Jakarta, channelsatu.com:Sekarang ini, boleh jadi nama Benni Setiawan adalah sutradara film yang kariernya demikian cepat melambung, dan sudah masuk papan atas dalam peta perfilman Indonesia.
Setidaknya tidak henti-hentinya menyutradarai, begitu produktif, dan terus menerus digadang-gadang produser, karena memiliki nilai jual.
Bisa jadi pula Benni Setiawan merupakan penglaris, laku tidaknya sebuah film. Selama ini faktor bintang yang menjadi penentu larisnya karya film. Namun, bisalah dipahami situasi sudah berubah sertamerta perubahan harus bergulir, maka sutradara sebagai koki adalah tuntutan produser. Dan nama Benni merupakan jaminan.
Dari film yang bertajuk Bukan Cinta Biasa yang dirilis 2009, dengan waktu yang cepat, haruslah diakui karier Benni makin berkilau. Dari judul ke judul lain yang ditangani, tanpa semenit pun menarik nafas untuk jeda, Benni menggelinding bagaikan meteor. Produser pun antre meminang, supaya Benni berkenan menyutradarai.
Apa film terakhir Benni , susah untuk menyebut. Begitu menyebut judul Cahaya Kecil, misal, yang bakal beredar September 2013, ternyata masih ada film dengan judul lain yang disutradarai, serta film yang masih dikerjakan. Sungguh betapa produktifnya sang sutradara terbaik FFI (Festival Film Indonesia ) 2013 (3 Hati 2 Dunia 1 Cinta) ini.
Saat ini Benni memang memiliki nilai jual. Sementara film yang disutradarai bisa dikata masih terselimuti misteri, apakah karya Benni bakal disaksikan banyak orang. Bagaimanapun semuanya itu penuh teka teki. Perhitungan di atas keras, karya Benni tergolong mumpuni. Rata-rata kisah yang dibesut menghibur dan membuat orang –orang tergiur untuk menonton. Tapi hitungan di atas kertas, berbeda dengan situasi lapangan yang susah diprediksi.
Tidak tahu apakah Cahaya Kecil (sengaja dijadikan contoh kasus) bakal menjadi film laris, semoga saja. Mengingat cerita film itu memukau, dan sebagai koki Benni membesutnya secara piawai,apalagi skenario ditangani Titien Wattimena. Di atas kertas bahwa film ini akan mengundang minat orang untuk nonton ke gedung bioskop.
Diharapkan sekali demikian. Btapa Benni mempunyai nilai jual, termasuk Titien punya nilai jual, serta kisah Cahaya Kecil pun menjual,lantaran terdapat nuansa musik yang kental dan menjadi daya tarik sendiri. Lirik lagu yang disajikan dalam Cahaya Kecil pun menyentuh, sebagaimana kisah film tersebut yang menyoroti masalah kasih sayang antara ayah dan anak.
Dituturkan tentang anak muda yang terpaksa berhenti kuliah, lantaran ayahnya penyanyi terkenal masuk penjara, gara-gara narkoba. Anak muda itu kehilangan semuanya. Ia akhirnya marah. Marah pada keadaan. Marah pada dunia. Marah pada ayah yang dulu dicintai dan dikagumi.
Pastilah Benni membesut Cahaya Kecil dengan gaya khasnya, ritme dramatik yang hati-hati dan alur cerita terjaga, sehingga penonton terlena .Di luar masalah tersebut, dan berkaitan dengan nilai jual Benni, tentu segalanya mestilah diuji, apakah Cahaya Kecil bakal diminati penonton? Semoga saja penonton berbondong datang ke gedung bioskop, September nanti. Meski semua tahu bahwa selera penonton susah dipredisksi ( Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis dan penggemar setiap film Indonesia ). Foto: Istimewa.
