Jakarta, Channelsatu.com – Aksi panggung seni di Kota Tua Jakarta mendadak berubah menjadi panggung solidaritas ketika UMKM Konveksi Sinergi ADV Nusantara menggelar pertunjukan kreatif sebagai bentuk dukungan terhadap langkah tegas pemerintah memberantas impor pakaian bekas ilegal. Suasana wisata malam yang biasanya dipenuhi pengunjung kini dipadati komunitas UMKM dan pecinta seni yang bersatu menyuarakan perlindungan industri konveksi lokal. Momentum ini menjadi perayaan harapan baru bagi pelaku usaha kecil yang selama bertahun-tahun terpukul oleh masuknya produk ilegal dari luar negeri.
CEO Sinergi ADV Nusantara, H. Prama Tirta, tampil menyampaikan apresiasi di tengah kerumunan yang antusias. Ia menegaskan bahwa kebijakan pemerintah telah membuka peluang segar bagi para pelaku usaha untuk kembali bangkit setelah lama terdesak oleh maraknya pakaian bekas impor. Dengan nada emosional, ia mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut memberi cahaya baru bagi jutaan pekerja yang menggantungkan hidup pada sektor konveksi lokal.

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan ruang besar untuk menciptakan lapangan kerja, bukan limpahan pakaian bekas yang merusak harga pasar dan mematikan produksi dalam negeri. Pernyataan itu disambut sorakan dukungan dari komunitas UMKM yang hadir sambil membawa poster aspirasi. Kesan emosional semakin terasa ketika para pengunjung mengabadikan momen ini dan membagikannya di media sosial sebagai bentuk dukungan gerakan industri lokal.
Prama juga menyampaikan terima kasih kepada jajaran pemerintah yang dianggap berperan penting dalam mengambil langkah tegas, mulai dari Menteri UMKM, Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, hingga Kapolri. Dalam gaya penyampaian yang mirip testimoni dokumenter, ia menegaskan bahwa kebijakan yang konsisten dan penegakan hukum yang kuat adalah kunci penyelamatan industri tekstil mikro dan kecil.

Aksi panggung seni ini menjadi simbol bahwa perlawanan terhadap impor pakaian bekas ilegal tidak selalu hadir dalam bentuk demonstrasi konvensional. Sebaliknya, UMKM memilih panggung kreatif yang merangkul masyarakat lewat musik, seni pertunjukan, dan aktivitas budaya yang dekat dengan publik urban. Arah komunikasinya terasa seperti penyampaian pesan sosial lewat visual performance.
Di tengah alunan musik yang menggema dan mendayu dayu dari grup band beraliran punk yakni Bersama MArjinal, Orkes Melayu Trotoar Jalanan serta diramaikan dengan penampilan para model Citayam Gank yang viral pada masa fenomena Citayam FAshion Week yang dikomandoi oleh Bonge dan Jeje Slebew ikut mengisi area Kota Tua, pesan yang ingin diangkat semakin mengalir kuat: UMKM ingin hidup, bukan tenggelam oleh volume pakaian bekas impor yang terus masuk. Pengunjung terlihat menikmati pertunjukan sambil menyimak pesan moral yang mengalir dari setiap aksi yang ditampilkan.

Acara ini diakhiri dengan seruan bersama untuk terus mengawal kebijakan pemerintah dalam memberantas impor ilegal. Seruan yang menggema layaknya akhir film dokumenter tentang perjuangan kelompok kecil yang tak menyerah melawan arus besar. Energi solidaritas ini sekaligus menjadi penanda bahwa pertunjukan seni mampu menjadi medium advokasi yang elegan, efektif, dan mengangkat martabat UMKM lokal.
Dengan dukungan masyarakat dan kebijakan pemerintah yang tegas, pelaku UMKM berharap industri konveksi mampu kembali tumbuh dan menciptakan rantai ekonomi yang lebih sehat. Aksi kreatif di Kota Tua menjadi simbol awal kebangkitan itu, sekaligus cara baru menyampaikan perlawanan melalui elemen hiburan, budaya, dan ekspresi publik. ich
