Jakarta, Channelsatu.com – Single “Jika Memang” memiliki kedekatan emosional tersendiri bagi Karyn. Meski liriknya berbicara tentang kehilangan karena kematian, Karyn mengaku lagu ini sangat relevan dengan pengalaman pribadinya saat menghadapi patah hati yang mendalam.
“Kenapa lagu ini relate banget sama aku? Karena waktu itu aku lagi patah hati. Jadi pas nyanyiin lagu ini, rasanya dapet banget,” ujar Karyn.
Proses perkenalan lagu ini dimulai saat Ary Dowenk Oceano memperdengarkan syair lagu kepada Karyn. Tanpa proses panjang, Karyn langsung merasa terhubung, bahkan mampu menghafal bagian reff hanya dengan sekali mendengar.
“Pas pertama denger, aku langsung hafal reff-nya. Dari situ aku ngerasa, kayaknya lagu ini cocok banget buat aku,” ungkapnya.
Proses rekaman “Jika Memang” memakan waktu sekitar satu bulan. Karyn menyebut tidak ada momen dramatis khusus selama produksi, namun justru kesederhanaan proses itulah yang membuat lagu ini terasa jujur.
Secara emosional, lagu ini memuat perasaan marah, sedih, dan tidak siap kehilangan, perasaan yang menurut Karyn sangat manusiawi, terutama bagi perempuan seusianya.
“Sebenernya nggak mau kehilangan, tapi harus menerima. Itu yang bikin lagu ini dapet banget di hati aku,” kata Karyn.
Melalui lagu ini, Karyn berharap pendengar, khususnya perempuan muda, bisa merasa terwakili dan menemukan kekuatan untuk perlahan merelakan.
“Walaupun kita nggak siap, tapi pelan-pelan kita harus siap,” tuturnya.
“Jika Memang” menjadi bukti bahwa musik bisa menjadi medium refleksi yang kuat bagi luka emosional. ich
