Andi Auriec dari Jingle ke Mini Album

Share

Jakarta, channelsatu.com: Palu ( Sulawesi Tengah ) ternyata menjadi basis  berkarya musisi di Indonesia Timur. Satu diantaranya Andi Auriec – multi instrumentalis, pencipta lagu dan penyanyi, kini merilis mini albumnya, Sampai Mati.
Palu Punya Nyali Musisi.
‘Kami di Palu sebenarnya bisa besar karena spirit kerja kami sendiri. Misalnya, jika ada musisi bentuk band, oleh teman musisi lainnya gak pernah dipuji, sehingga punya niat buat memperbaiki. Musisi Palu juga salalu tertinggal dengan teknologi, gak bisa baca not, gak kenal alat canggih, jadi jika berkarya banyak mengandalkan feeling dan harus jujur, kunci inilah yang justru bikin musisi Palu sukses, karena punya karakter lewat kerja keras, ‘  ujar Andi Auriec membuka percakapan.

Musisi asal Palu yang sudah go national lewat musik antaralain Reza dari NOAH, ada bassist Steven Coconut Trees, Palu juga punya Pasha vokalis Ungu dan ada gitaris Slank Abdee Negara, “Dan saya boleh bangga, karena  pernah main bareng Ungu dalam show besar  Pasha dan Ungu di Palu beberapa tahun lalu. Waktu itu saya bukan apa-apa dibanding Pasha yang sudah main sampai Australia, “ kata Auriec.

Baginya, para senior yang sukses itu adalah inspirator. Auriec mempelajari kunci suksesnya, yakni harus memiliki karakter sendiri, “Teman-teman  bilang, kamu bisa nyanyi, dan Nyokap saya juga mengatakan hal yang sama, “ kata Auriec menirukan kata teman dan Ibunya.

- Advertisement -

Pada tahun 2003, Auriec dipaksa  menyadi vokalis di band baru yang dikasih nama Kasat. ‘Kasat ini artinya jelas, atau terang. Dulu sebelum tahun 2003 an itu, anak muda Palu gak mau dengar band lokal bawain lagu ciptaan sendiri, Kasat yang memulainya. Kasat adalah band indie pertama di Palu yang ngotot bawain lagu ciptaan sendiri, dan akhirnya pencinta musik Palu terima sebagai karya cipta anak muda Palu yang layak didengar. Logikanya, apa bedanya kami ini dengan Pasha, Reza, Abdee dan musisi lain asal Palu, kan mereka juga bawain lagu ciptaan sendiri, “ lanjut Auriec.
Jingle  ‘Ancol Beach City’ & Camelia Malik

Adalah Sofie Abidin yang berjasa menemukan Andi Auriec di tengah riuhnya band di komunitas indie. “Saya diminta Pak Fredie Tan, mencari pembuat jingle Ancol Beach City Mall dan area pantainya yang indah. Saya ingat pada anak muda yang pernah bikin lagu buat teman saya, Mas Auriec ini. Saya minta dia datang ke Ancol Beach City, dan saya minta bikin jingle. Dia bingung, karena gak pernah bikin jingle iklan, Tapi tatkala 2 hari kemudian jingle itu jadi, Pak Fredie malah  suka sekali, “Saya suka jingle ini, mana pencipta lagunya?” Saya pertemukan Auriec dengan Pak Fredie,” kata Sofie.
“Kesan pertama yang saya ingat dan tetap akan saya patuhi adalah, jabat tangan yang keras dari PAK Fredie dan pesan Beliau : ‘Jangan pernah menyentuh narkoba, mari kita kerjasama, “ lanjut Auiriec.

Melihat bakatnya, Fredie tertarik untuk merekam suara dan karya lagu Auriec. Demo tape berisi banyak lagu ciptaannya dibawa Sofie dan diserahkan pada Camelia Malik. Penyanyi senior ini diminta jadi supervisi rekaman, “Bunda Camelia Malik memberi saran agar materi album lebih bervariasi, dan temukan karakter vocal. Bunda Mia juga kamil libatkan dalam proses produksi mini album ini, “ pengekuan Auriec.

Andi Auriec sendiri sudah punya 50 lagu yang ‘layak rekam’, tapi yang direkam cuma 6 lagu, mini album. ‘Seharusnya album utuhnya bercerita tentang percintaan laki-laki dan perempuan, tapi kami pilih yang ini dulu. Kalau sewaktu-waktu dibutuhkan, sudah siap dengan mini album kedua,’ kata penggemar The Beatles ini. Yang unik, dari 6 lagu yang direkam, single ‘Sampai Mati’ dibikin 2 versi : versi nge-band yang berintro gitar akustik dijadikan first single dengan video klip garapan Robby, sedang ‘Sampai Mati’ versi piano yang lebih mellow, jadi bonus track bersama  jingle Ancol Beach City.
Cari Band Indie Bebas Narkoba

- Advertisement -

Lagu  ‘Sepertinya’ pada  track pertama, dibuka dengan gitar berdistorsi, kecenderungan pada musik pop rock yang nge-groove karena kocokan gitarnya. Karakter vokal Auriec kuat, ada ‘suara asli dan falsetto’ di lagu ini. Satu teknik menyanyi yang juga dimainkan Auriec pada lagu ‘Sampai Mati’ versi nge-band dan ‘Sampai Mati’ versi piano yang mellow. Pada ‘Cinta Gila’ dengan intro piano, Auriec  sukses bermain di wilayah musik dengan harmoni yang indah, pakai string section dari keyboards instrument.  Kekuatan melodi dan harmoni ‘Cinta Gila’, sangat bersaing dengan first single ‘Sampai Mati’ versi nge-band.  ‘Kami rekomendasikan Cinta Gila bisa jadi second single, “ kata Sofie Abidin.
Lalu, boleh dengar lagu ‘Andai Ku Mencoba’ yang berlirik puitis. Lagu medium beat ini menggali warna musik funk pop, dengan petikan gitar elektrik dan rhythm section bass dan drum ( dimainkan dengan konsep MIDI ) yang harmonis. ‘Pada ‘Jangan Hapus Aku’ yang berintro drum dan piano, lagi-lagi petikan gitar rock terdengar.

‘Saya memang pernah membentuk grup underground antara tahun 1998 sampai 2001, tapi seiring dengan kesadaran pengen bikin karya lagu sendiri, saya mulai belajar tentang harmoni, cari progresi chord yang kelihatannya mudah, tapi susah dimainin orang lain, “ kata Auriec. ‘Bahkan saya sendiri sempat re-take waktu merekam lagu Cinta Gila dan Andai Ku Mencoba. Dua lagu itu indah hasil akhirnya, tapi gak mudah waktu bikinnya, “ jelas Auriec  sambil melepas tawa.

Mengaku memainkan semua  alat musik – bas, gitar akustik, gitar elektrik, piano / keyboards, cabassa – maupun software buat string  dan drum MIDI, boleh dibilang, Andi Auriec termasuk multi instrumentalis macam Fariz RM. Apalagi ia juga menjadi arranger, pencipta lagu sekaligus sound engineer dan melakukan mixing-mastering sendiri untuk mini album ‘Sampai Mati’, satu pekerjaan yang berani dan tak mudah dilakukan oleh pendatang baru.

‘Saya ingin, suatu saat nanti, Auriec  bisa memainkan isi album rekamannya ini dengan live orchestra, biar lebih menonjol keindahan aransemennya,“ kata Fredie Tan, yang memutuskan membuka label rekaman ‘Ancol Beach City’ untuk menampung bakat Andi  Auriec ini. “Bakat bermusik Auriec memberi inspirasi bagi saya, bagaimana mengembangkan Ancol Beach City ini benar-benar menjadi lifestyle mall di Indonesia, ada restoran, supermarket, tempat bermain, gedung pertunjukan  indoor dan megah, juga ada tempat manggung band-band indie di pinggir pantai, di alam terbuka, “ kata Fredie Tan lagi. Dan di Ancol Beach City memang ada gedung pertnjukan megah Mata Elang International Stadium yang dibangun Hendra Lie, dan ada panggung megah di bibir pantai, outdoor.

‘Kami sedang merencanakan akan membuat Kompetisi Band Indie di panggung besar di pinggir pantai di area Ancol Beach City, dari sana hasilnya kami rekam, menjadi generasi penerus Andi Auriec. Pak Fredie bilang, asal musisi itu benar-benar berbakat, punya karya yang orisinal, layak rekam, dan gak pakai narkoba, maka akan ada Auriec-Auriec baru di Ancol Beach City divisi rekaman, “kata Sofie Abidin.

Andi Auriec lahir di Palu 8 September 1984. Pada klas 4 dan 5 SD, Auriec kecil sudah menjadi juara pertama Lomba Penyanyi Anak di Palu. SMA klas satu, ia mulai menulis lagu untuk keperluan sekolahnya. Tahun 2004, Auriec pindah ke Surabaya dan kursus gitar, tahun 2006 hijrah ke Jakarta bersama grup Kasat dan sempat membuat  rekaman di Virgo Ramayana  ( 2007 ) dan tahun 2010 membangun band Newstar sempat merilis single ‘Sampai Mati’ melalui youtube.

Pada peluncuran mini album Sampai Mati di panggung Ancol Beach City ini, Auriec dibantu oleh gitaris rock Beng Beng dari Pas Band, Bandung. ‘Saya pengen bersosialisasi dengan banyak kalangan musisi, lintas genre, seperti minta bantuan Bunda Camelia Malik pun saya lakukan, “ kata Auriec menutup wawancara.(ibra)

Redaksihttps://channelsatu.com/
News and Entertainment

Read more

NEWS