Jakarta, Channelsatu.com – Di tengah dinamika isu global yang bergerak cepat, Bella Fawzi memilih tetap berada pada jalur yang sama: menyuarakan solidaritas untuk Palestina melalui karya musik. Kehadirannya dalam Iftar Bersama Friends of Palestine (FoP) ke-3 di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026), menjadi bagian dari komitmen tersebut.
Bagi Bella, forum buka puasa bersama bukan sekadar ajang temu publik figur. Ia melihatnya sebagai ruang konsolidasi gagasan dan evaluasi langkah gerakan yang telah ia bangun sejak dua tahun terakhir bersama sejumlah musisi dan kreator.
Gerakan itu dikenal dengan nama “Tanah Para Nabi Movement”, sebuah inisiatif kolaboratif yang lahir dari diskusi kecil pada 2024.
“Oke, jadi sebenarnya Tanah Para Nabi Movement ini adalah satu gerakan ya, yang isinya tuh adalah campuran musisi, influencer, para seniman yang peduli terhadap isu Palestina. Sebenarnya tuh Tanah Para Nabi Movement itu isinya banyak. Jadi waktu itu kita pada tahun 2024 ya, sama Kak Fia sama Kak Anisa Theresia, jadi kita bertiga tuh kayak rembukan bikin lagu judulnya ‘Tanah Para Nabi’,” kata Bella.
Dari satu lagu, gerakan tersebut berkembang menjadi proyek kolaborasi yang melibatkan banyak nama di industri musik. Bella menilai pendekatan kolektif penting agar isu kemanusiaan tidak dibawa secara individual, melainkan melalui kekuatan jaringan.
Ia juga menekankan bahwa keberagaman genre menjadi strategi agar pesan solidaritas dapat diterima lintas komunitas pendengar. Pop, jazz, hingga rap dipertemukan dalam satu produksi dengan tujuan yang sama.
“Jadi ada Chiki, ada Kak Lala Karmela, ada Rebecca Reijman, ada Dira Sugandi, ada Mas Fadly Padi, terus ada Teh Melly Goeslaw, Eka Deli, Endah Widiastuti, Sandhy Sondoro, Kojek Rap Betawi, sampai Nada Sikkah. Dari berbagai macam genre kita berhasil mengadakan kolaborasi itu,” ujarnya.
Bella menilai konsistensi merupakan tantangan terbesar setelah perhatian media mulai bergeser. Ia mengakui bahwa gencatan senjata kerap membuat publik merasa situasi telah sepenuhnya pulih, padahal kebutuhan kemanusiaan masih berlangsung.

Karena itu, ia memilih menempatkan karya sebagai medium jangka panjang. Lagu, menurutnya, memiliki daya tahan yang berbeda dibandingkan kampanye sesaat di ruang digital.
“Ke depannya kita kepengen bisa bikin kolaborasi yang lebih berdampak dan lebih masif lagi. Karena selama Palestina itu masih dijajah, selama itu juga kita harus terus bersuara. Karena dulu Indonesia juga nggak bisa merdeka kalau nggak didukung oleh Palestina,” tutur Bella.
Ia juga menyadari bahwa sebagai musisi, kontribusinya memang berada di ranah kreatif. Namun, ia tidak memandang peran tersebut sebagai sesuatu yang kecil, melainkan bagian dari ekosistem dukungan yang saling melengkapi.
“Kita sebenarnya sih pengen terus menyebarkan awareness ya, dan juga terus menyuarakan melalui karya. Karena kami sebagai musisi, yang kami bisa lakukan adalah ya melalui karya kami bersuara,” ucap Bella.
Di sisi lain, Pimpinan Eksekutif Friends of Palestine, Rayyan Abdallah, menegaskan bahwa dukungan para figur publik membawa dampak signifikan terhadap penyebaran pesan solidaritas. “So the main important thing is already happen, Alhamdulillah, which is the program already succeeded. Malam ini kita ada 300 influencer dan celebrity, dan mereka datang karena percaya pada satu hal, yaitu kebebasan untuk Palestina,” kata Rayyan, menutup rangkaian kegiatan malam itu.
