena ia dapat menemukan pilihan custom fit untuk tubuh petite. Menurutnya, oversized look yang ditawarkan Kaingara juga memberikan keleluasaan bagi perempuan untuk bereksperimen dengan penampilan.

Sebagai penggemar Korean fashion, Yuri melihat adanya karakter yang sejalan dengan gaya tersebut pada beberapa koleksi Kaingara. “Menurut aku Kaingara itu kurang lebih fashionnya serupa dengan mereka. Jadi aku suka banget,” ujarnya.

Sementara itu, Sara menekankan bahwa memilih fashion seharusnya tidak semata-mata berdasarkan apa yang terlihat di layar. Ia mendorong konsumen untuk mengalami busana secara langsung, mulai dari merasakan tekstur material hingga mencoba siluetnya.

“You should feel, you should touch the fabric, you should see directly by your eyes, and then try first, no need to buy, just try,” pungkas Sara.

Dengan perpaduan craftsmanship, produksi terbatas, material yang nyaman, serta desain statement yang tetap wearable, Kaingara Ready to Wear membawa interpretasi baru terhadap fashion lokal: lebih personal, lebih eksklusif, dan dirancang untuk perempuan yang ingin terlihat stylish tanpa kehilangan dirinya sendiri. ich

Read more

NEWS