Rabu , 14 November 2018
Home / PELUANG / Inspirasi Usaha / SONGKET PALEMBANG ATAU ZAINAL SONGKET

SONGKET PALEMBANG ATAU ZAINAL SONGKET

Jakarta,channelsatu.com:Duapuluh tahun lalu saya pernah tinggal lama di kota Palembang, Ibukota Provinsi Sumatra Selatan yang kerap pula dikenal sebagai Daerah Batanghari Sembilan. Sebab di kawasan provinsi tersebut terdapat 9 sungai besar yang dapat dilayari sampai jauh ke hulu.

Kesembilan sungai itu, yakni Sungai Musi, Ogan, Komering, Lematang, Kelingi, Rawas, Batanghari, Leko dan Lalan serta puluhan lagi cabangnya. Pada waktu itu bekerja di perusahaan media, dan saya tinggal di wilayah tengah kota, tidak jauh dari sebuah butik yang menjajakan kain songket Palembang.

Jika usai dari kantor, saya sering kali dan menyempatkan bertandang ke butik yang tidak memiliki nama itu, tapi banyak sosialita Palembang, termasuk dari Jakarta yang datang, serta tentunya  membeli alias memborong songket Palembang yang memiliki ciri khas.

Apa ciri khas songket Palembang? Tidak lain memiliki warna-warnanya yang bernuansa merah emas dan motifnya begitu indah. Ibarat gelar, songket Palembang mendapat gelar sebagai ratunya kain tenung. Dulu kain songket di Palembang dikenakan oleh keluarga kerajaan dan kaum bangsawan. Namun sekarang,lantaran perkembangan zaman sudah mengkhalayak.

Kini kain songket sudah keluar dari kerajaan, dan menyebar kemana-mana. Hanya saja  pengrajin songket, umumnya masih keturunan kerajaan atau bangsawan. Kenapa?  Karena keterampilan menenun songket memang diperoleh dari secara turun temurun. Kendati saat inipun banyak juga kalangan masyarakat biasa  yang menenun songket.

Kain songket Palembang merupakan warisan Budaya Indonesia yang memperlihatkan seni dan keindahan.Teknik pembuatannya membutuhkan keahlian serta kecermatan,sehingga bernilai jual tinggi. Lebih-lebih diperlukan waktu minimal tiga bulan untuk menenun helai demi helai  benang sutra sebelum akhirnya menjadi selembar kain.

Motif hias songket Palembang biasanya berbentuk geomentris atau berupa aplikasi Flora maupun fauna yang memiliki perlambangan seperti motif bunga melati, bunga mawar, bunga cengkeh, bunga tanjung  yang melambangkan kesucian, keanggunan, rezeki dan lambang segala kebaikan.

Bahan dasar songket tidak lain benang, baik benang kapas ataupun benang sutra. Untuk songket berkualitas jelas dibuat dari benang sutra putih yang masih impor dari China, Thailand atau India. Adapun benang emas itu terdiri dari tiga macam. Yaitu  benang emas Sartibi dari Jepang, benang emas Bangkok dan benang emas cabutan.

Benang emas cabutan ini  berasal dari benang emas katun yang dicelupkan dalam larutan emas 24 karat. Pengrajin songket mendapat benang emas cabutan biasanya didapat dari kain songket antik yang sebagian kainnya sobek, lalu diurai kembali. Cara pembuatan songket Palembang memang rumit. Sebelum ditenun, benang diberi warna dengan cara dicelupkan pada warna yang diinginkan.

Dulu kain songket dicelup menggunakan pewarna alami, menggunakan kayu sepang dan akar mengkudu untuk mendapat warna merah dan kunyit untuk warna kuning. Saat menyelup, biasanya ditambah tawas, supaya tidak luntur. Perlu diketahui songket Palembang didominasi warna merah. Sebaliknya soal warna bervariasi,lantaran menggunakan pewarna tekstil.

Usai dicelup,terus dijemur,dan setelah kering dimulailah proses desain, istilah Palembang ialah pencukitan dengan menggunakan lidi yang sesuai dengan motif yang diinginkan yang kemudian dilanjutkan  dengan ditenun. Proses menenun itulah diperlukan  ketelitian, ketekunan dan kesabaran.

Betapa resehnya membuat songket Palembang ini Diakui menenun tidak dapat dilakukan terburu-buru. Pasalnya hasil nantinya tidak bagus. Menenun musti dilakukann sepenuh hati, mengingat proses pembuatan songket perlu waktu lama. Sejarah mencatat kerajinan songket Palembang dimulai sejak zaman kerajaan Sriwijaya. Mulanya bahan yang digunakan kulit kayu,rajutan daunan, yang akhirnya dari bahan kapas sebagai bahan dasar pembuatannya.

Abad ke-7 sampai abad ke-11 Masehi, Palembang yang pusat kerajaan Sriwijaya pastilah punya pelabuhan yang menjadi tempat persinggahan berbagai budaya dari Portugis, China, dan Srilangka. Persinggahan budaya tersebut sejatinya mempengaruhi motif dan corak kain songket. Pengaruh dari China, yaitu warna merah dan keemasan justru,kini, menjadi ciri khas songket Palembang.

Adalah Zainal Arifin, lebih dikenal Zainal Songket, putra asli Palembang  yang mewarisi kepiawaian menenun songket turun temurun dari keluarga yang juga tokoh pelestari songket Ki Agus Haji Husin Rahman dan Nyanyu Cek Ipah. Zainal mulai belajar seni menenun songket sejak usia 8 tahun.

Sekarang ini kerja keras dan komitmen dalam melestarikan songket selama 30 tahun sungguh membuahkan hasil.  Tahun 2008, tatkala Laura Bush, ibu negara Amerika Serikat, berkunjung ke Bogor, 2 November 2008 memberikan penghargaan kepada Zainal Arifin atas ketangguhan yang tidak mengenal lelah dalam melestarikan songket Palembang.

Tidak dipungkiri begitu  menyebut songket Palembang tidaklah lepas dari nama Zainal Songket. Makanya kalangan kolektor kain tenun banyak yang bergurau bahwa songket Palembang itu tidak  lain Songket Zainal. Apa keunikan Songket Zainal? Zainal tidak hanya sekadar merancang motif, melainkan menjadi busana anggun dan modern, tanpa menghilangkan esensi tradisional maupun songket itu sendiri.

Masih banyak langkah yang ditempuh Zainal dalam melestarikan songket? Zainal ingin mempertahankan keindahan songket sepanjang zaman tanpa mengenal kata musiman,dan tentunya ingin menjaga warisan budaya asli Indonesia. Sungguh mulia yang Zainal Arifin lakukan. ( Syamsudin Noer Moenadi, jurnalis, esais dan Redaktur ChannelSatu.com ). Foto: ist.

About ibra

Check Also

Lara Silvy. Foto: ist.

Artis Penyanyi Lara Silvy Buka Usaha Kuliner

Jawa Timur, channelsatu.com: Warung E Lara yang menunya didominasi masakan khas Jawa Timur, baru saja …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *