BAJAJ, JAKARTA , DAN PEMEKARAN

Share

Jakarta,channelsatu.com: Rasa-rasanya Bajaj, jenis kendaraan umum roda tiga, tidak bisa dipisahkan dari keberadaan kota Jakarta.  Demikian pula Jakarta membutuhkan sekali adanya Bajaj, suka atau atau tidak.  Kenyataannya warga Jakarta sudah begitu akrab dengan Bajaj. Keterlaluan sekali warga Jakarta jika tidak kenal Bajaj.

Bajaj dikenal pintar menyelip (selain ojeg) kepadatan jalanan di Jakarta.  Kendaraan umum ini sangat gesit keluar masuk gang dalam menembus kemacetan Jakarta yang semakin parah, awut-awutan dan semrawut. Juga terasa tangkas dibanding taksi, serta murah tarifnya (meski mesti tawar menawar).

- Advertisement -

Dua tahun lalu Bajaj mengalami metomorfosis. Dulu Bajaj bericira khas, yakni mengeluarkan asap yang mengempul dari knalpotmya, tapi kini banyak ditemui Bajaj yang ramah lingkungan. Warana Bajaj yang ramah lingkungan ini berubah, tetap saja  mencolok, yaitu biru ngejrenng dari warna lama yakni merah menyala.

Dengan bahan bakar gas, Bajaj werna biru ini selain ramah lingkungan, jelas tidak berisik dan tak bergetar. Dengan kapasistas 185 cc, Bajaj yang berbahan bakar gas (BBG) lajunya cepat ketimbang pendahulunya. Kehadiran Bajaj berbahan bakar gas ini setidaknya merupakan harapan bagi warga Jakarta. Mengingat Jakarta yang penuh sesak, sehingga diperlukan transportasi murah ( karenanya harus pintar-pintar menawar, supaya lebih murah dengan  ongkos taksi yang tarifnya berdasarkan argometer ) tapi nyaman.

Betapa Jakarta terus bergulir, menggelinding yang tidak  mengenal berhenti, artinya berubah terus berubah dan sepertinya tak punya standar baku mengenai tata ruang kota, yang akhirnya semuanya bisa dilanggar.  Sejarah kota Jakarta tentu sangat panjang. Namun nama Jakarta dipakai saat Perang Dunia II, Maret 1942, saat Jepang masuk ke Pulau Jawa.

Saat itulah Japang menghentikan pembangunan dan pemekaran Batavia. Tentara Dai Nippon  langsung menggantikan nama Batavia menjadi Djakarta Toko Betsu Shi, walau penggantian tersebut dianggap propaganda. Masuk Batavia, tentara Jepang  menguasai beberapa bangunan, termasuk hotel, yang kemudian dijadikan barak, serta menghancurkan patung JP Coen.

- Advertisement -

Ketika itu yang menjadi walikota adalah Soewirjo , sedang  wakil kota ada dua orang , yang keduanya dijabat orang Jepang. Jelas langkah propaganda. Sebaliknya di sisi lain, saat Jepang  menguasai Jakarta  , justru yang terjadi membuat kerusakan kota. Sisi lainnya lagi adalah , sebelum Jepang menguasai Jakarta, pihak Belanda telah melakukan perluasan.

Tatkala Jepang meninggalkan Jakarta karena kalah perang, sertamerta Belanda kembali dengan membonceng tentara sekutu, dan tidak mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia, sehingga pecahlah Perang Kemerdekaan, maka Belanda –sebagai pemerintah pendudukan  meneruskan rencananya, yaitu  melakukan penataan dan pemekaran Batavia.

Pemekaran kota Batavia alias Jakarta pada waktu itu ke wilayah selatan lapangan Merdeka, kira-kira delapan delapan kilometer.  Tapi diurungkan, karena wilayah yang bakal dijadikan pemekaran akan dijadikan lapangan terbang internasional menggantikan Bandara Kemayoran. Perlu diketahuiBandara Kemayoran didirikan menjelang Perang Dunia II.

Pemekaran pun lantas dialihkan ke daerah timur,  persisnya wilayah Kebayoran dengan luas 730 hetar. Wilayah pemekaran itu memang dihubungkan dengan jalan raya bagi kendaraan bermotor, dan bersinggungan  (tepinya) dengan jalan kereta api Tanahabang- Serpong.

Pemekaran pertama tekah dilakukan,  yang diserahkan pada M. Soesilo, insinyur Centeral Planologisch Bureau (Biro Pusat Planologi. Dan semenjak itulah istilah Kota Satelit Kebayoran dikenal.  Terus Februari 1949 rencana Kebayoran selesai. Kini wilayah Kebayoran berkembang pesat, praktis menjadi wilaah yang sesak juga.

Pada saat inipun, juga di wilayah Kebayoran (Baru), Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Melawai, Blok M, Pasar Mayestik, Pasar Kebayoran Lama, sampai Cipulir, berlalu-lalang alias berseliweranlah kendaraan Bajaj. Menariknya Bajaj yang hilir mudik itu punya ciri, ada tulisan inisial HS entah pada body, kap penutup atau kaca bagian depan.

Inisial HS merupakan kepanjangan dari Haji Suwarsa, asal kota Tegal, Jawa Tengah.  Setiap hari Bajaj HS  (kebanyakan buatan tahun 1973) yang beroperasi di jalanan  lebih dari 150 unit. Sungguh luar biasa, dan patut angkat jempol. Haji Suwarsa merintis sebagai juragan Bajaj sejak tahun 1975. Tahun 2011, Maret, kepemilikan Bajaj HS dikelola Karsa (44 tahun), putra Suwarsa.

Mau tahu berapa pendapatan yang diraup Bajaj HS? Karsa tidak membuka kartu. Namun Karsa memberikan penjelasan tentang biaya perawatan Bajaj  perhari, untuk setiap unit, sebesar tigapuluh lima ribu rupiah. Jadi kalikan saja biaya sebesar itu dengan 150 unit. Wow, banyak juga penghasilannya menjadi pengusaha Bajaj. Wow, kelewatan sekali warga Jakarta tak mengenal Bajaj, yang nyata-nyatanya tidak bisa dipisahkan dari Jakarta. ( Syamsudin Noer Moenadi, Jurnalis dan redaktur ChannelSatu.com).

 

Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS